James Paul Gee – Anti Education ERA

James Paul Gee

The Anti-Education Era: Creating Smarter Students Through Digital Learning

Di zaman digital ini, terutama dalam dunia pendidikan, kita lebih diuntungkan dibandingkan dengan beberapa dekade lalu. Perkembangan teknologi yang semakin pesat memberikan kita keuntungan dengan kemudahan mengakses informasi yang tersedia hampir dimana saja.

Melalui buku ini, James Paul Gee mencoba untuk memberitahu kita bahwa kita bisa menggunakan keuntungan ini agar dapat dioptimalkan untuk pendidikan yang sangat bermakna, dan berguna.

Dalam kata pengantar buku ini,  James Paul Gee menyampaikan bagaimana kita, species Homo Sapiens, bisa menjadi sangat cemerlang dan tolol pada waktu yang bersamaan. James Paul Gee menuliskan bagaimana manusia, dengan segala akal sehatnya, menciptakan suatu masyarakat yang tidak berimbang, dengan ketidakadilan yang ada dalam beberapa hal, yang dia ambil contoh di AS. Gee mengkritik bahwa institusi, dalam hal ini institusi pendidikan, sudah bersifat anti-edukasi, hanya berfokus pada ujian demi ujian, dan pendidikan tinggi sebagai suatu lencana status atau hanya difungsikan sebagai pencetak pegawai saja, dan tidak mengajarkan cara berpikir yang mendalam serta problem-solving skills. Gee berpendapat bahwa kita telah melupakan pendidikan sebagai suatu alat untuk membangun masyarakat secara utuh.

Di bagian 1 buku ini, Gee menuliskan tentang “What Are Humans So Stupid?” dia membuka dengan pertanyaan yang dikutip dari novel 1984 oleh George Orwell, “Mengapa seringkali kita mempercayai sesuatu yang sudah jelas-jelas palsu?”

Pada bab 1 buku ini, Gee membedah apa yang membuat seseorang menjadi tidak percaya kepada bukti-bukti yang sudah ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan yang disebut sebagai “confirmation bias” ini adalah bias mental yang dimiliki setiap orang yang nampaknya manusia hanya mempercayai apa yang ingin mereka mempercayai, dan kelanjutannya, mereka akhirnya menutup diri dari pengetahuan yang empiric karena tidak mendukung apa yang sudah mereka percayai dari dulu. Hanya melihat apa yang mereka ingin lihat, begitulah.

Bagian 2, bab 1, Gee mulai untuk memberikan suatu gambaran yang merefleksikan bagaimana kita, sebagai manusia, dapat belajar dan menjadi pintar, yang dapat disingkat menjadi 5 poin :

  1. Mentor yang dapat mempersiapkan kita agar kita mendapatkan suatu pengarahan dalam suatu hal yang akan dipelajari.
  2. Pengalaman yang atas hal itu
  3. Tujuan yang jelas.
  4. Ada sesuatu yang “dipertaruhkan”
  5. Kesempatan untuk melakukannya dan melakukan sesuatu yang berarti di dalam dunia ini.

Dan di dalam sekolah formal, Gee tidak melihat adanya hal seperti ini, bagi Gee, sekolah hanya mengajarkan informasi, fakta-fakta, dan rumus-rumus yang abstrak tanpa memberikan para muridnya kemampuan untuk memecahkan masalah, yang memerlukan tindakan dan tujuan. Baginya, sekolah memaksa murid untuk berfungsi layaknya sebuah computer, hanya menyimpan data dan menyalin data tersebut jika sedang berlangsung ujian yang terstandarisasi. Padahal, pikiran manusia tidak sesederhana itu.

