Dibohongin itu pedih, Jenderal!

Sore ini, gawai yang kuletakkan di atas paha dibawah pusarku  bergetara berapa kali. Ada notifikasi masuk, dari sekian grup yang aku masuk di dalamnya, masuk pesan ajakan (heh, bahkan beberapa terdengar seperti paksaan) untuk nonton bareng Film G30S/PKI di salah satu stasiun televisi swasta. Karena lagi nongkrong bareng kawan-kawan lama, aku memutuskan untuk mengindahkan saja ajakan tersebut.

Continue reading “Dibohongin itu pedih, Jenderal!”

September – Noorca M. Massardi

Aku menemukan novel ini di suatu pusat perbelanjaan di selatan Jakarta, setelah mengudak-ngudak tumpukan buku satu persatu dengan telaten. Aku melihat novel ini, cukup tebal, dengan judul September.

“Sebuah bangsa telah terluka. Luka itu tidak akan pernah terlupakan dan tidak akan bisa terhapuskan untuk selama-lamanya…”

Itu yang tertulis di cover depan novelnya. Lantas, membaca kalimat itu, pikiran langsung mengkaitkan dengan sejarah kelam bangsa ini, yang terjadi pada 53 tahun silam.

Novel ini bercerita tentang tragedi tersebut. Mengambil latar belakang dari tragedi tersebut. Tapi nampaknya ia terjadi di suatu alternate universe, dan dengan ending yang berbeda. Barangkali, suatu pengandaian sejarah.

Continue reading “September – Noorca M. Massardi”

Ulang Tahun dan Traktiran

Pagi ini baru bangun tidur. Kebetulan dua saudara sedang menginap di rumahku. Kebetulan pula hari ini adalah hari ulang tahunku. Tanpa basa-basi, bahkan tanpa mengucap selamat, dua bajingan itu sudah meminta untuk dibelikan makanan. Singkatnya, ditraktir.

Ya, ditraktir.

Belum selesai membuka kelopak mata pun sudah dipalak begituan. Siapa yang tidak kesal?

Apalagi belakangan ini memang kondisi keuangan lagi sulit akibat dollar turun.

Budaya “Traktiran” ngehe ketika seorang ulang tahun adalah absurd.

Ya saudara, absurd saya katakan. Bagaimana bisa, seseorang yang waktu hidupnya semakin sedikit karena bertambah usianya namun berkurang umurnya sempat-sempatnya dimintai traktiran. Dan itu tidak sedikit, bayangkan, jika kamu memiliki teman yang banyak, berapa uang yang harus kamu keluarkan meskipun cuman sekali dalam setahun.

Apalagi dulu, biasanya dikerjain, dilemparin tepung atau telor busuk, diiket di tiang, abis itu yang ngerjain kamu minta traktiran.

Naudzubillahimindzalik.

Bagaimana bisa, seseorang yang waktu hidupnya semakin sedikit karena bertambah usianya namun berkurang umurnya sempat-sempatnya dimintai traktiran.

Maaf, bukannya pelit, atau nggak mau bermodal dikit.

Karena emang ga ada modal.

Dulu, sempat saya tanyakan beberapa faction member waktu saya masih aktif bermain game online, ketika mereka berulang tahun. Seorang yang dari Singapura berkata kurang lebih seperti ini, “Kok seperti itu? Di tempatku, yang ulang tahun malah yang ditraktir / diberikan hadiah.”

Yang dari Malaysia, “Lho, harusnya kan kamu yang diberikan sesuatu, bukan diminta traktiran.”

Yang dari Philipina “Yah harusnya diucapkan saja, ga usah minta ditraktir. Putang ina mo gago.”

Padahal sama-sama dari Asia Tenggara, tapi kenapa budaya kami begitu berbeda?

Bahkan, yang dari Romania pun berkata, “Kalau memang mereka bersyukur atas umurmu yang semakin panjang, setidaknya memberikan hadiah berupa doa saja sudah cukup, kalau tak sempat untuk merayakannya.”

Sayang, jejak screenshotnya sudah tidak ada, Hard driveku rusak beberapa waktu lalu.

Tapi kurang lebih begitu, kira-kira bisa dilihat lah ya perbandingannya.

Lantas, aku merenung, apakah tradisi “Traktiran-ketika-ulang-tahun” ini sama dengan budaya Syukuran?

