Review Buku – Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri

Judul               : Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri
Penulis            : Thomas Hidya Djaya
Penerbit          : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan           : III, April 2018
Tebal                : xviii + 178 hlm ; 13 cm x 19 cm

Søren Aabye Kierkegaard adalah pelopor filsafat eksistensialisme, suatu filsafat yang menekankan bagaimana seeorang dapat mengada (to exist). Kierkegaard dibesarkan di suatu keluarga yang relijius. Ayahnya adalah seorang Kristen yang sangat taat.  Namun, masa mudanya sering dihabiskan untuk ngebandel dan bersenang-senang, bahkan sampai ada anekdot, “Jangan namakan anak kalian Soren”, karena perilaku buruk yang Kierkegaard lakukan sewaktu muda. Kierkegaard bahkan membatalkan perkawinannya dengan Regina Olson, seorang perempuan yang sangat dicintai olehnya, karena Kierkegaard merasa dirinya sudah kotor.

Sebagai seorang filsuf yang sangat menekankan kepada suatu bentuk ke-otentikan diri, Kierkegaard menyadari tentang bahaya ‘kerumunan’. Menurut Kierkegaard, publik dan kerumunan itu menghilangkan identitas pribadi. Di dalamnya hanya terdapat abstraksi. Kierkegaard juga memperingatkan agar orang tidak mencari kesamaan pendapat dengan public karena hal itu adalah suatu bentuk penghiburan yang menipu (a deceptive consolation) dan ini membuat hidup banyak orang menjadi palsu. Untuk menjadi diri sendiri yang otentik membutuhkan keheningan, yang tidak dapat mungkin ditemukan di dalam kerumunan atau public.

Bagi Kierkegaard, yang kongkret adalah seorang individu yang memiliki hasrat untuk hidup secara otentik. Untuk hidup otentik, seseorang harus berani menyatakan siapa dirinya lewat keputusan-keputusan yang dibuatnya. Mengada (to exist) bukan sekadar “ada” begitu saja, bukan sekedar hidup di dalam rutinitas yang membosankan.

Kierkegaard memuji Socrates yang tetap kekeuh dengan ajaran-ajarannya meski dituduh menyesatkan kaum muda, Socrates tetap melawan arus massa, meski harus mati dan dipaksa meminum racun. Keberanian untuk hidup otentik seperti inilah yang patut untuk diperjuangkan.

“Supaya segala sesuatu dapat direduksi menjadi setingkat, pertama-tama perlu didapatkan hantu, roh, abstraksi yang menakutkan, sesuatu yang merangkum segalanya, yang sebetulnya kekosongan belaka, bayangan yang menipu-dan hantu itu adalah publik.” (PA – 264-265)

Kierkegaard mulai belajar filsafat sebagai bentuk pelarian karena pergolakan batin yang terus menerus dialami oleh dirinya. Bagi Kierkegaard, filsafat bukanlah alat untuk menuju pengetahuan absolut seperti yang dikemukakan oleh dialektika Hegel.

Bagi Kiekegaard, masalah utama adalah bukan bagaimana mengetahui kebenaran objektif, secara total, sebagai seorang yang dibesarkan di suatu lingkungan relijus, Kierkegaard menganggap bahwa kebenaran objektif hanya milik Tuhan, paling-paling manusia hanya dapat mengetahui hal-hal yang nyerempet dengan kebenaran objektif tersebut.

Bagi Kiekegaard, kebenaran objektif menjadi berguna karena tidak memiliki impact langsung di dalam hidup seorang individual. Yang penting baginya, suatu kebenaran, dapat dipeluk secara pribadi. Dengan melalui paradoks, menganalisis diri sendiri, dan mengenali diri sendiri. Dari situ, bagaimana kita, sebagai manusia, sebagai subjek, mampu menggunakan pengetahuan kita untuk menjadi eksis, dengan pilihan yang kita pilih secara penuh gairah (passionate).

Wilayah Eksistensi dan Keputusasaaan (Sphere of Existence and Despair)

Kiekegaard, membagi wilayah eksistensi, menjadi tiga, menjadi tahap-tahap jalan hidup (stage of life’s way) Penggolongan ini didasarkan pada wilayah eksistensi karena, menurut Kiekegaard bahwa dalam setiap wilayah eksistensi ada pandangan dan pengandaian tertentu, yang bagi orang-orang di yang berada di dalam tahapannya mereka dapat mencapai kepuasan dan kepenuhan hidup.