Di dalam bab 4, Mental Comfort Stories, ini adalah hal yang menarik bagi saya pribadi. Manusia membutuhkan cerita untuk menenangkan diri mereka, untuk menjustifikasi apapun hal yang mereka lakukan, manusia mendapatkan arti dan semacam suatu control diri ketika mereka merasa mereka melakukan hal yang berkontribusi untuk kelompok, budaya, atau Negara mereka. Tentu,  banyak cerita yang mampu manusia ceritakan, mulai dari obrolan santai warung kopi, novel, dan film, tidak lupa videogames. Kapasitas mental seorang manusia untuk mengarang suatu cerita untuk control, arti, dan tujuan sangatlah hebat, yang dapat dilihat dari cerita mitologi, agama, atau bahkan ketika bahumu ditepuk dan temanmu berkata “semuanya terjadi bukan tanpa alasan.” Inilah yang disebut Gee sebagai “Mental Comfort Stories.”dan ini, tidak berimplikasi bagus kepada ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan menantang semua yang sudah anda tahu, dan anda yakini. Semua yang anda ketahui dan yakin bisa saja salah. Tentu, untuk memahami sesuatu, manusia membutuhkan konteks dari suatu pengalaman, dan pengalaman yang sangat mendalam, jika tidak, kita hanya akan menuliskan generalisir-generalisir dangkal yang menjadi cikal-bakal stererotype.

Dalam bab 1, bagian 10, Institution and Frozen Thought, Gee membahas tentang institusi yang dibangun di atas peraturan, prosedur, pertemuan, dan struktur otoritas telah menjadi alat yang gagal –dalam hal ini pendidikan- telah gagal. Institusi muncul di dalam sejarah untuk tujuan tertentu, terkadang umur suatu institusi sudah sangat tua mereka lupa akan tujuan awal mereka didirikan. Gereja dan Universitas di Amerika Serikat dan Inggris dulu didirikan untuk mendidik para agamawan, lalu berubah menjadi tempat untuk berpikir para ilmuwan sekuler, mendidik masyarakat tidak hanya dalam aspek agama dan spiritual, tetapi melalui pengetahuan-pengetahuan empiris. Hari ini, banyak para pelajar yang masuk ke dalam universitas agar mereka dapat “pekerjaan yang lebih layak.” Bukan untuk mencari keselamatan atau pengetahuan. Alasan Gee mengemukakan hal ini, ada dua :

  1. Institusi adalah suatu “pikiran beku”, seringkali mereka mengubah suatu solusi menjadi masalah. Suatu institusi dibangun atas dasar kebutuhan, tetapi, seperti zaman, kebutuhan tersebut pun berubah, dan untuk mengubah tujuan suatu institusi, tidaklah mudah, butuh waktu dan tenaga dalam merubahnya, mereka yang sudah terbiasa dengan tujuan awal, sudah terlalu nyaman untuk merubahnya sama sekali.
  2. Terkadang, tujuan suatu institusi tidak sama dengan tujuan manusia yang berubah-rubah dari waktu ke waktu. Institusi sudah punya suatu tujuan tetap yang dituangkan di dalam visi misi mereka. Sedangkan manusia memiliki kebutuhan yang menyesuaikan dengan zaman.

Jadi dua alasan kunci mengapa suatu institusi dapat terlihat sangat disfungsional adalah ketidakmampuan mereka untuk merubah “pikiran beku” mereka untuk mengakomodir kebutuhan dan tujuan manusia yang berubah seiring zaman.

Dari sini ide Gee tentang “Digital Learning” mulai diuraikan olehnya, melalui situs-situs online dan alat-alat digital, orang-orang dapat mengorganisir diri mereka di dalam suatu komunitas, dan menghasilkan produk, pengetahuan, desain, seni, video game, film, dan masih banyak lagi. Media digital, menurut Gee bisa menjadi alat yang sangat powerfull untuk bersosialisasi, belajar, atau bermain. Kini, seluruh dunia terhubung di dalam suatu jaringan yang disebut Internet. Menurut Gee, kita semua sekarang sedang bermain suatu permainan, yang dimainkan orang di seluruh dunia, yang disebut olehnya sebagai empirical game. Suatu permainan yang social dan kolaboratif. Berbagi teori dengan satu sama lain, membutuhkan bantuan orang lain untuk menguji hasil yang kita sudah dapatkan, kita juga mempelajari apa yang sudah dihasilkan orang lain. Kita menginginkan orang lain untuk membantah apa yang sudah kita ketahui, karena perbedaan pendapat, dan lain-lain.

