Mengamini Diri Sendiri – Persona 4 Golden – Personal Review

Sumber : https://megamitensei.fandom.com/wiki/Persona_4_Golden

Salah satu titel anyar di konsol Playstation, Persona 4 Golden, telah secara resmi mendapatkan versi port di PC 13 Juni 2020 kemarin. Setelah hanya bisa memainkan versi PS2nya yang rilis 2008 lalu, saya sangat antusias menyambutnya, tanpa banyak cingcong, langsung masukkan keranjang dan checkout.

Setelah memainkannya selama lebih kurang 80 jam di dalam playthrough pertama saya, saya memutuskan untuk menuliskannya, ini adalah port pertama serial mainline Persona yang dirilis di PC.

(Meski rasanya kurang tepat juga untuk menyebut Persona sebagai mainline, karena Persona pun merupakan serial spin-off atau sampingan dari serial Shin Megami Tensei. But setting that aside… )

Akan ada beberapa hal yang saya tulis disini, mulai dari segi teknis, cerita, dan mungkin beberapa hal yang saya tangkap dari jalan cerita gamenya.

Mengandung pembeberan (spoiler), tentunya.

Eh, tapi ini game yang udah cukup lama, sudah banyak spoiler di luar sana. Versi PS2nya keluar pada tahun 2008, dan Persona 4 Golden, di PSVita, sudah rilis sejak tahun 2012. Sudah bertahun-tahun. Tentunya spoiler sudah ada dimana-mana.

Allright, here we go !

The Story

Kamu adalah sang Protagonis, yang namanya kamu tentukan sendiri, seorang anak kelas 2 SMA, yang baru saja pindah dari kota besar ke sebuah kota kecil bernama Inaba. Di sana, kamu akan tinggal bersama paman dan sepupumu, serta bersekolah di kota tersebut. Disana, kamu akan menghabiskan waktu selama lebih kurang satu tahun di dalam gamenya.

di Inaba, terdengar rumor, bahwa tiap malam, ketika sedang hujan deras, ada channel TV yang disebut sebagai Midnight Channel akan menyala bahkan ketika TV-mu dalam keadaan mati. Konon, menurut rumor, yang akan muncul di TV adalah soulmate-mu. Ketika tidak lama sampai dan tinggal di Inaba, kota kecil yang tenang ini dikejutkan dengan sebuah berita kematian seseorang yang menggantung dengan kaki di atas  di sebuah tiang listrik. Seseorang yang menemukan tubuh yang menggatung tersebut, juga kemudian ditemukan mati secara naas dalam kondisi yang sama. Ternyata, keduanya sempat muncul di dalam Midnight Channel. Ternyata rumor tersebut tidak benar, mereka yang muncul di dalam Midnight Channel bukanlah soulmatemu, tetapi orang yang akan menemui ajalnya tidak lama kemudian.

Lalu kamu, sang protagonis, bersama dengan teman-temanmu memutuskan untuk mencari tahu apa penyebab terjadinya kejadian-kejadian aneh ini. Keputusan untuk menyelidiki insiden ini membawa kamu dan teman-teman kamu ke dalam dunia yang ada di dalam TV. Yep, betul, di dalam televisi. Literally inside the TV. 

Protagonis (kamu) sedang mencoba untuk masuk ke dalam TV. Sumber : https://megamitensei.fandom.com/wiki/Midnight_Channel

Setelah kamu dan teman-temanmu berhasil masuk ke dalam TV, di sana kamu akan bertemu Teddie, yang sudah menghuni “dunia TV” sejak sekian lama, bahkan Teddie sendiri tidak tahu sudah berapa lama dia hidup disana. Teddie bercerita bahwa ada orang yang “melempar orang-orang ke dalam TV”, dia pun butuh bantuan dari kamu dan teman-teman kamu, dan menjadi semacam juru kunci atau penghubung yang membuatmu bisa masuk-keluar dunia TV.

Protagonis (rambut abu-abu), Yosuke, dan Teddie di dalam TV.

Di dalam dunia TV tersebut, kamu, dan teman-teman kamu, memiliki kekuatan supranatural yang bernama Persona. Kekuatan yang diperoleh oleh karakter-karakter yang ada di dalam game ketika mereka sudah mampu untuk berdamai dengan diri mereka sendiri. Dengan kekuatan Persona mereka, mereka menginvestigasi apa yang sebenarnya terjadi.

Apa sebenarnya dunia di balik TV ini ?


 Mekanisme Gameplay 

 Persona 4 Golden, di dalam mekanisme gameplaynya, menggabungkan dua aspek, social simulation dan turn-based combat.

