Film Review – Kokuhaku

Sinopsis : Kokuhaku (Confessions / Pengakuan) adalah sebuah film thriller psikologis yang menceritakan tentang pembalasan dendam seorang ibu yang anak semata wayangnya dibunuh. Pembalasan dendam yang direncanakan dengan sangat cerdik, serta kejam kepada para pembunuh anaknya. Diadaptasi dari novel yang berjudul sama, yang ditulis oleh Kanae Minato

Sutradara : Tetsuya Nakashima
Writer : Kanae Minato (novel), Tetsuya Nakashima (screenplay)
Durasi : 106 menit.
Rating : 4.5/5

Untuk cast film selengkapnya bisa dilihat di imdb

TERDAPAT SPOILER DI DALAM REVIEW INI !

“Aku ingin membuat mereka mengingat kejahatan itu seumur hidup mereka.” – Moriguchi

Ringkasan plot : Film ini dimulai dengan seorang guru SMP yang sedang memberikan ceramah di dalam ruang kelas. Yuko Moriguchi adalah seorang pengajar di SMP yang kehilangan anak semata wayangnya Manami, akibat tenggelam di kolam renang sekolahnya, yang setelah ditelusuri oleh polisi disimpulkan sebagai kecelakaan.

Setelah mencari tahu lebih jauh, ternyata anaknya mati bukan akibat kecelakaan, melainkan karena dibunuh oleh dua orang siswanya. Yang disebut oleh Moriguchi sebagai Murid A dan Murid B. Murid A adalah seseorang yang jenius, ia selalu menjadi ranking 1 di kelasnya, dan dia juga menciptakan dompet anti maling dan berhasil menjadi juara dalam lomba olimpiade sains SMP. Sedangkan Murid B, tidak begitu memiliki kemampuan yang menonjol, dia hanya seorang yang berada di klub olahraga, tetapi tidak pernah ditunjuk untuk bermain, hanya latihan saja. Muak dengan semua itu, ia memilih untuk keluar dari klub olahraga dan mengambil bimbel. Tetapi ia malah terlibat perkelahian ketika bermain di arcade, dan pihak sekolah menghukumnya dengan membersihkan kolam renang dan ruang kelas selama 2 minggu.

Tidak terima buah hatinya dibunuh, Moriguchi sempat menanyakan kepada kedua muridnya. Murid A berkata itu hanya percobaan saja. Tanpa mengetahui Ibu yang anaknya dibunuh olehnya adalah orang yang menginterogasi dirinya. Meskipun Murid A adalah seorang genius, ia memiliki semacam gangguan psikologis, dia seringkali menangkap dan menyiksa hewan-hewan kecil dengan alat-alat yang ia buat sendiri, dan dia mengunggah video penyiksaan tersebut ke dalam website miliknya. Murid A membunuh Manami dengan menggunakan dompet anti maling yang dibuat olehnya, memasukkan alat tersebut ke dalam tas bergambar karakter yang disenangi Manami. Daya kejut yang dihasilkan dompet tersebut membuat tubuh Manami tumbang dan tergeletak. Sebelum dia pergi meninggalkan Manami dan Murid B, dia mengatakan “bilang saja aku yang melakukannya,” kepada Murid B.

Tapi ternyata tidak. Shock yang dihasilkan oleh dompet tersebut tidak mampu membunuh Manami.

Manami ternyata hanya pingsan. Panik mengetahui hal tersebut, Murid B membawa Manami yang sedang lemah, dan melemparkannya ke kolam renang sekolah. Pada akhirnya, Manami mati tenggelam. Ketika ditanyakan hal ini kepada Murid B, dia tidak banyak bicara, Ibu dari Murid B terkesan melindungi, dan merasa kasihan kepada anaknya yang telah membunuh anak orang lain, buah hati semata wayang Moriguchi.

Setelah proses “interogasi” yang dilakukan oleh Moriguchi kepada kedua muridnya, dia merasa sangat tidak senang atas jawaban-jawaban mereka. Moriguchi akhirnya merancang sebuah scenario balas dendam, yang menurutku disini, sangat brilian dan cemerlang, dengan cara yang begitu membekas kepada para target pembalasan dendam. Suami Moriguchi adalah seorang pengidap HIV, untuk membalas kematian anaknya, Moriguchi menyuntikkan darah suaminya yang sudah terjangkit HIV kedalam susu yang diminum oleh Murid A dan Murid B.

Moriguchi menceritakan semua hal itu di depan kelas, di hari terakhir dia mengajar kelas tersebut. Dari situ, balas dendam Moriguchi terhadap pembunuh anaknya, dimulai. Moriguchi mengungkapkan ciri-ciri Murid A dan Murid B secara yang implisit, tetapi mampu ditangkap oleh murid-murid di kelasnya.

Pembalasan dendam Moriguchi kepada pembunuh anaknya tidak dibalas dengan pembunuhan lagi, tetapi melalui tangan-tangan lain yang melakukannya. Murid A dan Murid B menjadi sasaran perundungan yang dilakukan oleh teman-temannya, bahkan tiap kali teman-temannya melakukan bullying kepada mereka, ada catatan poin untuk mereka yang melakukan perundungan kepada mereka. Murid A yang menjadi sasaran utama perundungan, karena hanya dia yang tetap masuk sekolah.