Pada Bagian 2, Bab 20, Gee membahas tentang Synchronized Intelligence. Synchronized Intelligence adalah suatu upaya kolektif yang mengubungkan pikiran manusia satu sama lain untuk dunia yang lebih baik. Dalam hal ini, di dalam era digital, Gee juga menuliskan tentang Affinity Space, ibaratnya, Affinity Space adalah tempatnya, Synchornized Intelligence adalah usahanya. Banyak orang, dengan alat-alat yang memadai, dan keahlian yang berbeda-beda, yang berkumpul di dalam suatu tempat – dalam hal ini, suatu situs di Internet – semua orang dapat mengasah kemampuan mereka, mengasah kepintaran mereka, dengan bantuan satu sama lain.

Affinity Space dapat berbentuk apa saja, mulai dari modding community, merekrut partisipasi masyrakat sipil, mempelajari kesehatan perempuan, politik, matematika, apapun itu, jika memiliki nama, pastilah ada tempatnya tersendiri di Internet. Mereka yang terdapat di dalamnya tidak datang untuk mencari kerja atau mencari kepraktisan. Mereka ada di dalamnya karena untuk menyalurkan minat, belajar, bermain, dan menyelaraskan kemampuan berpikir mereka. Mereka ada di dalamya karena mereka bisa berkontribusi, berkembang, dan tidak dijudge dari status social mereka. Affinity Space dapat dikatakan juga suatu bentuk crowdsourcing.

Media digital dapat membuat kita pintar. Mereka dapat membuat masyarakat dan sekolah menjadi lebih pintar. Kita menggunakan media digital sebagai alat untuk menghasilkan suatu alasan untuk berkontribusi lebih banyak di dalam masyarakat. Pengalaman yang kita sudah alami, dan kita buat secara interaktif; menyambungkan buku, media, dan obrolan adalah fondasi yang dapat membuat suatu pendidikan berhasil, yang disebutkan oleh Gee sebagai “talk, text, and knowledge mentoring,” atau TTK Mentoring.

Tapi bukan berarti media digital adalah tanpa cacat. Gee berpendapat bahwa kita juga harus mampu berpikir kritis; kita harus mampu untuk menggunakan akal kita untuk memikirkan dan memecahkan masalah; belajar dengan giat untuk hal-hal yang ingin kita kuasai; dan mampu untuk menyambungkan informasi baru yang telah kita terima untuk memberikan suatu arti baru di dalam hidup ini. Tidak serta merta apa yang terdapat di dalam media digital kita dapat telan begitu saja.   Media digital memasukkan ke dalamnya juga suatu bentuk narasi yang kompleks serta istilah-istilah teknis yang rumit. Kita sekarang mampu untuk mengkonsumsi dan membuat dengan berbagai macam media yang ada. Dari sini, kita dapat membangun sesuatu jalan untuk berpikir lebih kompleks, dan mengasah kemampuan dengan cara kita sendiri, melalui media digital.


Sebenarnya, yang membuat saya sedikit bingung dengan Gee adalah cara dia menyampaikan ide tentang digital learning di dalam buku ini, selain membahas tentang digital learning, Gee juga membahas tentang masalah social, politik, dan psikologis. Narasi yang dituliskan oleh Gee seakan-akan ini adalah essay social-politik yang memiliki implikasi terhadap pendidikan. Entah kenapa, saya merasa sedikit tertipu dengan judulnya.

Namun, jika ada pesan yang ingin disampaikan oleh Gee, kurang lebih dia menuliskan seperti ini : Manusia adalah makhluk yang mencari arti ketimbang kebenaran. Mereka adalah makhluk yang sakit dan bodoh ketika mereka tidak lagi memiliki nilai, partisipasi, control, dan bergabung bersama orang lain untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas. Pendidikan zaman sekarang memiliki keuntungan yang tidak dimiliki katakanlah, 50 tahun yang lalu.  Melalui media digital, kita dapat memecahkan masalah kita dan menyelamatkan diri kita dari kesesatan jika kita mampu untuk berkolaborasi bersama. Di waktu yang bersamaan, di zaman dimana pengetahuan terlalu besar untuk dipahami seseorang, tidak peduli seberapa cerdas dia, kita membutuhkan bantuan dan kontribusi orang lain.

Also, it looks like Gee likes to use the word “stupid” alot.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s