Kamus Kejahatan Orba : Cinta Tanah Air dan Bangsa

Ini bulan puasa, dan saya baru saja selesai membaca buku yang membangkitkan gairah diri ini untuk gibah, sembari memaki Orde Baru.

Image result for kamus kejahatan orba

Kamus Kejahatan Orba : Cinta Tanah Air dan Bangsa.
Penulis : Harsutejo
Penerbit : Komunitas Bambu, 2010
Rating : 4/5

Kamus kejahatan Orba mengungkit fakta-fakta yang pernah terjadi pada masa Orde Baru. Mulai dari represifitas aparat, birokrasi yang korup, serta kejahatan kemanusiaan oleh rezim yang didukung oleh ABG,  (bukan, bukan Anak Baru Gede) tapi  ABRI, Birokrat, dan Golkar.

Di dalam bagian awal buku, terdapat daftar lema yang disusun secara alfabetis, untuk memudahkan pembaca mencari “dosa” mana yang mau dilihat lebih dahulu. Beberapa ada yang nyambung, tetapi aman juga jika pembaca ingin memulai dari topik mana yang mau dibaca terlebih dahulu.

Oh ya, bicara soal kamus, pemerintah Orba seringkali menggunakan istilah-istilah yang dibuatnya sendiri, dengan maksud agenda politik di belakangnya.

Istilah-istilah seperti “Hantu Komunis”, “P-4”, “subversif”, “bahaya laten”, dan lain-lain seringkali dikumandangkan, seringkali untuk menakut-takuti rakyat Indonesia.

Segala macam khotbah tentang Pancasila, mengabdi serta cinta tanah air dan bangsa, perikemanusiaan yang adil dan beradab, kerja keras dengan jujur dan efisien, dibuang ke keranjang sampah, belum termasuk pula manipulasi sejarah yang dilakukan selama 32 tahun Orba berkuasa.

Ada suatu cerita yang menarik di dalam buku, yang menurut saya pribadi, cukup menggelitik dan on point dalam menggambarkan Soeharto sebagai Raja Orde Baru.

“Ketika diktator militer Jenderal Besar (Purn) Soeharto masih berada di singgasana kerajaan, dalam suatu pertemuan keluarga, Sang Raja yang sedang berkibar-kibar menanyai setiap anak dan cucu tentang warisan yang hendak dimintanya. Ada yang minta tambang dan hutan, jaringan jalan tol, jaringan pesawat terbang beserta lapangan terbangnya, jaringan angkutan laut, pabrik mobil nasional, pabrik monopoli pengolahan gandum, bank dan jaringannya, tanker minyak, dan yang lainnya. Pendeknya semua dapat dipenuhi oleh Sang Raja Diraja. Cukup sekali Titah Baginda, maka para abdi dalem akan berupaya untuk menyiapkannya.

Kini giliran seorang cucu yang konon tergolong pemalu, maka jawabnya :
“Ah malu Eyang,”
“Wee,lha itu yang Eyang sudah tidak punya lagi….” (Budaya Malu, hal. 46)

Ya, meskipun pemerintahan Orde Baru sudah jatuh, dan Soeharto telah mati, orang-orang yang dulu dekat dengannya masih memiliki umur, dan mereka masih ada di dalam pemerintahan sekarang.

(Ga usah sebut nama ya, nanti kena tuduhan makar, ehehehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s