Social Simulation

Kamu, sebagai player, tidak hanya berjuang untuk mencari tahu kebenaran di balik misteri pembunuhan yang ada di Inaba, tetapi juga bertindak dan hidup sebagai seorang anak SMA pada umumnya, sekolah, nongkrong, mancing, cari kerja paruh waktu, pacaran, ikut eskul, pokoknya hal-hal yang umumnya dilakukan oleh anak SMA. Tetapi aspek simulasi ini ada bukan tidak ada pengaruh dengan combat gameplaynya.

Belajar di sekolah~

Selain itu, ada juga status point yang harus dinaikkan oleh kamu, pemain, tujuannya agar bisa mendapatkan pekerjaan tertentu, atau untuk memilih dialog tertentu, bahkan, Social Links tertentu hanya dapat dimulai ketika status point kamu telah mencapai di suatu level tertentu. Tentunya anda tidak dapat berkerja sebagai seorang pengajar les jika pengetahuan (knowledge) anda bobrok, mau diajarin apa anak orang ? Anda juga tidak dapat melawan balik atau menggoda lawan jenis jika tidak memiliki point yang cukup untuk melakukan pilihan tersebut.

Social Points / Social Qualities

Di dalam Persona 4 dan Persona 4 Golden, ada suatu gampeplay mechanic yang disebut sebagai Social Links, sesuai namanya, well, ini mechanic yang mengedepankan bagaimana kamu, sebagai protagonis, bersosialisasi dengan teman-teman serta orang-orang yang ada di dalam gamenya. Dengan memulai relasi dan membangun hubungan yang dalam, kamu akan menjadi lebih kuat, dan tentunya, terdapat beberapa extra scene ketika kamu berhasil memaksimalkan Social Links kamu.

Karakter yang kamu harus berinteraksi demi agar Social Links ini bermacam-macam, selain teman-teman di sekolah, ada juga nenek-nenek yang memiliki krisis eksistensial lantaran ditinggal mati suaminya, suster genit di sebuah rumah sakit, adik daripada korban pembunuhan yang sudah disebutkan di atas, paman dan sepupumu, murid yang kamu ajarkan ketika kamu berkerja sebagai tutor, ibu muda yang punya masalah kedekatan dengan anaknya, teman-teman satu eskul, dan lain-lain.

Yukiko Amagi (best girl), Social Links yang mewakili Priestess Arcana.

Social Link ini, selain berfungsi sebagai narasi dan world building, juga berfungsi sebagai sesuatu yang meng-enforce gameplaynya, dengan membangun Social Links, kamu dapat memanggil dan menggabungkan Persona yang kamu punya agar lebih kuat lagi, dan pada akhirnya, jika masing-masing Social Links maksimal, kamu bisa menggabungkan dan memanggil Persona terkuat (Ultimate Persona) dari masing-masing Social Links, yang digambarkan menggunakan arcana yang ada di dalam kartu Tarot.

Kohryu, Ultimate Persona dari Hierophant Arcana

Oh, di versi Persona 4 versi PS 2, Social Links yang tersedia hanya 20 saja, sedangkan di Golden, ada tambahan 2 Social Links, yaitu Jester/Hunger (XXI) dan Aeon Arcana (XX).

Social Links Persona 4 Golden.

Combat System

Jika roleplaying menjadi anak SMA terdengar membosankan, maka waktunya membahasa tentang combat systemnya, yang sejujurnya, standar banget, biasa aja.

Combat Screen, terdapat beberapa pilihan, cukup standar untuk genre turn based RPG

Combat systemnya, well, bukan sesuatu yang luar biasa, standar game turn-based, terdapat beberapa menu, yang dapat dipilih untuk :

  • Analysis : Menganalisis kelemahan musuh.
  • Tactics : Merubah taktik karakter kita (4 kepala yang ada di kanan), terdapat beberapa pilihan taktik, biasanya saya langsung memilih untuk mengontrol langsung (direct commands) sebab, trauma Persona 3 masih menghantui. Stupid Mitsuru with stupid Marin Karin.
  • Guard : bertahan, mereduksi damage yang diterima sebanyak setengah
  • Skill : Skill yang dapat digunakan oleh Persona yang kamu miliki
  • Persona : Untuk protagonis, kamu dapat menggonta-ganti Persona kamu. Untuk karakter lain, ini hanya dapat digunakan untuk melihat status Persona mereka.
  • Item : menggunakan barang-barang yang ada di dalam tas.
  • Escape : kabur dari musuh.

Musuh yang kita hadapi adalah Shadows. Shadows dan Persona yah, terdengar seperti Jungian Psychology. Memang Persona banyak mengambil inspirasi dari Jungian Psychology.

