Pembalajaran di Masa Pademi

Semester pertama tahun 2020 hampir selesai beberapa hari lagi, dan hari ini, bertepatan dengan lebaran Idul Fitri. Hari “kemenangan” yang dinanti-nantikan umat Islam setelah berpuasa selama 30 hari.

Tapi, rasa-rasanya, tahun ini, tidak ada kemenangan, rasanya “kemenangan” itu hanya sebatas piala kosong sahaja. 2020 penuh kesuraman demi kesuraman, yang rasanya, kemenangan hanyala pemanis bibir saja.

Bicara sedikit soal tahun 2020 dari kacamata saya, 2020 adalah tahun yang penuh dengan kejutan demi kejutan, belum selesai satu, tumbuh sekian banyak masalah. Banyak rencana yang terpaksa dipangkas atau digagalkan sama sekali.

Belum lagi terjadi beberapa kali Rencana Alam yang terjadi, dalam skala global maupun skala nasional, kebakaran hutan, longsor, puting beliung, gempa, dan yang masih berlanjut sekarang, Pandemi Covid-19.

Saya enggan menyebut mereka sebagai bencana. Barangkali yang kita sebut sebagai bencana ternyata bagaimana cara Alam membalas kita yang sudah memperlakukan mereka begitu… buruk, jika semuanya dilihat dari cara manusia, rasanya begitu egois. Barangkali kemalangan demi kemalangan yang menimpa kita merupakan teguran untuk lebih menghargai apa yang ada di alam, bukan mengekploitasinya habis-habisan. Akhirnya mereka membuat suatu rencana untuk membalasnya, dan dieksekusi, dan bagi kita, itu disebut sebagai bencana.

Alih-alih merayakan kemenangan, hari ini saya ingin menggerutu saja.
Barangkali saya memang terlalu banyak mengeluh, tetapi saya bersyukur, setidaknya, saya masih punya kemampuan untuk mengeluh.


Saya adalah seorang pengajar di salah satu institusi pendidikan swasta di Selatan Ibukota, dan merupakan seorang pengurus Rukun Tetangga di lingkungan sekitar saya.

Pengamatan saya selama semester pertama 2020 ini adalah, rasa-rasanya tahun terburuk selama saya menjalani kehidupan ini, bukan menutup kemungkinan ke depannya akan lebih buru, tapi tentu kita semua berharap semuanya akan lebih baik, dan tetap baik-baik saja, serta berbahagia.

Bulan April kemarin, seharusnya mereka yang duduk di kelas 3 SMA, di tempat saya mengajar, sedang menjalani UASBN, tetapi 2 hari terakhir dalam ujian terpaksa dibatalkan lantaran Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi. Salah satu mata pelajaran yang saya uji, terpaksa dibatalkan karena diberlakukannya aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk menebar angka persebaran Covid-19 yang masih membuat saya bertanya-tanya, kenapa harus istilah ini yang digunakan ? Padahal ada istilah yang lebih mudah digunakan, yaitu karantina.

Tetapi penggunaan istilah tersebut lebih bermuatan politis ternyata. Bagi yang mengikuti berita beberapa waktu belakangan, saya pikir paham apa yang saya maksud. Tapi barangkali itu untuk bahasan di lain waktu, bikin mual saja.

Balik lagi, ujian mata pelajaran saya yang seharusnya diujikan lantas dibatalkan, digantikan dengan pengiriman tugas sekolah untuk mengganti nilai ujian. Beberapa murid mengerjakan, beberapa tidak. Sedangkan untuk urusan nilai, sudah tidak bisa dilama-lamain, sebab kelas 3 memiliki beberapa kebutuhan administrasi yang tidak bisa ditunda, terpaksa beberapa nilainya saya “tembak”.

Selesai kelas 3 ujian, mulai waktunya untuk kelas 1 dan 2 untuk melaksanakan Pembalajaran Jarak Jauh (PJJ). Ya, Pem-bala-jaran, sebab, rasanya lebih banyak bala-nya dibandingkan dengan manfaatnya. Ada beberapa masalah yang menyebabkan saya berkata seperti ini.

