Aoi Torii Film Review

Link Asian Wiki

Aoi Torii adalah kisah tentang perundungan, tetapi dari sudut pandang pelaku, dan yang melihat aksi perundungan, namun memilih untuk membiarkannya. Sebuah film yang menyajikan “bullying” dari sudut pandang pelaku dan teman korban.

Sebagai seorang yang pernah menjadi korban dan pelaku bullying, film ini cukup “ngena” untuk ditonton. Apalagi, saya sekarang menjalani profesi yang sama dengan tokoh utamanya, sebagai seorang guru.

“Mencoba Melupakan, itu sifat pengecut.”

WARNING : CONTAINS  SPOILERS!

Continue reading “Aoi Torii Film Review”

Advertisements

Merdeka (?)

Pagi upacara, kita semua berbaris, menghadap tiang bendera. Tiga siswa sedang melaju, kaki mereka berderap secara sinkron, berjalan dari arah barat tiang bendera. Depan tiang, dilepas lah simpul tali yang ada di tiang bendera, tali pun dikerek, bendera dibentangkan, lalu dikibarkan.

Seluruh peserta mengangkat tangan, hormat kepada bendera. Indonesia Raya bermain sebagai musik di latar belakang. Bahkan, beberapa orang yang lewat sempat berhenti, memberi hormat kepada bendera dari luar pagar.

Tetapi hatiku tidak tenang, tentunya sambil mengikuti protokol upacara, pikiranku melayang,

“Apa benar, hari ini, kita semua sudah merdeka ?”

Continue reading “Merdeka (?)”

Dari Revolusi ke Korupsi

Sumber gambar  : http://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=60631

Bung Karno dan Pak Harto dari Revolusi ke Korupsi
Haryo Sasongko
Pustaka Grafiksi
Jakarta
Oktober 2006
X + 150

 

 

 

 

Buku ini banyak menceritakan dosa-dosa Soeharto yang dilakukan kepada Soekarno, serta juga beberapa kezaliman-kezaliman yang Soeharto lakukan ketika dia melakukan “kudeta merangkak”, dan kezaliman yang Soeharto lakukan ketika menjabat sebagai presiden semasa Orde Baru. Dari judulnya saja sudah cukup menyedihkan untuk dibaca. Dalam penjabarannya penulis menghantarkan kita kepada kisah, suatu kisah revolusi yang sudah dibangun di masa pemerintahan Bung Karno dikorupsi oleh Soeharto Orde Baru.

Pembodohan, kebohongan, penggelapan, penipuan serta korupsi sejarah yang berlangsung terus menerus siang-malam terus dicekokkan kepada anak bangsa selama puluhan tahun oleh Rezim Orba. Ini sesuai dengan prinsip gaya Hitler yang pernah mengajarkan “Katakanlah kebohongan itu terus-menerus, lama kelamaan akan diterima sebagai kebenaran.”

Continue reading “Dari Revolusi ke Korupsi”

Kamu Tidak Membenci Hari Senin

Senin, awal minggu dalam kalender para pekerja, atau pelajar. Pengangguran juga bisa, tapi seringkali pengangguran tidak ingat waktu, jadi kupikir dia bisa disingkirkan untuk sementara waktu.

Senin, hari dimana para pekerja, mereka yang buruh atau yang lebih senang memanggil diri mereka karyawan, berbondong-bondong mengangkat pantat, mencuci muka, sempat atau tidak sempat sarapan, lantas jalan menjadi roda perekonomian. Entah untuk negara, entah untuk swasta, entah untuk dirinya sendiri.

Oh ya, pelajar juga, bangun pagi untuk berangkat sekolah yang terlalu pagi. Siapa pula yang kepikiran untuk masih sekolah sepagi jam 06:30, pekerja kantoran saja rata-rata masih siangan dikit. Alibinya sih biar “nanti nggak kaget kalau masuk dunia kerja”, atau “baru jam segitu, orang-orang kalo ngantor harus berangkat lebih pagi”.

Ah, sedih sekali nasib pelajar kita, dipaksa bangun pagi untuk menjadi gir dan roda-roda ekonomi, menggantikan gir yang sudah usang, pensiun, atau tidak dapat berfungsi lagi, bahkan ada yang sengaja dicopot. Sekolah untuk nanti jadi pekerja, bukan sekolah demi menuntut ilmu itu sendiri. Kasihan, dididik jadi pegawai sejak masih berstatus siswa.