Shadows memiliki beberapa kelemahan yang dapat dieksploitasi, kelemahan terhadap elemen / serangan tertentu akan membuat mereka knocback. Jika semua Shadows sudah jatuh / knockbacked, kamu dapat melancarkan All-Out Attack !  yang membuat party member menyerang pada waktu yang bersamaan, mengeroyok Shadows yang sudah jatuh.

All-Out Attack!

Selain itu juga terdapat status ailment seperti misalnya poison, shock, dll. yang dapat memberikan efek khusus baik kepada character player dan Shadows.

Tapi setidaknya, aman untuk saya katakan, bahwa dungeon di dalam Persona 4 cukup singkat, dan tidak terlalu grindy, rata-rata hanya sekitar 8-10 lantai saja, exp dan uang yang didapatkan dari berburu Shadows pun cukup berimbang, tidak terlalu grindy  hingga menjadi membosankan, tetapi juga tidak terlalu cepat hingga terasa kegampangan. Dungeonnya pun tidak terlalu panjang, tidak seperti Tartarus yang ada di Persona 3.

(Total playtime saya adalah 80 jam untuk 1st playthrough, barankali yang benar-benar saya gunakan untuk combat adalah 25 jam, sisanya, yah, baca dialog, apalagi saya langsung mengincar semua konten yang bisa saya dapatkan di dalam playthrough pertama, karena beberapa konten, seperti misalnya Persona khusus, hanya dapat dibuat di dalam 2nd playthrough. So… another 50 hrs of gaming for me I guess).

Jujur, combat systemnya bukan membuat serial Persona adalah suatu yang spesial, tetapi lebih kepada masing-masing character development dan jalan cerita yang menjadi keunggulan serial franchise dari ATLUS ini.

dan, tema besar Persona 4 adalah, tentang, menghadapi diri sendiri, dan menghadapi kenyataan yang ada di dunia ini.


Psikologi Jungian dan Persona 4

Sebelum masuk ke dalam pembahasan tema utama Persona 4, yang saya tangkap sebagai “Mengamini diri sendiri, dan kemampuan untuk menghadapi kenyataan,” ada baiknya untuk mengetahui tentang darimana game ini menarik inspirasi. Carl Gustav Jung.

Tentu, tidak semua hal yang dituliskan oleh Jung akan digunakan disini, tetapi lebih kepada istilah-istilah yang digunakan di dalam Psikologi Jungian yang sering digunakan juga di dalam gamenya, dan bagaimana itu bisa “nyambung” ke dalam mekanisme gamenya.

Istilah yang banyak digunakan di dalam Persona 4 yang terinspirasi dari Psikologi Jungian adalah Persona, dan Shadow. Bahkan di dalam versi Golden, terdapat kuliah khusus tentang Psikolgi Jungian yang dapat diakses dari menu home screen tentang Shadows dan Persona, yang dibawakan oleh Mr. Edogawa, yang kalau pernah ada yang main Persona 3 dan masih ingat dia, dia yang menjadi penjaga UKS yang suka ngasih obat aneh-aneh di dalam game Persona 3.

Apa itu Persona dan Shadows ? 

Persona

Persona dan Shadow adalah istilah yang digunakan oleh Jung untuk menjelaskan cara kerja pikiran manusia.

Persona, dalam bahasa latin adalah topeng. Persona adalah topen yang kita gunakan. Dibalik topeng inilah kita “menutupi” diri kita yang sebenarnya ketika kita berada di dalam masyarakat, baik ketika berkumpul bersama orang-orang atau ketika kita sedang di dalam lingkungan pekerjaan atau sekolah. Topeng inilah yang menjadi medium bagaimana kamu ingin dilihat ketika menjadi anggota masyarakat.  Menurut Jung, ada diri “kamu yang lain” di dalam diri kamu. Persona, adalah “diri kamu” yang muncul ketika kamu berinteraksi dengan orang lain.

Coba pikir : ketika kamu bicara dengan orang lain, apakah itu benar “kamu”? ataukah itu “kamu” dalam versi yang mau orang itu lihat ? ataukah itu versi “kamu” yang kamu ingin tunjukkan kepada orang-orang ? Yang manapun versi “kamu” itu, itulah yang disebut sebagai Persona.

Singkatnya, Persona adalah topeng yang bisa kamu gonta-ganti ketika bertemu dengan orang lain. Ketika di rumah, kamu memakai topeng sebagai anak, orangtua, saudara, dan lainnya. Sedangkan di kantor, misalnya, kamu menggunakan topeng sebagai anak buah, manajer, boss, atau lainnya.

Di dalam gamenya, Persona adalah monster yang bisa kita panggil untuk melawan musuh, untuk melawan Shadows. Kamu, sebagai protagonis, dapat memanggil lebih dari satu Persona untuk melawan para Shadows yang ada. Sedikit aneh, untuk game yang mencoba menjelaskan tentang “menjadi diri sendiri”, kamu sebagai pemain harus menggunakan banyak topeng / Persona.