Sedangkan Murid B, setelah meminum susu yang sudah terkontaminasi HIV, tidak lagi masuk sekolah, dia hanya dirumah. Murid B membatin, setelah dia merasa dia terkontaminasi HIV, dia tidak lagi keluar kamar, dan mulai melakukan bersih-bersih yang berlebihan, atas dasar ketakutan bahwa dia akan menularkan penyakit tersebut kepada ibunya, tetapi membiarkan dirinya tidak mandi dan penampilannya menjadi sangat urakan. Shimomura Yuko, Ibu dari Murid B, menyalahkan Moriguchi karena telah membuat anaknya telah menjadi seperti itu.

Moriguchi adalah Iblis. – Shimomura Yuko

Pembalasan dendam Moriguchi berhasil, mereka berdua menjadi tersiksa dengan hidup mereka sendiri. Membawa dosa-dosa mereka sebagai pembunuh. Ketika sudah mencapai puncaknya, endingnya, film ini terasa sangat memuaskan dan fulfilling.


Tetapi, ada beberapa hal yang menarik yang saya tangkap ketika menonton film ini.

Murid A, yang bernama Shuya, adalah seorang jenius, namun, dia tidak pernah dapat pengakuan dirinya. Ketika Shuya masih kecil, ia seringkali disiksa ibunya yang seorang peniliti dalam bidang elektro, karena dia dianggap bodoh oleh ibunya, dan sering disiksa oleh ibunya. Mengetahui hal ini, ayahnya bercerai dengan ibunya. Dia hanya ditinggalkan setumpukan buku untuk dirinya belajar. Dari buku-buku itulah, dia belajar, semua agar dia mendapat pengakuan ibunya. Selain ibunya, dia memiliki seorang teman sekelas, yang bernama Mizuho, dan hanya dia yang menemani Shuya dan mengakui kejeniusannya. Mizuho cuman satu-satunya teman sekelasnya yang tidak pernah mem-bully Shuya.

Murid B, yang bernama Naoki, tidak memiliki banyak kemampuan menojol. Dia hanyalah siswa yang sebenarnya biasa-biasa saja. He’s just your average joe. Tetapi, dia juga seorang yang butuh pengakuan. Setidaknya di dalam ruang lingkup sosialnya. Ketika dia perlahan menjadi gila, dia seringkali dibayangi oleh kata-kata Shuya yang mengatakan “kau tidak berguna,”, dan ini menjadi salah satu alasan ketika ia memutuskan untuk melempar tubuh Manami ke kolam renang sekolah.

Film ini berpindah-pindah sudut pandang tokoh yang ada di dalamnya. Dimulai dari sudut pandang Moriguchi, lalu berpindah kepada guru yang menggantikannya, Werther. Werther berusaha untuk menyemangati Naoki yang tidak lagi mau masuk sekolah dengan mengirimkan pesan yang dituliskan oleh teman-teman sekelasnya, namun, secara tidak langsung, pesan-pesan tersebut ternyata menuliskan kata “pembunuh” dalam aksara Jepang. Lalu, berpindah sudut pandang lagi kepada Yuko, ibu Naoki, sadar akan pesan yang disampaikan oleh teman-teman sekelasnya Naoki. Ketakutan dan merasa kasihan kepada anaknya, Yuko memutuskan untuk membunuh Naoki, anaknya sendiri, tetapi naas, pada akhirnya dia malah dibunuh oleh Naoki, anaknya sendiri. Ketika berpindah sudut pandang ke Naoki, ia merasakan gejolak batin yang dahsyat, akibat pembunuhan yang dilakukannya, ia merasa sudah “mati,” di usianya yang hanya 13 tahun.

Dari perpindahan sudut pandang tersebut, film ini menyajikan pergolakan batin yang dirasakan oleh korban, dan para pelaku pembunuhan. Pembunuhan yang merupakan suatu kejahatan, dijustifikasi oleh para pelaku karena mereka hanya butuh pengakuan dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Menurutku, film ini adalah fim thriller psikologis yang sangat intens, terlebih lagi para pelakunya adalah anak-anak yang baru menginjak usia remaja. Bayangkan saja, hanya karena dirinya butuh semacam bentuk pengakuan, mereka sampai harus membunuh. Pengambilan gambar yang sering menggunakan close-up shots, serta slow-motion effects memberikan efek psikologis yang sangat intens. Pacing film yang terasa lambat, menimbulkan juga suatu kesan yang cukup intens, dan terasa kengeriannya, baik ketika mengambil sudut pandang korban, ataupun pelaku. Yah, meskipun di beberapa adegan yang melibatkan darah di dalamnya, terkesan sangat lebay.

Film ini cocok untuk mereka yang senang kepada genre film psychological thriller, atau horror dan film-film misteri pada umumnya.

I rate this film 4.5 / 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s