Videogames, dan Usaha Kolaboratif

Sore ini, aku seperti biasa, sedang bermain videogames di gawaiku. Fate/Grand Order. (srsly go play this game if you haven’t, it’s an epic game with an epic storyline).

Sebuah kisah epic tentang penyelamatan umat manusia dari kepunahan. Sebuah kisah dimana kamu harus menjelajahi waktu, ke masa lalu untuk memperbaiki sejarah, dan merebut kembali Cawan Suci, suatu perangkat maha agung yang dapat mengabulkan segala permintaan. Saya dibawa ke dalam sebuah petualangan yang mendebarkan, menyenangkan, menyedihkan, pokoknya dibawa ke dalam sebuah rollercoaster emosional, dari ceritanya.

screenshot_20181224-1959311307977579.png

Saya sudah sampai di dalam endgame, sampai kepada chapter terakhir, di dalam Singularitas terakhir, dimana saya harus berhadapan dengan 72 Iblis Goetia, yang konon berada di bawah perintah Raja Solomon.Tidak seperti chapter sebelumnya, yang memiliki alur cerita secara linear, di chapter terakhir ini bebas untuk memilih mana plot yang mau dimainkan terlebih dahulu. Saya tidak akan membahas secara mendalam soal ini, akan silahkan klik tautan di atas jika ingin lebih tahu soal lore game Fate/Grand Order.

Yang menarik ketika memainkan chapter terakhir ini, adalah sistem untuk melangkah lebih jauh ke dalam cerita gamenya. Sebelum dapat melanjutkan jalan cerita, chapter terakhir ini memberlakukan sistem Raid Boss.

Raid di dalam videogame merujuk kepada suatu tipe usaha di mana beberapa orang, berkerja sama untuk mengalahkan suatu hal, biasanya melawan Boss yang lebih kuat dari yang biasanya.

Di dalam Fate/Grand Order, sebagai suatu game yang non-competitive, Raid Boss 72 Demons of Goetia ini memiliki HP (darah) yang sangat-sangat buanyak,yang disesuaikan dengan cerita gamenya, dan untuk mengalahkannya, diperlukan kerjasama antar pemain yang ada di dalam server, karena HP Bossnya dibagi secara rata dalam satu server, jika salah satu pemain mengalahkannya, maka HP Bossnya pun juga akan turun untuk pemain lainnya. Ada sekitar 7 raid boss yang harus dikalahkan. Dapat dilihat di dalam screenshot yang ada di atas, di bawah tulisan terminal adalah HP (Pillars) daripada Boss yang ada.

Singkatnya, HP Boss di-share secara global di dalam satu server. Jika salah satu pemain berhasil menurunkannya, maka yang lain pun ikut merasakannya. Setelah salah satu boss berhasil dikalahkan, baru para pemain dapat melanjutkan plot cerita gamenya. Dan ini berlaku secara penuh di dalam satu server, untuk masing-masing pemain. Terakhir, hanya sisa waktu 7 hari, sampai tahun baru, untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran (Incineration of Humanity).

Dan ini, menarik perhatian saya.

Untuk menyelesaikan misi bersama (Raid Boss) kita sebagai para pemain “diajak” untuk berkerjasama satu sama lain. Dalam konteks chapter terakhir Fate/Grand Order, para pemain yang ada di dalam satu server (saya bermain server US) yang sudah mampu untuk  turut berpartisipasi, jika ingin menyelesaikan chapternya secara lebih cepat, dan itu semua dilakukan secara sukarela, jika seorang pemain enggan untuk melakukan hal ini, tentunya tidak ada paksaan dari gamenya.  Ditambah dengan bumbu dari cerita gamenya, membuat suatu raid ini terdengar begitu fantastis. Bayangkan, hanya sisa 7 hari lagi hingga manusia punah. Untuk menyelesaikan Raid Boss ini, ada beberapa kondisi yang dapat membantu agar lebih mudah, dan ini dapat dilakukan, disesuaikan dengan karakter yang kamu punya.