Protagonis memecahkan kartu Tarot untuk memanggil Personanya. Sumber : https://gfycat.com/remoteuglyasianpiedstarling

 

But more on that later… 

Shadow 

Shadow Yukiko

Shadow, adalah suatu bagian di dalam psikologi yang termasuk di dalam semua hal-hal yang sesorang coba untuk sembunyikan keberadaannya.  Shadow, adalah versi diri kamu yang kamu tidak ingin menjadi “diri”-nya dan tidak mengganggap bahwa kamu adalah seperti itu. Shadow adalah pikiran dan perasaan yang kamu merasa sangat kesulitan untuk mengakuinya, bisa jadi itu adalah kamu adalah orang yang pemalas, atau hal-hal buruk yang lainnya. Singkatnya, Shadow adalah sisi gelap dirimu yang tidak mau kamu akui.

 

Shadow Yukiko, yang berubah dan mengamuk menjadi Boss yang harus dikalahkan oleh pemain.

Shadows, ketika semakin lama semakin dipendam, maka dia secara perlahan akan merangkak keluar. Di dalam game, karakter yang dapat kita mainkan, bertemu dengan “sisi gelap” mereka, dan mereka akan “menegur” diri mereka, mengatakan hal-hal yang sebenarnya mereka rasakan, tetapi tidak mau mereka akui. Setelah ditolak oleh karakter yang menegur “diri” mereka yang lain, akan mengamuk dan berubah menjadi boss, hanya dengan mengalahkannya dan mengakui bahwa itu adalah bagian dari dirimu, Shadows ini akan menjadi jinak dan berubah menjadi Persona, monster yang dapat kamu panggil untuk mengalahkan Shadows.

Tentu, akan lebih mudah ketika jikalau saja kita bisa menghapus Shadow ini, tetapi tidak semudah itu, karena dia terletak di alam bawah sadar, kita tidak dapat menghilangkannya. Shadows ini secara tidak langsung juga memberikan makna yang lebih di dalam kehidupan keseharian kita karena dia memberikan kita semacam “nilai” yang membuat hidup kita jauh lebih bermakna. Bagi Jung, akan lebih baik jika kita mampu menerima sisi gelap kita ini, dengan begitu, pikiran kita dapat menjadi jauh lebih terbuka.

Hanya dengan mengamini bahwa kita memiliki keburukan di dalam diri kita, sejelek-jeleknya pun, kita dapat menjadi lebih kuat. Di dalam game, ketika seseorang mampu untuk berkata “Ya, kau adalah diriku,” setelah dia mampu untuk berdamai dengan sisi gelapnya sendiri, barulah mereka akan mendapatkan kekuatan Persona mereka.

Tentunya Persona yang memiliki kekuatan supranatural tadi, bukan Persona dalam konteks Jungian.

Yukiko Amagi, setelah mengakui Shadowsnya, dia mendapatkan kekuatan Personanya. Sumber : http://rebloggy.com/post/gaming-my-gifs-yukiko-amagi-atlus-persona-4-arena-konohana-sakuya/30025200044

Hanya dengan mengakui kelemahan kita, kita bisa menjadi lebih kuat.

Collective Unconscious 

Tetapi… tidak berhenti hanya sampai disitu, ternyata, alam bawah sadar kita. Termasuk saya, dan kamu, pembaca, dan tetanggamu, dan orang-orang di luar sana, terhubung satu sama lain, tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pikiran manusia bukanlah suatu tempat yang terpisah-pisah dari satu dan yang lainnya, tetapi semuanya terhubung satu sama lain. Persona dan Shadow, semuanya terhubung di sini. Collective Unconscious (Alam Bawah Sadar Kolektif) adalah tempat dimana semua simbol dan arketipe yang kita semua, sebagai manusia memilikinya.

Di dalam gamenya, barangkali yang tepat untuk mewakili Alam Bawah Sadar Kolektif ini adalah dunia yang ada di dalam TV. Seperti yang Teddie bilang bahwa “Dunia ini berasal dari dalam hati orang-orang,” dan melihat bagaimana dunia di dalam TV tersebut dapat terbentuk tergantung dari siapa yang ada di dalamnya, secara implisit menyatakan bahwa dunia di dalam TV adalah dunia “Alam Bawah Sadar Kolektif”

bandicam 2020-07-11 20-00-38-019
Tingkatan Kesadaran menurut Jung. Arketipe berada di Alam Bawah Sadar Kolektif, seluruh simbol-simbol yang pernah ada sepanjang sejarah umat manusia, semuanya tersimpan di wilayah ini.