Ah tapi, rasa-rasanya, kalau dibandingkan soal syukuran, rasanya beda. Skalanya pun beda, meski waktu syukuran, tuan rumah yang menyediakan segalanya. Lagipula, tidak adil juga, kalau dibandingkan dengan syukuran apa, pindahan rumah misalnya, atau ketika pesta perkawinan, atau yang lain-lain lah.

Yah kalau bisa, saya harap kalian tidak lagi minta-minta traktiran ketika teman atau saudara atau kerabat sedang berulang tahun, seharusnya kalianlah yang membahagiakan mereka di hari kelahiran mereka, minimal ucapkanlah selamat, panjatkanlah doa buat dirinya, jika kamu memang belum bisa berbuat lebih untuknya.

Mungkin saja mereka bisa saja cengegesan, haha hihi ketika waktu mentraktir kalian, tapi selepas itu, menangisi nasib inventory dompetnya ketika hari ulang tahunnya berakhir.

Happy Birthday to me, yeay!

 

 

 

 

 

Kepala, Mata, Hati

“Dari mata turun ke hati…”

Kata-kata tersebut sudah tidak asing di mata dan telinga orang-orang, acapkali mereka yang sedang merasakan jatuh cinta pasti pernah mengucap – atau paling tidak, mendengar hal tersebut.

Tapi buatku, kupikir lebih kompleks.

Sebelum kita dapat melihat seseorang menarik atau tidak, tentu kita memiliki standar-standar yang ada di dalam kepala.

Seseorang dapat dikatakan cantik atau menarik belum tentu sama menurutku atau menurutmu.

Tapi begini menurutku, aku pikir kita semua memiliki suatu standar yang ada di dalam suatu kepala ketika melihat seseorang sebelum dapat menyimpulkan mereka menarik di mata kita. Dan “standar” ini dibangun, beda dengan perasaan lapar dan haus yang sudah ada secara default di dalam diri kita, “standar” ini dibentuk, dibangun atas dasar pengalaman-pengalaman seseorang.

Pengalaman ini, lantas membentuk cara pandang individu ketika mereka tertarik kepada individu lainnya. Dan ini dapat dibentuk dari berbagai hal-hal yang pernah lewat di dalam kehidupan kita. Obrolan orang, media yang kita konsumsi, atau pengalaman pahit pribadi. Terutama di media, baik itu digital, elektronik, cetak, dan lain sebagainya. Iklan-iklan kosmetik yang selalu menampilkan model-model rupawan, acara-acara fashion yang menampilkan laki atau perempuan dengan tubuh yang menawan, meskipun tetap, meski dicekoki berbagai macam “standarisasi”, orang-orang memiliki pilihan mereka sendiri, cara pandang mereka sendiri.

Lalu, apa hubungannya dengan kutipan yang saya tulis di atas?

Begini, saya pikir, konstruksi tentang menarik atau tidaknya individu tersimpan di dalam kepala seseorang, lalu mereka melihat orang tersebut dengan mata, yang akhirnya menjadikan mereka jatuh hati kepadanya.

Jadi, dari kepala, mata, lalu hati.

Lantas, kenapa bisa seseorang jatuh hati, meski tak belum pernah melihat orang tersebut sama sekali?

Ini saya belum kepikiran, mungkin itulah cinta. Beda dengan ketertarikan yang memiliki sebab dan bisa dibentuk sedemikian rupa, kalau cinta bisa saja terjadi begitu saja. Nggak ada angin, gak ada hujan.

Cinta tidak perlu hal muluk-muluk, ini – itu, jika seorang sedang jatuh cinta, tidak ada lagi tawar-menawar.

Karena cinta harga mati.

08/09/2018
Di atas kasur, ga bisa tidur.

Il Principe – Niccolo Machiavelli

Ketika berkeliling di sebuah toko buku, aku melihat satu eksemplar buku ini. Kuambil, lalu kulihat-lihat dengan seksama. Di cover depannya, bagian kiri bawah, terdapat tulisan.

“Buku Pedoman Para Diktator…”

Lalu saya lihat cover belakangnya. Dan saya pikir, ini bisa jadi benar adanya.

Setelah pulang, lekas kubaca buku ini.

Bukan main isinya, Machiavelli menuliskan tentang berbagai macam kekuasaan, dan cara-cara mempertahankannya, serta merebutnya. Meskipun kau harus mengotori tanganmu sendiri.

Continue reading “Il Principe – Niccolo Machiavelli”