Asian Games IV dan Gusuran Warga Kampung Senayan

Hari ini, pembukaan Asian Games ke-18 dibuka, pesta olahraga terbesar Asia akan diselenggarakan di dua kota di Indonesia, Jakarta dan Palembang. Mendengar kata “Asian Games” mengingatkan saya kepada adik daripada nenek saya. Beliau bercerita bagaimana dia dulu waktu remaja di Kampung Senayan, salah satu kampung yang menjadi wilayah gusuran untuk pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang sempat menjadi stadion termegah se-Asia Tenggara.

Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games IV pada tahun 1962. Namun, pada waktu itu Indonesia belum memiliki fasilitas olahraga yang dapat digunakan untuk hajatan sebesar Asian Games.

Sebelumnya, sarana olahraga yang ada di Jakarta hanyalah Stadion Ikada (Ikatan Atletik Djakarta), di Lapangan Medan Merdeka (lapangan Monas sekarang), Meski sempat dipakai untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-2, di Jakarta Tahun 1951, namun dianggap kurang memenuhi syarat untuk pesta olahraga yang lebih besar, seperti Asian Games. Untuk itu, diperlukan suatu tempat baru untuk membangun sarana olahraga tersebut.

Konon, Soekarno berputar-berputar menggunakan helikopter pribadi untuk melihat tempat yang cocok untuk membangun sarana olahraga yang diperlukan untuk Asian Games IV. Ditunjuklah daerah Senayan sebagai tempat pembangunan stadion yang kita kenal sebagai Stadion Utama Gelora Bung Karno.

GBK Tempo Dulu

Beberapa desa terpaksa direlokasi saat pemerintah memulai pembangunan Kompleks Olahraga Senayan. Warga Kampung Senayan dan Kebon Baru harus rela dipindahkan oleh pemerintah, dan penggusuran kampung Senayan dan sekitarnya menjadi kasus penggusuran pertama rakyat setelah kemerdekaan.

Namun, beda dengan penggusuran yang kerapkali menimbulkan bentrokan seperti banyak yang terjadi sekarang, penggusuran Kampung Senayan berjalan dengan sangat kondusif, kompensasi yang diberikan oleh pemerintah pun dirasa adil, seperti yang diceritakan oleh Baba Umar, adik dari nenek saya. Berikut adalah catatan singkat dari obrolan saya dengan beliau.

img_20180812_1347471306769587.jpg
Bapak H. Umar, 80 Tahun, dulu tinggal di Kampung Senayan.

P             : Dulu bapak waktu tinggal di Kampung Senayan kondisinya seperti apa ?

N             : Dulu letak persis rumah Baba Mugeni (orangtua Bapak Umar) di titik bunderan Stadion Utama Gelora Bung Karno, dulu titik rumahnya bapak H. Mugeni (Bapak saya), dibongkar paling pertama. Dulu kebanyakan di situ orang Betawi. Pendatang tidak terlalu banyak. Kondisi jalan pun belum aspal, paling cuman peluran.

P             : Bagaimana pekerjaan warga pada waktu itu?

N             : Dulu banyak yang berkebun, ada juga yang membuka usaha batik, banyak yang menjadi anggota KBPD (Koperasi Pengusaha Batik Djakarta), tapi yang paling utama hasilnya orang Senayan adalah hasil perkebunan, seperti singkong, timun, paya, dan berbagai macam sayuran. Dulu kampung Senayan itu hutannya rambutan, bisa 7 bulan nggak abis-abis.

P             : Dulu Baba rumahnya digusur pada tahun berapa ?

N             : Penggusuran dimulai dari tahun 1958-1960. Dulu waktu dipindahkan ke Tebet pakai truk. Semuanya gratis. Barang semua diangkutin sama kuli, kalaupun bayar, itu hanya untuk memberikan kuli uang rokok.

P             : Dulu waktu Baba sampai di Tebet, apakah sudah disediakan rumah siap huni apa harus membangun dulu?