Jika anda tertarik, barangkali bisa membaca bukunya Joseph Campbell yang berjudul “Hero With Thousand Faces,” yang saya pikir, dapat menjelaskan lebih baik soal Alam Bawah Sadar Kolektif ini ketimbang bagan hasil screenshot sebuah video game.

Archetype

Selain itu, ada istilah lain yang digunakan di dalam psikologi Jungian, yaitu archetype/arketipe, yang menjadi basis daripada sistem Social Link-nya. Archetype, di dalam psikologi Jungian, menjadi semacam sub-struktur kepribadian manusia, yang mana, menurut Jung, diwariskan kepada kita turun-temurun secara genetis. Dan, ketika kita bertumbuh, kita membangun identitas diri kita menurut archetype-archetype tertentu.

Ibarat rumah, Archetype adalah fondasinya, dan bagaimana kita membangun rumah tersebut, tergantung darimana kita sendiri.

Sebagai contoh, di dalam agama-agama kuno, selalu ada sosok tentang Dewi Kesuburan. Jadi, manusia, tidak peduli dimanapun letak mereka hidup, mereka selalu memiliki gambaran tentang apa itu “Dewi Kesuburan”. Ada secama “simbol universal” tentang Dewi Kesuburan disini. Tidak peduli apapun namanya. Entah itu Isis, Aphrodite, Ishtar, Dewi Sri, Laksmi, atau apapun namanya, selalu ada semacam “patokan” untuk menjelaskan seperti apa itu sosok Dewi Kesuburan.

Empress Arcana dalam kartu Tarot, sering digunakan sebagai simbol kesuburan.

Atau contoh lain misalnya, sosok orang tua atau guru yang bijak, anda bisa melihat contohnya tentang archetype seperti ini, mulai dari sosok Semar, Odin, bahkan sampai ke yang lebih modern, misalnya Obi-Wan Kenobi.

Archetype adalah hal-hal yang memenuhi alam bawah sadar manusia, sepanjang sejarah, manusia membagikan pengalaman hidup mereka, yang mereka buat dan lihat dan mewariskannya secara tidak sadar, kepada individu-individu yang lain.

Di dalam Persona 4 / Golden, Archetype ini disimbolkan dalam bentu Social Links dan Kartu Tarot. Lihat Major Arcana yang ada di dalam kartu Tarot, mulai dari 0 – The Fool, I – Magician, sampai XXI – The World. Arketipe-arketipe macam ini semuanya dijadikan suatu mekanisme di dalam Social Links.

Simbol-simbol Tarot ini merepresentasikan sifat masing-masing karakter yang ada di dalam Social Links. Bagi yang familiar dengan permainan kartu Tarot, tidak akan sulit untuk menemukan beberapa makna yang bersifat universal dari masing-masing Arcana.

Misal, sosok yang diwakili nomor II – The Priestess, yang dapat bermakna sebagai “kemauan yang terpendam” dan menurut saya, dieksekusi dengan cukup baik di dalam gamenya lewat karakter Yukiko Amagi.

Karena status sosial-ekonominya, Yukiko merasa kebingungan karena seakan-akan nasibnya sudah ditentukan sejak dia lahir, dia harus mewarisi penginapan yang dimiliki oleh keluarganya selama bertahun-tahun. Padahal, dia tidak ingin menjadi pewarisnya, dia ingin keluar dari Inaba untuk memulai karir sebagai desainer interior. Yukiko akhirnya mencoba untuk belajar agar bisa keluar dari Inaba. Meskipun pada akhirnya, Yukiko setuju untuk menjadi pewaris penginapan keluarganya, dia tetap akan belajar untuk menjadi desainer interior agar bisa menarik pelanggan. Yukiko melakukan kompromi terhadap situasinya, dia mengamini takdirnya, tetapi juga tetap belajar untuk menggapai cita-citanya. Begitu pula dengan karakter-karakter yang lain, mereka bertingkah sesuai dengan arketipe yang memiliki makna masing-masing.

But take this explanation with a grain of salt, afterall, I’m just a videogame enthusiast, not a psychological expert.


Mengamini Diri Sendiri, dan;
Menghadapi Kenyataan

Lalu apa hubungannya psikologi Jungian dengan tema yang diusung oleh Persona 4 / Golden ?

Singkatnya, ada dua hal, Persona 4 / Golden mencoba membahas identitas, dan kebenaran. Persona 4 bicara tentang keberanian untuk menghadapi diri sendiri sebagaimana adanya, dan menghadapi kebenaran, sebrutal apapun itu, sepahit apapun realita yang ada, mesti kita terima.

Mari kita mulai dengan Identitas. 