  1. Koneksi Internet.
    Saya pikir ini tidak perlu dijelaskan lagi, namanya pembelajaran daring, tentu membutuhkan koneksi internet untuk melaksanakannya, tetapi, provider sering bapuk, dan ini membuat Pembelajaran Jarak Jauh tidak begitu maksimal. Terutama di bagian para murid. Tidak semua murid memiliki kuota yang cukup, atau barangkali beberapa harus berbagi dengan orang rumahnya lantaran terbatasnya gawai yang digunakan. Dan memang tidak hanya satu-dua orang yang komplen hal-hal seperti ini. Saya masih dapat dikatakan beruntung sebab punya fasilitas yang meskipun sebenarnya nggak mumpuni-mumpuni amat karena seringkali terjadi lag ketika melaksanakan video call dsb. Terpaksa saya mensiasatinya dengan merekam materi yang saya ajarkan agar waktu belajar lebih efektif, membagikan materi dalam bentuk .pdf dan rekaman suara, ketimbang harus terus-terusan melakukan sambung ulang jika dilakukan secara langsung, dan walaupun ada murid yang ketinggalan, mereka dapat mengunduh materi yang dipelajari, kapan saja. Terkadang, dengan membuat soal latihan sesimpel mungkin juga.
  2. Waktu.
    Waktu juga menjadi salah satu masalah krusial ketika PJJ kemarin. Memang, jadwal PJJ pun sebenarnya disamakan dengan jadwal pembelajaran ketika disekolah, bedanya, beberapa matpel dipangkas menjadi satu jam (60 menit) per minggu, bukan 90 menit seperti yang biasa dilakukan di sekolah. Belum lagi masalah murid yang bangun kesiangan, beberapa orangtua memang kooperatif untuk membangunkan anaknya sesuai dengan jadwal, tapi beberapa… tidak melakukannya, barangkali karena anak yang mengaku libur, padahal tidak, sebab beberapa kali saya dengar dari rekan kerja ada yang seperti itu. Dari sini kan timbul masalah lagi, tidak bisa maksimal jika kondisinya seperti ini, selain guru dan murid, orangtua atau wali murid juga menjadi salah satu faktor kunci demi lancarnya pembelajaran, terutama dalam kondisi seperti ini. Terkadang kendala teknis dan non-teknis juga menjadi salah satu penyebab keterlambatan murid dalam mengumpulkan tugas, meskipun saya sendiri termasuk yang memberikan mereka kelonggaran dalam mengerjakannya.
  3. Penugasan.
    Terkait penugasan, hal ini memang kuasa penuh untuk guru memberikan kepada muridnya, tetapi, ini juga bisa menjadi sumber sakit kepala yang luar biasa untuk murid karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan dalam satu waktu, barangkali, jika tidak menunda-nunda, bisa dikerjakan, tetapi, ada beberapa rekan guru yang memberikan tugas cukup banyak – tentunya ini bias standar saya – kepada murid, yang mengakibatkan mereka harus “mengorbankan” tugas mata pelajaran lain yang tidak sempat dikerjakan tepat waktu. Matpel yang saya ampu seringkali jadi korbannya. Hehe. Tidak masalah, asal jangan benar-benar diskip saja, bagi saya itu sudah cukup.
  4. Keterbatasan Finansial.
    Harus diakui, tidak semua orang punya kemampuan finansial yang sama, tidak semua orang dalam rumah memiliki gawai. Beberapa rekan guru di tempat yang saya ajar pun kadang harus bergantian dengan anaknya ketika PJJ berlangsung, ini juga membuat PJJ jadi tidak efektif, bayangkan, katakanlah si anak menggunakan gawai orangtuanya sampai siang, guru pun tidak bisa memonitor siswa-siswanya dengan baik, opsi pembelajaran yang dilakukan jadi sangat terbatas, jadi terpaksa hanya memberikan dan memeriksa tugas saja. Tanpa benar-benar bisa mengawal proses belajar murid-murid yang diajarkan. Belum lagi masalah pembelian kuota internet, file rekaman suara yang saya gunakan terkadang tergolong besar, untuk rekaman sekitar 15 menitan bisa makan sampai ~80MB-an data, itu baru dari saya, bagaimana dari guru yang lain, yang misalnya, harus menggunakan, katakanlah pembahasan menggunakan video dari youtube dan website lain. Tetapi itu butuh uang, dan kondisi pandemi membuat aktivitas ekonomi menciut, beberapa ada yang kena PHK, beberapa ada yang mengalami pemotongan gaji (termasuk saya).

 

Tadi itu hanya beberapa masalah yang kebetulan saya temukan selama PJJ ini, belum lagi masalah administrasi yang malah lebih ribet dibandingkan ketika masa Pembelajaran Tatap Muka, ada saja laporan ini-itu yang harus diisi masing-masing guru.

Yang saya yakin adalah, masalah pendidikan itu sangat rumit, bukan hanya dari pembahasan kurikulum dan pembelajaran, masalah yang ada di “belakang layar”-nya pun begitu pelik, mulai dari ekonomi, psikologis siswa, serta kebijakan-kebijakan pendidikan, siap-tidaknya dalam penggunaan teknologi dalam pembelajaran, tidak hanya dari siswa, tetapi juga dari gurunya. Ini hanya segelintir kecil permasalahan yang berhasil saya endus. Karena keterbatasan observasi saya, tentunya masih banyak lagi yang tidak terlihat oleh saya. Di atas adalah permasalahannya, tetapi tidak terbatas hanya di situ saja.

Duh, pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s