No Surrender : My Thirty Years War – Hiroo Onoda

no surrender

Waktu itu tahun 1942, Perang Dunia II sedang meletus di berbagai belahan dunia. Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu, setelah kota industry Hirooshima dan Nagasaki di bom oleh Amerika Serikat. Manchuria, negara boneka bentukan Jepang juga diserang oleh Uni Soviet. Jepang terdesak, lalu menyerah. Buku ini menceritakan tentang seorang prajurit Jepang, Hiroo Onoda, yang tetap lanjut bertempur, dengan keyakinan Jepang belumlah kalah.

Hiroo Onoda, adalah seorang prajurit intelijen Jepang, yang bertempur di front Asia, dia ditugaskan di pulau Lubang, Filipina pada 26 Desember 1944.  Hiroo Onoda lahir pada tahun 19 Maret 1922 di Kainan, prefektur Wakayama, Jepang. Sebelum masuk ke dalam struktur militer Jepang, Onoda sempat berkerja di Wuhan, China. Sebelum akhirnya masuk ke dalam bagian dari militer Jepang dan dilatih untuk menjadi seorang intelijen di Futamata.

Hiroo Onoda, dengan keyakinan yang keras tetap bertahan di pulau tersebut, hingga tahun 1975, 30 tahun setelah Perang Dunia II usai. Ketika Jepang kalah perang, pesawat-pesawat sekutu menyebarkan selebaran bahwa Jepang telah kalah perang, dan prajurit yang tersisa diminta untuk kembali kepada unit masing-masing untuk dipulangkan ke Jepang nantinya.  Hiroo Onoda, menganggap ini semua sebagai tipu muslihat sekutu untuk menariknya keluar dari “persembuyiannya”, Hiroo Onoda dilatih bukan sebagai prajurit biasa, di sekolah intelijen Nakano, dia dididik untuk melaksanakan misi “perang gerilya”, spionase, mata-mata, adalah pendidikan yang ia terima di Nakano. Di Lubang, Onoda menerima misi untuk menahan serangan musuh, menghancurkan landasan terbang dan dermaga yang ada dan mempertahankannya agar bisa digunakan oleh Jepang nantinya.

Onoda hanya tinggal berempat ketika Jepang dan sekutu menarik semua prajurit yang tinggal di pulau tersebut, bersama Shoichi Shimada, Kinshichi Kozuka, dan Yoichi Akutsu. Masih dengan keyakinan bahwa Jepang belum kalah perang, bahwa cita-cita Asia Timur Raya masih di tertanam di dalam kalbu mereka, Hiroo Onoda dengan tiga temannya, mereka tetap melakukan aktivitas gerilya, menjaga perlengkapan mereka, dan harus seringkali terlibat baku tembak dengan penduduk dan polisi lokal.

Misi penjemputan Onoda sudah beberapa kali dilakukan, baik oleh pemerintah Filipina atau Jepang, bahkan mereka melakukan kerjasama, dengan cara menebar pamphlet lewat udara, meninggalkan koran dan majalah serta hal lain. Bahkan pernah dijemput secara langsung oleh kakaknya lewat speaker. Onoda tetap menolak untuk menyerahkan diri, ia merasa itu semua hanyalah “akal-akalan” sekutu agar mereka dapat mengambil lagi kontrol atas pulau Lubang. Pulau Lubang, yang digunakan sebagai tempat latihan pengeboman Angkatan Udara Filipina, membuat Onoda semakin percaya bahwa itu adalah tentara sekutu yang sedang memborbardir agar para prajurit Jepang keluar dari persembunyian mereka.

Hirooo Onoda diumumkan mati pada Desember 1959. Ia dan seorang temannya, Kinshichi Kozuka dianggap telah mati akibat luka yang dideritanya karena terlibat baku tembak dengan kepolisian Filipina. Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang pun melakukan pencarian selama enam bulan, namun tidak ditemukan sama sekali jejak mereka. Ternyata Onoda belum mati, kembali ke hutan, mempersiapkan diri untuk bergerilya lagi.

Selama 30 tahun di Lubang, Onoda dan teman-temannya mampu bertahan hidup dengan cara mengandalkan apa saja yang tersedia di alam, serta mencuri perbekalan yang ditinggalkan oleh para penduduk lokal ketika mereka mengurus ladang mereka. Juga dengan membunuh kerbau-kerbau liar yang tinggal di pulau tersebut.

Pada tahun 1972, Onoda bertemu dengan Suzuki, seorang turis Jepang yang kebetulan sedang berlibur ke pulau tersebut, Suzuki pun menceritakan bagaimana Jepang kalah perang dan hal-hal yang dianggap Onoda sebagai “suatu yang tidak bisa dia dipercaya”. Onoda berkata, dia akan pulang jika komandan dia dulu, Mayor Taniguchi yang memberikan perintah secara langsung kepadanya, karena dia waktu bertugas di pulau Lubang, dia diperintah langsung oleh Mayor Taniguchi hanya patuhi perintah yang langsung diberikan oleh Taniguchi. Suzuki pun lantas mengirim surat ke Kedutaan Jepang di Filipina. Dijemput langsung oleh Taniguchi, Onoda pun bersedia untuk menyerah. Ketika keluar dari tempat persembunyiannya, Onoda disambut bak pahlawan. “Perang 30 Tahun” yang dijalani olehnya selesai sudah.

Aku selalu tertarik dengan kisah-kisah perang secara umumnya, dan buku ini begitu menarik, ditulis dengan gaya yang lugas dan to the point.

Onoda menceritakan hal-hal dari sejak ia kecil, hingga masuk ke dalam militer Jepang. Yang menjadi focus buku ini adalah pengalaman yang ia alami terutama selama bertugas di pulau Lubang. Taktik gerilya yang ia gunakan, perawatan senjata dan amunisi, serta beberapa teknik survive di hutan, dengan ilustrasi. Satu hal yang membuat saya bingung, bagaimana bisa search party yang dikerahkan untuk mencari Onoda selalu gagal dalam beberapa kali misinya ? Walau mungkin sudah jelas Onoda lebih mengusai daerah yang ia tinggali selama 30 tahun.

Kesanku setelah (bahkan ketika) membaca buku ini adalah sambil berdecap, mengusap dahi, sambil mengucap “gila” berulang-ulang. Doktrin macam apa yang diajarkan padanya oleh militer Jepang? Ketangguhan mental yang Onoda miliki menakjubkan, meski dihadapi dengan fakta-fakta, ia menepisnya, karena ia melihat hal-hal yang dianggap janggal di koran-koran serta majalah yang ia tinggalkan, dan dianggapnya sebagai propaganda, dan ditinggalkan pula oleh teman-temannya, yang menyebabkan ia harus menghadapi pertempuran yang panjang dan sepi. Kesetiaannya kepada tugas yang ia emban sangat sinting, entah bisa dibilang menakjubkan atau menakutkan. Kemampuan adaptasinya terhadap alam pun bisa dibilang keren, siapa pula yang kepikiran kalau minyak kelapa bisa digunakan agar peluru tidak berkarat ?

Kisah Hiroo Onoda adalah memberikan gambaran bagaimana hebatnya seorang manusia, dengan seluruh dedikasi dan semangat yang dia miliki dalam bertugas. Sekembalinya ke Jepang, Onoda disambut sebagai seorang pahlawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s