Seperti yang sudah dibahas tadi, karakter-karakter yang ada di dalam Persona 4 / Golden mereka memiliki struggle dengan dirinya sendiri. Chie yang selalu bergantung kepada Yukiko. Yukiko yang muak karena merasa terjebak status sosial-ekonominya.  Kanji yang kebingungan dengan masalah mana yang maskulin dan feminin. Rise yang kebingungan karena tidak memiliki identitas dirinya. Teddie yang bahkan sama sekali tidak tahu-menahu dengan dirinya sendiri. Naoto yang memiliki kesulitan karena dia adalah detektif perempuan yang berkerja di lingkungan kepolisian, yang notabene lebih dominan laki-laki.

Dari kanan ke kiri : Kanji, Rise, Naoto, Teddie, Yukiko, Protagonis, Chie, Yukiko.

Ketika mereka menolak Shadow mereka, menolak apa yang mereka takuti, maka Shadow tersebut akan mengamuk, dan berubah menjadi boss yang harus player hadapi. Balik kepada konsep Shadow tadi, dimana Shadow adalah versi “aku” dari yang tidak ingin diakui oleh diriku, masing-masing karakter memiliki struggle dengan Shadownya sendiri, dengan sisi gelap dirinya sendiri. Hanya dengan menghadapinya, hanya dengan berani mengakuinya sebagai bagian dari diri kita sendiri, kita akan mampu menjadi lebih kuat dalam menghadapi hidup.

Ketika karakter yang ada di dalam game berkata kepada Shadownya,

“Ya, Aku adalah kau, kau adalah sisi lain dari diriku yang tidak mau aku akui. Meski begitu, kamu tetap bagian dari diriku.”

Dengan mengakui sisi gelap tersebut, maka karakter kita akan mendapatkan kemampuan Persona mereka, dan mereka, akan memiliki kekuatan untuk memecahkan dan mencari tahu siapa sebenarnya pembunuh yang melempar orang-orang ke dalam TV. Mereka, menjadi lebih kuat ketika berhasil mengakui sisi gelapnya, mengamini diri sendiri, seutuhnya. 

Bahkan, BGM yang dipakai ketika melawan Shadow masing-masing karakter, memiliki judul “I’ll Face Myself”, yah, secara harfiah, “Akan Kuhadapi Diriku Sendiri.”

Kalau masing-masing karakter memiliki Shadownya masing-masing, kenapa si Protagonis tidak ?

Setidaknya, di dalam gamenya, karakter yang kamu mainkan, si Protagonis, tidak memiliki Shadow, karena seharusnya dia menjadi semacam self-insert character, yang benar-benar mewakili kamu di dalam dunia tersebut. Ini yang menjadi menarik, ketimbang menghadapi dirimu sendiri, kamu sebagai protagonis menghadapi dunia yang ada di sekitarnya, menggunakan Persona. Menggunakan berbagai macam topeng tergantung kondisi yang sedang dihadapi, dan di dalam gamenya, Protagonis memiliki kemampuan untuk memiliki lebih dari satu Persona dan mampu menggonta-gantinya. Ibarat kertas putih, kamu bebas mengembangkan protagonis jadi karakter yang seperti apa. If anything, si Protagonis memberikan sinyal bahwa seberapa banyakpun topeng yang kita kenakan sehari-hari, jangan sampai kehilangan identitas diri kita sendiri, jangan sampai tenggelam ke dalam “topeng” tersebut.

Lain hal ketika kita bicara animenya, si Protagonis memiliki ketakutan akan kesepian, makanya dia rela hidup mengulangi hari yang sama berulang-ulang, agar bisa tetap tinggal bersama teman-temannya dan tidak lagi merasa kesepian.

Hingga akhirnya, dia mengakuinya, ketakutan akan kesepiannya, ketakutan akan kehilangan orang-orang yang dia sayangi.

Oh ya, dan anime Persona 4 sama bagusnya kok dengan gamenya. Worth watching.

Lalu, bagaimana dengan Kebenaran ? 

Ingat bagaimana soal insiden pembunuhan yang terjadi ? Kamu dan teman-temanmu memutuskan untuk mencari tahu kebenaran di balik pembunuhan ini, dan siapa yang bertanggung jawab dibalik pembunuhan tersebut, dan ada juga tentang Midnight Channel.

Sebenarnya, apa yang terjadi ? Siapa yang memulai semua itu ?

Setelah menyelidiki kasus pembunuhan ternyata ketahuan yang sebenarnya dalang dibalik semua itu adalah seseorang, bahkan, teman dari protagonis sendiri, dan anak buah pamannya, Tohru Adachi. Adachi membenci dunia yang dia tinggali sekarang, dan di dekat-dekat bagian akhir cerita, dia ingin menggabungkan dunia yang ada di dalam TV, yang dipenuhi oleh Shadows, untuk membunuh orang-orang dan mengganti mereka dengan Shadows.

