Dari Kacamata Murid

Hardiknas.

Hari Pendidikan Nasional.

Baru saja diperingati beberapa hari lalu, diperingati dari Hari Lahirnya Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, pendiri sekolah Taman Siswa.

Tapi saya tidak akan bicara banyak soal itu hari ini. Tapi tentang suatu keusilan yang ada dalam diri, menanyakan, “Apa sih makna pendidikan?” terutama dari kacamata para murid.

Sebagai seorang guru honorer suram yang mengajar salah satu sekolah swasta di Selatan Ibukota, saya menanyakan kepada diri sendiri, iseng saja. Sebab, selama ini, dan waktu bersekolah dulu, peringatan Hardiknas hanya sebatas upacara, sejauh ingatan yang saya miliki. Mentok-mentok tukeran kado antara guru dan murid, murid ngasih kado, guru ngasih nilai. hehe.

Apa waktu itu peringatan Hari Guru yah ?

Ah lupa, pokoknya begitu deh.

Seingat saya dulu, ketika terjadi peringatan Hari Pendidikan, selalu guru-guru yang berpidato soal itu ketika upacara, atau kepala sekolah. Murid, sebagai salah satu aktor pendidikan juga, tidak dilibatkan.

Iseng, saya menanyakan kepada murid-murid, dengan beberapa pertanyaan, sebenarnya, apa sih yang mereka rasakan sebagai pelajar di dalam dunia pendidikan Indonesia ?

Alhasil, saya membuat semacam angket, bagikan ke murid, lalu kutunggu hasilnya.

Kebetulan, sekalian mengisi jadwal PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), sekalian saja melepas angket ini. Lantas kutunggulah, sambil tidur. Sebab sedang berpuasa tadi siang, tidak bisa udud sambil ngopi.

Pertanyaan saya simpel, apa yang mereka rasakan, apa yang akan mereka lakukan, serta bagaimana jika mereka pada akhirnya meniti karir di bidang pendidikan. Jawabannya beragam, ada yang normatif asal tugas kelar, curhatan, impian, dan lain sebagainya. Bahkan beberapa menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan. Tidak mengapa, itu adalah cara mereka mengekspresikan kebebasan berpikirnya, saya tampung saja.

Saya mengkompilasikannya sedikit yang menarik saya posting.


Unek-unek

Unek-Unek yang ada di kepala beberapa muridku.

Dari beberapa kompilasi komplainan di atas, ada beberapa permasalahan yang dirasakan oleh beberapa anak-anak saya, saya pikir bisa dilihat. Saya akui, apa yang saya baca hari ini, cukup membuat nyes ati.

Matematika masih dianggap parameter cerdas atau tidaknya seorang siswa, padahal, bakat banyak sekali spektrumnya, sangat tidak manusiawi rasanya mengukur mampu tidaknya seorang murid hanya dalam kemampuan hitung-hitungan matematikanya.

Masalah jadwal sekolah yang kepagian dan pulang kesorean, serta berjubel juga banyak tidaknya pelajarannya (yang pribadi saya, saya sangat setuju akan hal ini), murid di sekolah bisa sekitar 8 jam sehari, macam buruh-pekerja-karyawan sahaja. Pelajaran begitu padat, bisa sampai 180-235 menit tanpa henti, tentu rasanya bikin mual untuk mereka. Digebuk lagi dengan beban PR yang harus mereka bawa pulang.

Masalah pertemanan antar-murid, ini yang kadang bagi guru, berada di bawah radar, bahkan ada yang ditemani untuk dibully, atau dirundung. tetapi terkadang beberapa guru hanya menepisnya dengan “Toh mereka cuman bercanda. Itu buktinya tetap ditemani.” Sungguh terkesan sangat meringankan hal yang sekiranya bisa menjadi luka seumur hidup.

Membeda-bedakan antara si pintar dan si bodoh, rajin dan malas, pokoknya siswa yang memiliki dua kutub yang berbeda. Kurangnya perlakuan adil kepada murid A dan murid B. Mereka hanya ingin diperlakukan adil.

Belum lagi masalah kondisi ekonomi dan psikologi keluarga, yang tentunya, berada di luar kendali murid dan guru tersebut. Ini artinya memang pendidikan tidak bisa diandalkan kepada Guru dan Murid saja, tetapi peran dan kondisi Orangtua serta Wali juga sangat menentukan.

Banyak yang jawab, tapi saya pribadi berpikir, beberapa tulisan di atas cukup stand-out dibandingkan tulisan-tulisan yang lain, saya berpikir untuk menyatukannya. Maaf jika kemampuan editing saya buruk. Asal potong saja, yang penting poinnya tidak hilang.


Saya pikir beberapa hal di atas menjadi tantangan di bidang pendidikan. Faktornya tidak terletak kepada bagus-tidaknya sekolah saja, efektif atau tidak kurikulumnya juga. Tapi, masalah “belakang layarnya” sangat kompleks. Ini baru dari kacamata murid, belum dari guru, serta institusi penyelenggara pendidikan, serta segala tetek-bengeknya.

Meski begitu, segimana suram pun keadaan, pelan-pelan, pelan-pelan semoga kita mampu mengatasi masalah ini semua.

Selamat(kan) Hari Pendidikan Nasional.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s