N             : Jadi waktu di Tebet dulu disediakan bedeng sambil menunggu untuk rumah selesai dibangun. Memanjang sekian ratus meter. Tiap kepala keluarga dikasih satu lobang, 5 kepala keluarga memakai kamar mandi 1, secara bergantian. Jadi dulu masih melarat, bukan enak-enak.

P             : Berarti sambil nunggu rumah selesai jadi, tinggal di situ?

N             : Iya, karena bedeng pun punya Negara, sambil nunggu jadi rumah kita selesai, kalau udah selesai pindah. Kalau untuk keamannya, aman banget dah.

P             : Untuk masalah keamanan?

N             : Dulu juga kan Negara dalam keadaan SOB (Staat van Oorlog en Beleg / Keadaan darurat perang) jadi waktu itu masih banyak loreng-loreng (tentara), jadi keamanan terjamin. Di Tebet, pun pada waktu itu keamanannya bagus, kan baju loreng mondar-mandir, nenteng senapan laras panjang, kalau ada maling ditembak mati, peringatan 3 kali langsung tembak. Maling sih nggak ada. Dulu juga di bedeng ada Hansip juga, dulu juga Hansip dikasih senjata laras panjang untuk ikut mengamankan.

P             : Waktu di Senayan, pas gusuran Stadion Gelora Bung Karno,  dihargai berapa tanahnya dulu?

N             : Dulu harga tanah per meter dihargai 15 perak (rupiah) per meter. Tanah yang sudah disediakan di Tebet pun harus ditebus lagi, dengan harga 12,5 perak per meter, jadi masih untung 2,5 perak.

P             : Untuk masalah pembayarannya seperti apa? Dulu kan tidak ada bank, apa langsung cash?

N             : Iya langsung cash, berkarung-karung dulu pada bawa pulang duit. Bawa pulang uang pun di karung, dibawa naik motor, taro di belakang.

P             : Uangnya kita ambil sendiri apa diantar?

N             : Jadi dulu ada kantornya sendiri untuk pengambilan uang. Diawasin serdadu. Kantornya dulu di Kampung Senayan.

P             : Dulu juga katanya, yang dibayarin sama Negara nggak cuman tanah, tapi buah-buahan dan kebon juga ikut diganti?

N             : Waktu mau dipakai itu lokasi, dihitung kebon kita di dalamnya ada berapa pohon, tapi waktu dibayar tidak dirinci, hanya ditulis kerugian pohon-pohon. Jadi tidak ada rinciannya.

P             : Kalau untuk total penduduk yang digusur dari Senayan ?

N             : Kalau tidak salah sekitar dua puluh ribu jiwa. Kampung yang digusur ada 5, (1) Kampung Senayan, (2) Kampung Pertunduan, (3) Kampung Palmerah, (4) Kampung Pengasinan, dan (5) Kampung Bendungan.

P             : Tapi katanya, dulu Bung Karno juga sempet mendatangi kampung-kampung dan mengumpulkan tokoh masyarakat, apa di kampung Bapak Umar juga?

N             : Nggak, kalo baba dulu tahunya bawahannya saja. Baba dulu kan masih remaja, pasti tahu seluk-beluk kampung, Baba ditarik ikut KUPAG (Komando Urusan Pembangunan Asian Games). Dipinjamkan Jeep satu untuk mondar-mandir, untuk bantu-bantu pembangunan Asian Games. Komandannya Kolonel Sutikno Lukitodisastro. Panitia kebanyakan dari militer, sipil paling urusan bawa-bawa aer teh. Pemuda Senayan diikutsertakan untuk bantu-bantu. Nganter surat dan laen-laen.

P             : Waktu itu juga katanya harga barang meningkat, tapi buat bapak Umar sendiri?

N             : Belum, harga barang waktu itu masih cukup stabil. Penduduk juga kan belum sebanyak sekarang.

P             : Katanya dulu beberapa orang tidak mengambil jatah lahan di Tebet,  bahkan beberapa ada yang langsung dijual ?