Jika menggunakan kacamata Persona-Shadow, Adachi adalah kebalikan daripada protagonis. Adachi adalah seorang penyendiri, membunuh orang-orang yang tidak dia sukai dengan cara melemparnya ke dalam TV. Sedangkan si Protagonis, dia hidup dikelilingi oleh teman-temannya, dan mereka menyelamatkan orang-orang yang terlempar ke dalam TV. Setelah Adachi berhasil dikalahkan, baru boss yang sebenarnya muncul.

Ternyata, ada sosok yang menjadi dalang dari semua ini, yang menyebut dirinya sebagai Ameno-Sagiri.

bandicam 2020-07-05 19-21-29-650
Ame-No-Sagiri.

Ameno-Sagiri mengatakan bahwa Midnight Channel adalah ulah tangannya, mengatakan bahwa “orang-orang hanya melihat apa yang mau mereka lihat.” Midnight Channel didesain untuk membuat orang-orang hanya melihat apa yang mau mereka lihat. Bukan apa yang sebenarnya terjadi. Dunia di dalam TV juga dipenuhi oleh kabut, makanya karakter-karakter kita menggunakan kacamata khusus yang dibuat oleh Teddie agar dapat melihat dengan terang tanpa diganggu oleh kabut.

Menggunakan TV sebagai perumpaan tentang kebenaran yang mau kita lihat, merupakan suatu yang menarik, sebab, media (termasuk TV) juga memiliki peran untuk membentuk persepsi apa yang kita sebut sebagai “kebenaran”.

Setelah dikalahkan, Ameno-Sagiri menghilang, menyerahkan takdir manusia kepada dirinya sendiri.

Apa selesai sampai situ ? Oh tidak.

Protagonis dan teman-temannya masih penasaran tentang siapa yang memulai semua rumor tentang Midnight Channel, dan menemukan bahwa sebenarnya, masih ada dalang di balik Ameno-Sagiri. Yaitu Izanami.

bandicam 2020-07-08 23-35-48-319
Izanami

Izanami menyebarkan rumor kepada penduduk Inaba tentang Midnight Channel, dan mengambil kesimpulan bahwa orang-orang ternyata lebih suka dibohongi, selama itu menyenangkan diri mereka, ketimbang menghadapi kenyataan secara langsung. Ini yang ditentang oleh Protagonis dan teman-temannya.

Izanami menantang mereka, sebenarnya apa untungnya jika mereka tahu soal kebenaran yang terjadi ? Apa yang akan mereka lakukan dengan hal itu ?

Izanami akhirnya menantang protagonis dan teman-temannya untuk pertempuran terakhir. Izanami akhirnya dikalahkan. Ketika dikalahkan, Izanami berkata,

Aku tidak bisa menjamin kebahagiaan kalian.

Tentu, hidup di dalam kabut yang mana menjamin segala keinginan kita, memuaskan segala apa yang mau kita lihat, akan sangat nyaman, tetapi, di balik kenyamanan itu, tetap saja kebohongan.

Persona 4 / Golden membicarakan dua hal kebenaran. Kebenaran sebagaimana adanya, dan hal yang kamu pilih sebagai kebenaran.

Sebagaimana kebenaran milik Izanami yang sebaiknya orang-orang hidup damai tetapi dibohongi. Ada juga Kebenaran yang kamu pilih ketika mengalahkan Izanami. Tentang siapa kita, bagaimana kita melihat dunia, dan bagaimana persepsi kita terhadap dunia mempengaruhi tindakan-tindakan kita sebagai seseorang individual, serta, bertanggung jawab atas pilihan yang kita pilih.

Jurus terakhir yang dapat mengalahkan Izanami adalah Myriad Truth. Myriad dapat berarti banyak sekali, tak terhitung. Kebenaran yang dimaksud disini nampaknya adalah bagaimana jalan apapun yang kamu pilih, janganlah dianggap sebagai sesuatu hal yang sepele. Jalanilah “Kebenaran” versi dirimu, dengan penuh tanggung jawab. Setelah berhasil berdamai dengan Shadow kamu, dengan dirimu, setelah menemukan identitasmu, jalanilah “Kebenaran” yang kamu telah kamu temukan, dengan penuh tanggung jawab.

“Kebenaran” yang ada di dalam Persona 4 / Golden bukanlah kebenaran yang kamu terima sebagaimana adanya. Jangan pernah berhenti untuk selalu pertanyakan dirimu sendiri, dan selalu berkembang, mencari tahu apa itu “Kebenaran”. Sebagaimana Protagonis dan teman-temannya berhasil menemukan “Kebenaran” untuk diri mereka masing-masing.