Hari senin, hari dimana banyak ketakutan, dikhawatirkan gaji akan berkurang, ketika moda transportasi tidak berfungsi sebagaimana wajarnya. Ketika tenggat waktu kerjaan lebih banyak memburu waktumu ketimbang kematian. Kesana-kemari melakukan pekerjaan, agar nanti perutmu isinya bukan hanya angan.

Untuk 4 hari kedepan, kita akan dihadapkan pada suasana yang begini. Bekerja dengan penuh pengharapan. Entah agar gaji kita dinaikkan oleh atasan, atau tiba-tiba datang bonus dari hasil kerjaan, atau entah dapat cuan dari sampingan.

Bukan hanya Senin, sebab hal yang telah disebutkan di atas bisa saja terjadi di hari lain.

Ya, bukan Senin yang engkau takutkan.

Yang kau takutkan adalah nanti hilangnya penghidupan.

Meski kadang, ketika engkau melakukan, engkau merasa sama sekali tidak punya kehidupan.

Dari aku, Buruh Pendidikan.

22 Juli 2019.

Aku Gabisa Hidup Tanpa Kamu.

Judul di atas terdengar klise. Bahkan samasekali bullshit. Jijik. Cringe. Illfeel. Dan lain sebagainya. Seringkali kalimat diatas terdengar ketika seseorang sedang merayu kekasihnya, atau bahkan mantan kekasihnya. Umumnya loh ya, bukan berarti tidak ada kemungkinan seseorang dapat mengucapkan kalimat ini kepada orangtuanya, hewan peliharaannya, atau bahkan mainannya sekaligus.

“Oh, [masukkan nama disini], kekasihku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Dan seminggu kemudian mereka putus. Lantaran beda keyakinan. Yang satu sudah yakin, yang satu masih ragu. Terus kandas. Mampus.

Atau tiba-tiba diambil, entah diambil orang atau diambil Maut.

Kandas lagi. Mampuslah.

Continue reading “Aku Gabisa Hidup Tanpa Kamu.”

Zen Flesh, Zen Bones

3422754
Zen Flesh, Zen Bones.

Zen Flesh, Zen Bones : A collection of Zen and pre-Zen Writing.
Paul Reps & Nyogen Senzaki (ed.)
Tuttle Publishing, 1998

Zen berasal dari China, dibawa oleh Bodhidharma, yang berasal dari India pada abad ke-6, dan dibawa ke timur menuju Jepang pada abad ke-12. Zen disebut sebagai “sebuah ajaran spesial tanpa kitab, lebih daripada kata-kata dan aksara, menunjuk pada esensi-pikiran manusia, meneropong ke dalam diri, menuju pencerahan.” (p.17)

Zen dikenal di China sebagai Ch’an. Para guru Ch’an, atau Zen, tidak memposisikan diri sebagai pengikut Buddha, ketimbang itu, mereka mencoba untuk menjadi temannya dan juga memposisikan diri di dalam semesta sama seperti Buddha dan Yesus. Zen bukanlah suatu sekte, Zen adalah pengalaman. (p.18)

Zen memiliki banyak arti, yang mana seluruhnya tidak dapat menjadi definisi yang jelas. Jika mereka didefinisikan, mereka bukanlah Zen.

Continue reading “Zen Flesh, Zen Bones”

Halah, Pancasila

“Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju, maju, ayo maju, maju
Ayo maju, maju!”

Siapa yang ingat penggalan bait di atas ? Yang mungkin sewaktu kita sekolah (atau mungkin sekarang sudah jadi PNS) seringkali dinyanyikan saban Senin, menjadi pengiring lagu Indonesia Raya yang biasanya dinyanyikan setelah pidato atau ceramah Pembina upacara.

(Tolong kalau urutan upacara salah, mohon maafkan saya, sudah lama sekali saya tidak ikut proses upacara, apalagi hari-hari khusus)

Garuda Pancasila, lagu wajib nasional yang dibuat oleh Sudharnoto, seorang seniman dari LEKRA, organisasi underbouw PKI. Cukup aneh juga ya, dimana lagu wajib nasional digubah oleh seorang yang berasal dari organisasi terlarang.

Tapi toh saya sedang tidak ingin membahas hal itu hari ini.

Hari ini, saya mau ngedumel saja.

Continue reading “Halah, Pancasila”