Tidak Ingin Seumur Hidup

Sesungguhnya, apa yang sebenarnya benar-benar kita miliki ?

Motor.

Sore Hari.

Terjadi kemacetan di sepanjang jalan, bahkan tidak cukup untuk membuat motor serabat-serobot kesana-kemari. Seorang perempuan mengendarai motornya, berupaya menerobos kemacetan, sembari dalam hati memaki orang-orang berkendara dan gubernur yang tidak mampu mengurai kemacetan yang saban hari makin parah. Tentu itu semua dilakukan dalam hati.

Maklum. Kondisi Ibukota hari ini makin rawan dengan persekusi dan main hakim sendiri.

Terik matahari, asap kenalpot, dan panasnya blok mesin kendaraan berdoa membuat deras peluh membuat kuyup pakaiannya. Helmnya juga, jika perempuan tersebut focus sedikit, dia bisa mendengar bunyi air di sekitaran telinga.

Mampuslah.

Sudah  bau keringat, bau asap pula. Telinga pun ikutan becek.

Singkat cerita, perempuan tersebut sampai kepada tempat yang dijanjikan. Seorang lelaki telah menunggunya di situ.

Tapi tidak, dia tidak langsung menghampirinya, mampir dulu ke toilet, sembari touch-up dandanan yang berantakan, sembari juga menyemprotkan parfum agar bau jalanan yang jahanam tidak lagi tercium.

Lantas, capcus menemui lelaki tersebut.

Di meja sudah ada dua gelas, satu kopi, dan satu jus buah naga kesenangan perempuan tersebut.

“Lama sekali.”

Laki tersebut bergumam, sambil memainkan gawainya. Dia sudah hafal gerak-gerik kekasihnya, tidak perlu mengalihkan pandangannya pun dia sudah tahu.

“Ya maaf, macet.”

Lalu keduanya duduk, berceloteh sana-sini, ngalor ngidur, mulai bicara dari fesyen, kerjaan masing-masing, dibalut oleh suasana kafe yang begitu ramai, tapi tidak cukup ramai untuk suara mereka tenggelam di dalam kerumunan.

“Oh ya, besok kau kemana Ani ? Aku harus berangkat pagi, tolong temani aku malam ini.”

Lelaki tersebut menanyakan kepada kekasihnya, kepulan asap yang menari-nari dari tembakaunya menghiasi wajah kekasihnya.

“Duh, memangnya kaupikir aku alarm pribadimu?”

Perempuan tersebut, diketahui bernama Ani, lantas menjawab demikian.

“Tolonglah, kau tahu aku susah sekali bangun pagi.”
“Yasudah, toh besok aku juga libur.”

Keduanya cengegesan, jangan tanya penulis, penulis juga tidak tahu kenapa mereka cengegesan.

Setelah bercengkrama hangat lagi panjang lebar, mereka memutuskan untuk beranjak dari kafe tempat mereka bertemu, sudah 3 jam lewat rupanya.

Waktu begitu terasa cepat jika kau bersama orang yang kau sayangi, bukan begitu ?

“Ani, waktu sudah sore, kau mau makan apa ?”
“Apa sajalah Nu, yang penting kau masak, kangen juga dengan masakanmu.”

Enu hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng.

“Yasudah, ayo kita belanja dulu.”

Enu lantas mengambil konci motor yang diberikan oleh Ani. Menuju parkiran, dan tancap gas, layaknya dua burung merpati, mereka terbang, menuju pasar yang tidak jauh dari tempat mereka nongkrong. Belanja keperluan untuk makan malam.

Sampailah mereka ke dalam sebuah kontrakan sederhana, kontrakan Enu, yang sangat minimalis, saking minimalisnya, tempat tidur pun harus sedikit berbagi ruangan dengan dapur.

Mereka berdua lalu langsung sibuk, Enu memasak, dan Ani menyiapkan segala macam minuman.

Lalu mereka makan, lantas kenyang. Ketika sudah tidak haus juga, keduanya pun berbincang-bincang.

“Aku ingin menghabiskan sisa umurku denganmu.”

“Aku tidak.”

Ani cemberut, setelah mendengar kekasihnya berujar seperti itu kepadanya. Belum sempat dia bereaksi, Enu menambahkan,

“Aku ingin mati duluan saja.”

Mendengar Enu berkata seperti itu semakin meradanglah si Ani.