N             : Beberapa masyarakat Betawi yang kena gusur ada yang menganggap Tebet adalah tempat jin buang anak. Jadi pada ogah. Dulu di Tebet kedalaman rawa bisa sampai di atas mata kaki, hampir setengah betis. Dulu Rawa Jeruk, Komplek Kejaksaan, juga belum dibangun kayak sekarang.  Kalau jalan dasar udah dikeruk dengan alat berat, tapi kalau untuk lahan pengganti, dikeruk sendiri sekalian pas bangun (rumah).

P             : Kalau ada yang langsung menjual lahannya yang di Tebet, kira-kirang pada pindah kemana?

N             : Banyak yang pindah ke Kebon Nanas, Kampung Kecil, Cidodol, banyak kesana, atau kemana aja yang pada beli rumah sama tanah pribadi. Bukan dijatah / disediakan  pemerintah. Pada bangun rumah sendiri, buat bengkel batik.

P             : Dulu pas penebusan tanah, apa sesuai dengan ukuran tanah yang dimiliki di Senayan, misal katakanlah kita punya tanah di Senayan 100 meter, apa diganti dengan ukuran yang sama ketika di Tebet ?

N             : Digantikan sesuai dengan apa yang kita punya di Senayan. Dulu Bapak H. Mugeni (Orangtua Bapak Umar), punya rumah, ada bengkel batik, kandang sapi, jadi lebih banyak dapat kavling, kavling di Tebet, berdasarkan bangunan di Senayan. Kalau cuma punya tanah, di Tebet tidak dapat kavling, dapat uang gusurannya saja.

P             : Rugi gak kalau begitu?

N             : Ya kalau dulu nggak rugi, kalau sekarang biang-biang rugi. Kalau Bapak Ali, mertua Bapak Umar dulu, di Senayan punya kandang sapi, bengkel batik, dan segala macem, jadi lebih banyak dapet kavling, dibandingkan tanahnya. Pokoknya asal punya bangunan, diganti sama kavling. Kalau tanah hanya diganti uang. Tapi tanah kavling tetap harus ditebus.

P             : Apakah aparat waktu itu bersifat represif?

N             : Tidak, meskipun mereka yang ngurus, mereka tidak mengambil jatah kavling, seperti Pak Padmo Suwarno, kapten angkatan udara yang dulu tukang tandatanganin kavling Tebet. Dia yang ngurusin surat kavling, tukang ngasih nomor kavling, yang tandatanganin surat kavling, Tapi dia tidak punya kavling, dia beli dari masyarakat.

P             : Waktu sebelum penggusuran, apakah harga yang 12,5 Perak udah disepakati sama warga, ataukah terjadi tawar menawar dengan pihak pemerintah?

N             : Jadi waktu itu kita dikumpulin dulu di masing-masing kelurahan 5 Kampung tadi, kelurahannya yang mengatur. Tanah kita mau dipakai (untuk pembangunan), setuju atau tidak, gitu.

P             : Tapi setuju?

N             : Ya setuju aja, mao ngelawan militer? Haha.

P             : Apakah waktu itu rela digusur?

N             : Rela saja, karena untuk kepentingan umum dan Negara. Jadi nggak ada paksaan. Kumpul di kelurahan, sama lurah. Di briefing, dan akhirnya nerima.[17] Kalau teknis penggusuran dan pembangunan, ahlinya yang mengurus, dan diawasi sama pihak militer. Jangan sampai ada yang menghalangi.

Pesta Olahraga Asia IV pada tahun 1962 dan Ganefo pada tahun berikutnya  merupakan awal pelaksanaan pembangunan secara besar-besaran, Upacara pembukaan Asian Games ke IV tahun 1962 dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dihadiri oleh lebih dari 110.000 orang.

Pada pidatonya Bung Karno mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan tonggak sejarah bagi Bangsa Indonesia khususnya dibidang olahraga yang merupakan bagian dari Nation and Character Building, maupun dalam rangka pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s