  1. Tahap Estetis, dapat digambarkan sebagai usaha mendifinisikan dan menghayati kehidupan tanpa merujuk pada yang baik dan jahat. Ia tidak memikirkan apakah tindakan itu baik atau jahat dan kemudian menilai apakah itu boleh dilakukan. Ketika seorang tetiba berhasrat untuk berhubungan seks, ia akan pergi ke rumah-rumah pelacuran, atau mencari perempuan atau laki-laki untuk dirayu, pemenuhan keinginan di level Estetis adalah langsung dan spontan (immediate). Tanpa ada pertimbangan baik dan buruk, yang ada hanyalah kepuasan dan ketidakpuasan, nikmat dan sakit, senang dah susah, ekstasi dan putus asa.
  2. Tahap Etis, orang mulai memperhitungkan dan menggunakan kategori yang baik dan buruk. Hidupnya tidak lagi bersifat spontan, melainkan sudah memuat pilihan-pilihan konkret yang berdasarkan pertimbangan rasio. Namun ini tidak hanya perkara baik-buruk saja, di sini pertanyannya adalah dalam kualifikasi apakah orang akan melihat seluruh eksistensinya dan menghidupinya secara pribadi. Di wilayah etis, adalah kemampuan seseorang untuk memilih, terlepas ia baik atau buruk, berdasarkan pertimbangan rasio.
  3. Tahap Religius, orang menyadari bahwa pertimbangan baik dan buruk tidak lagi memadai untuk hidupnya. Ketika seseorang sudah mampu untuk ‘dekat’ dengan Tuhan, contohnya dapat dilihat di dalam kisah Ibrahim, yang menyembelih anaknya atas perintah Tuhan. Jika ia masih berpegang pada level Etis, Ibrahim tidak mungkin mau menyembelih anaknya, singkat kata, kepercayaan personal seseorang yang menjadikan dirinya dapat naik ke dalam level Religius. Yang bernilai adalah relasi dengan Yang Ilahi. Dalam pemberian diri dan komitmen kepada Yang Ilahi orang harus terus-menerus menyingkirkan dan membersihkan segala bentuk perhatian pada diri sendiri (self-regard) dari motivasinya bertindak, termasuk keinginan memperoleh kebahagiaan abadi bersama Yang Ilahi.

Setiap orang dalam hatinya yang terdalam pasti pernah mengalami berbagai pergulatan; ruang batinnya menjadi ajang pertempuran berbagai gagasan dan pertimbangan yang tidak jarang sangat mendera hati. Kalau akhirnya orang tersebut mampu untuk menentukan pilihan, dasar-dasar prinsipnya bertindak muncul dari keyakinan hati secara pribadi, atau yang secara umum disebut ‘subyektivitas’.

Ketidaklengkapan informasi kerap membuat manusia merasa cemas jangan-jangan ia salah memilih, terlebih bila pilihan itu bukan antara yang baik dan yang jahat, melainkan antara dua kebaikan, bagi Kiekegaard, itulah drama eksistensi manusia. Menurut Kierkegaard, manusia merupakan pengada yang selalu ditantang untuk memilih dan mengambil  keputusan dalam pergulatan hidupnya. Dibutuhkan suatu lompatan (leap), untuk membuktikan eksistensinya, karena manusia, secara subjek, memiliki kebebasan untuk memilih.

Kiekegaard, sebagai seorang yang mempolopori eksistensialisme, yang nantinya akan mempengaruhi filsuf lain seperti Heidegger, Sartre, dibawakan dengan gaya bahasa yang santai, dan tidak rumit di dalam buku ini. Di bagian akhir buku, terdapat rujukan dari tulisan-tulisan asli dari Kiekegaard, jika pembaca ingin mengetahui lebih lanjut pemikirannya, terdapat pula kepustakaan sekunder yang merupakan tulisan orang lain tentang Kiekegaard. Saya pikir, buku ini bagus sebagai pengantar jika pembaca ingin mengenal sosok Soren Abye Kierkegaard, pelopor filsafat eksistensialisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s