“Loh, maksudmu apaan sih ?”
“Ani, apakah kau tidak takut kehilangan ?”
“Ya tentu, buat apa nanya begitu?”

“Begitulah.”
“Maksudnya gimana ?”

Enu menyeruput lagi kopi yang semakin dingin, yang disajikan oleh kekasihnya. Wajah kekasihnya merah padam, barangkali dia marah.

“Manusia itu menyedihkan ya, dia tidak memiliki apa-apa, namun begitu takut kehilangan.”
“Oh tolonglah, jangan bahas yang berat-berat sekarang, kita sedang kencan, bukan seminar.”
“Sebentar aja sih, ini sangat menyita perhatianku belakangan ini.”

Enu lalu memulai eksposisi panjang lebar, bahwa toh nyawa, yang selama ini kita pikir kita miliki, bisa diambil kapan saja oleh Sang Empu. Tubuh, sekiranya bagaimanapun kita merawatnya, ternyata kita tak punya kontrol penuh atas tubuh, atas darah yang mengalir, atas nadi yang berdenyut. Pun yang lain-lain, yang sifatnya materiil, bukankah dengan mudah dapat hilang ? Apalagi zaman sekarang, meleng sedikit pun langsung raib.

“Bagaimana dengan perasaan? Apa kau bahkan tidak yakin dengan perasaanmu?”

Ani mengepalkan tangannya.

“Itu lagi, kau tahu, barangkali, jika aku pernah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapanmu, apa kau masih mau menginvestasikan perasaanmu padaku?”
“Ya kupikir ada pertimbangan lain nanti.”

Ani membatalkan kepalan tangannya, dan menaruhnya di dagu. Perlahan, dia mencoba untuk mendengarkan apa yang sedang disampaikan.

“Tuh kan lihat, bagaimana dinamisnya suatu perasaan, itu tidak bisa jadi jaminan.”

Enu membalas, sembari mengangkat bahu, seperti bersikap bodo amat.

“Apa sih yang membuatmu sampai berpikir seperti ini?”

Ani mendekat ke Enu, konon, untuk meredam tensi seseorang kau cukup dengan meraba dan mengusap tangannya. Dan itu dilakukan oleh Ani.

“Barangkali aku overthinking, tetapi aku dapat mimpi, belakangan, segala sesuatu yang sudah aku raih selama ini, hilang, raib, ditelang lubang.”

Dengan wajah serius, Enu melanjutkan.

“Ani, kau ada di sana, lalu aku meminta bantuan padamu.”
“Terus, apa aku langsung membantumu?”
“Yah, kau memang membantu, membantuku bunuh diri.”
“Loh, setega itukah aku padamu?”

Ani tak kuasa menahan kaget. Kebingungan.

“Itulah Ani. Aku berpikir ulang tentang semua kepemilikan ini. Bayangkan segala hal yang sudah engkau usahakan, terus raib ditelan lubang hitam. Yang bahkan aku sendiri pun tidak tahu darimana lubang hitam tersebut. Apakah selama ini, kepemilikan atas segala sesuatu hanya ilusi?”

“Kupikir kita punya segalanya Ani, ternyata tidak. Semuanya dapat dengan mudah diambil. Hilang. Mampuslah.”
“Aku sungguh tidak berkeberatan jika yang hilang hanya barang, atau uang, atau jabatan, atau kerjaan. Tapi bagaimana kalau itu menyangkut keluarga? Teman-teman? Bahkan, hewan peliharaan sekalipun.”

Ketika Enu bicara seperti itu, kucingnya nyahut.

“Meong.”

Tawa meledak diantara keduanya. Nampaknya binatang juga ngerti bahasa orang.

“Jadi begitulah, terus terang, aku tak ingin merasakan hal seperti itu. Egois memang, tapi aku hanya tak ingin merasakan kehilangan. Sakit rasanya.”

Ani geleng-geleng, rupanya hanya dari mimpi.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, bukankah kau sendiri yang bilang, terkadang sebatang rokok hanyalah sebatang rokok?”

“Tetapi…”

Ani melanjutkan,

“Kalau harus seperti mimpi, kalau nanti mau bunuh diri, entar saya bantu, tapi mohon, jangan sekarang. Mandi dulu sana, biar segeran. Gerah banget deh seharian.”

Enu mengeryitkan dahi,

“Dih, lu kata gua Mandra?”

Enu pun langsung menyambar handuk, lantas pergi mandi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s