Persona 4 / Golden mengajarkan untuk selalu jujur kepada dirimu sendiri, menerima kekurangan-kekuranganmu, dan setelahnya, membuat perubahan untuk dirimu.

Haha. Nggak nyangka, videogames ternyata bisa jadi semacam metode self-help. Setidaknya buat saya.


Masalah Teknis

Di bagian ini, saya akan membicarakan tentang beberapa masalah teknis di dalam game Persona 4 Golden. Beberapa diantaranya :

  • Stuttering Issues / Ngadat-ngadat
    Seharusnya ini tidak menjadi suatu problem untuk PC saya, dibekali FX 6300, GTX 1050Ti, dan RAM 12 GB sudah seharusnya sangat cukup untuk bermain dengan nyaman di 60 FPS+, seharusnya lebih dari cukup dari yang dibutuhkan untuk menjalankannya, yang dapat dilihat di sini. Tetapi kemudian menjadi masalah, ketika Opening movie, sangat dirasakan stutter yang parah, frameratenya naik turun. Suara yang keluar pun menjadi ngadat-ngadat. Tidak terbatas di situ saja, stuttering juga selalu terjadi ketika akan melancarkan All-Out Attack. Secara gameplay pun, kadang framerate saya naik turun tidak karuan. Untuk mengobatinya, bisa diakali dengan cara melock FPS menjadi 30. Jika anda mengalami masalah yang sama, silahkan coba mengikut cara yang disarankan di sini. Walaupun rasanya sayang saja, tidak bisa menjalani game ini secara lancar from the get-go.
  • Motion Blur
    Oke, masalah stuttering dapat diselesaikan dengan cara mengunci FPS menjadi 30, tetapi, di dalam game, muncul permasalahan baru, ketika player bergerak, seakan-akan menjadi blur, dan ini, tentu saja sangat melelahkan untuk mata. Karena untuk memperbaikinya terlalu merepotkan, saya biarkan saja, toh masih bisa main gamenya, dan ini berlangsung selama sekitar 60-an jam gameplay. Sangat, sangat melelahkan mata.

Ini membuat mumet banyak gamers, banyak yang mengeluhkan masalah performa ini, tentunya, ada beberapa modder yang coba memperbaiki masalah teknis seperti ini, karena tidak kunjung di patch oleh ATLUS. Sebenarnya masalah teknis ini tidak sampai membuat game menjadi unplayable, cuman tidak nyaman saja.

Selang setelah sekitar 2 mingguan game ini rilis, keluar versi crack-nya, dan menurut beberapa orang, memperbaiki masalah-masalah yang ada di dalam game, seperti yang saya sudah sebutkan tadi.

Lantas, saya coba mengunduh versi cracknya, dan benar saja, masalah seperti stutter, audio yang ngadat-ngadat, framerate yang naik-turun macam halilintar di taman bermain, seketika hilang. Tidak ada lagi stutter, tidak ada lagi motion blur, yah meskipun, frame rate masih suka drop ketika akan melancarkan All-Out Attack! tapi setidaknya, pengalaman bermain menjadi jauh lebih baik dengan versi cracknya. Untungnya, save file yang saya miliki langsung bisa disalin ke dalam yang versi crack dan bisa langsung dimainkan, tanpa harus otak-atik terlebih dulu.

(Tetapi, apakah ini termasuk hal yang ilegal untuk saya lakukan ? Mengingat saya punya gamenya yang versi original, tetapi saya menyelesaikan gamenya menggunakan yang versi bajakan ?)

Barangkali, Denuvo bertanggung jawab atas masalah performa yang dimiliki di dalam gamenya, Denovo adalah software anti-pembajakan yang dipasang di dalam sebuah game untuk memproteksi agar game tersebut tidak bisa dibajak atau di crack. Tetapi, memang, ditemukan beberapa masalah terkait performa game ketika sebuah game dipasangi Denuvo.

Tapi setidaknya, saya sudah selesai 1st playthrough, dan barangkali, harus nunggu patch official dari ATLUS untuk versi PC agar bisa bermain dengan nyaman, dan tentunya, untuk mengisi achievement. Walau rasanya nggak penting-penting amat…

Oke, itu tadi masalah teknis, mungkin bisa jadi pertimbangan untuk membeli gamenya, atau mau menunggu sampai diperbaiki oleh ATLUS ? Karena rasanya, untuk menggunakan mod dan otak-atik file untuk memperbaiki masalah-masalah di atas, terlalu merepotkan, buat saya.  Silahkan nanti anda pilih sendiri.


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s