Aku Gabisa Hidup Tanpa Kamu.

Judul di atas terdengar klise. Bahkan samasekali bullshit. Jijik. Cringe. Illfeel. Dan lain sebagainya. Seringkali kalimat diatas terdengar ketika seseorang sedang merayu kekasihnya, atau bahkan mantan kekasihnya. Umumnya loh ya, bukan berarti tidak ada kemungkinan seseorang dapat mengucapkan kalimat ini kepada orangtuanya, hewan peliharaannya, atau bahkan mainannya sekaligus.

“Oh, [masukkan nama disini], kekasihku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Dan seminggu kemudian mereka putus. Lantaran beda keyakinan. Yang satu sudah yakin, yang satu masih ragu. Terus kandas. Mampus.

Atau tiba-tiba diambil, entah diambil orang atau diambil Maut.

Kandas lagi. Mampuslah.

Continue reading “Aku Gabisa Hidup Tanpa Kamu.”

Zen Flesh, Zen Bones

3422754
Zen Flesh, Zen Bones.

Zen Flesh, Zen Bones : A collection of Zen and pre-Zen Writing.
Paul Reps & Nyogen Senzaki (ed.)
Tuttle Publishing, 1998

Zen berasal dari China, dibawa oleh Bodhidharma, yang berasal dari India pada abad ke-6, dan dibawa ke timur menuju Jepang pada abad ke-12. Zen disebut sebagai “sebuah ajaran spesial tanpa kitab, lebih daripada kata-kata dan aksara, menunjuk pada esensi-pikiran manusia, meneropong ke dalam diri, menuju pencerahan.” (p.17)

Zen dikenal di China sebagai Ch’an. Para guru Ch’an, atau Zen, tidak memposisikan diri sebagai pengikut Buddha, ketimbang itu, mereka mencoba untuk menjadi temannya dan juga memposisikan diri di dalam semesta sama seperti Buddha dan Yesus. Zen bukanlah suatu sekte, Zen adalah pengalaman. (p.18)

Zen memiliki banyak arti, yang mana seluruhnya tidak dapat menjadi definisi yang jelas. Jika mereka didefinisikan, mereka bukanlah Zen.

Continue reading “Zen Flesh, Zen Bones”

Halah, Pancasila

“Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju, maju, ayo maju, maju
Ayo maju, maju!”

Siapa yang ingat penggalan bait di atas ? Yang mungkin sewaktu kita sekolah (atau mungkin sekarang sudah jadi PNS) seringkali dinyanyikan saban Senin, menjadi pengiring lagu Indonesia Raya yang biasanya dinyanyikan setelah pidato atau ceramah Pembina upacara.

(Tolong kalau urutan upacara salah, mohon maafkan saya, sudah lama sekali saya tidak ikut proses upacara, apalagi hari-hari khusus)

Garuda Pancasila, lagu wajib nasional yang dibuat oleh Sudharnoto, seorang seniman dari LEKRA, organisasi underbouw PKI. Cukup aneh juga ya, dimana lagu wajib nasional digubah oleh seorang yang berasal dari organisasi terlarang.

Tapi toh saya sedang tidak ingin membahas hal itu hari ini.

Hari ini, saya mau ngedumel saja.

Continue reading “Halah, Pancasila”