Meskipun hampir tidak ada aspek sosialisasi di dalam Fate/Grand Order, tidak ada fitur chat, bahkan  aspek “sosial” di dalam Fate/Grand Order hanya terbatas kepada penggunaan support character yang ada di dalam Friend List kamu, atau message yang terletak di bawah profile kamu. Dan perlu diingat, ketika bermain F/GO, kamu dapat menggunakan sampai dengan 6 karakter sekaligus, 5 karakter kamu, 1 support character, yang diambil dari Friend List kamu.


Sebetulnya, mekanisme kolaboratif seperti ini sudah umum dipakai oleh para pelaku industri game. Terutama di ranah online game. Kita ambil contoh dari game lain, seperti misalnya World of Warcraft, DoTA, Point Blank, Granado Espada, dan banyak lagi untuk disebutkan. Game-game semacam ini, (terutama game MMO) menawarkan suatu ruang sosial dimana para pemain dapat berkomunikasi dan terhubung kepada pemain lain secara nyaman dari tempat dimana mereka bermain. Dan yang paling penting, mereka membuat para pemainnya untuk berkerjasama untuk menyelesaikan suatu tujuan bersama.

Di dalam suatu game yang kolaboratif, para pemain dibutuhkan untuk berkerjasama sebagai tim untuk hasil yang sama. Jika timnya berhasil, maka semua orang berhasil, jika gagal, maka semua orang juga gagal. Dalam konteks F/GO, jika para pemain tidak berhasil mengalahkan seluruh raid boss dalam waktu 7 hari, maka Boss terakhir akan memiliki buff dan debuff, yang akan menyulitkan para player sendiri.

Lalu aku berpikir, bagaimana kalau kita menggunakan mekanisme kolaboratif ini di dalam kehidupan sehari-hari ?

Bagaimana jika mindset ini dapat kita aplikasikan di dalam kehidupan bermasyarakat ?

Mengingat F/GO dan raid boss yang sudah saya terangkan tadi, meskipun aspek sosialnya hanya sedikit, tapi jika digabungkan daripada usaha masing-masing dalam mengalahkan boss, bukankah itu akan menjadi suatu usaha kolaborasi yang akan sangat menakjubkan ?

Karena boss yang akan dikalahkan dipilih oleh kita sendiri, bukankah secara tidak langsung para pemain telah berpartisipasi dalam mengalahkan Raid Bossnya ?

Tentunya dengan kapasitas para pemain itu sendiri.

Kita mengalahkan boss di F/GO dengan bantuan karakter orang lain, tetapi tetap faktor penentunya adalah karakter yang kita miliki sendiri. Dan tentunya, masing-masing pemain memiliki lineup karakter yang berbeda-beda.

Dan bagaimana, kalau kita ibaratkan para pemain yang sedang berusaha mengalahkan boss tersebut adalah orang-orang di dalam suatu negara ?

Bagaimana kalau kita, secara individu, memaksimalkan segala kemampuan yang kita miliki, untuk membangun negara ini ?

Bagaimana, kalau kita, mengganti karakter yang kita miliki dengan skill dan kemampuan serta keahlian yang kita miliki ?
Bagaimana misal, kalau Raid Bossnya kita ganti dengan Indonesia ?
Bagaimana misal, kalau mengalahkan kita ganti dengan membangun ?

Saya membayangkan, dimana orang-orang, dalam membangun negara, dapat menyumbangkan tenaga dan pikiran-pikirannya masing-masing.

Yang Guru mencerdaskan muridnya.
Yang Ibu rumah tangga ya membesarkan anaknya.
Yang aparatur negara menjalankan tugas dan fungsinya secara benar.

Dan lain-lainnya.

Mungkin ini terdengar sedikit utopis, dan samasekali terdengar ngaco.

Tapi, saya melihat potensi yang ada di dalam videogames, dan saya pikir, kita bisa belajar banyak darinya.

Dan oh, ini Friend ID saya, barangkali ada yang berminat silahkan add~

22471687_10210186260639633_1769012934_n

One thought on “Videogames, dan Usaha Kolaboratif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s