Keadaan yang Suram

Saya ingin memulai 2020 dengan suatu catatan, yang mungkin, bagi sebagian orang, cukup membuat depresi.

Bahwa hidup, dan / atau kehidupan itu suram.

Kenapa begitu ?

Sebab saya rasa, hidup lama-lama seakan tidak ada artinya. Kosong. Hampa.
Tetapi, dari kekosongan tersebut, dapat lahir suatu makhluk.

Makhluk yang bernama “Makna”

Kesuraman dalam memandang hidup ini telah bersama saya, mungkin sekitar tahun 2018, mungkin, semenjak setelah saya bermain videogame, NieR:Automata.

(Saya tidak akan menceritakan panjang lebar tentang game tersebut. Sudah pernah saya tulis soal game tersebut di platform lain. Paling, hanya mengambil beberapa intisarinya saja)

Yah, terkesan konyol memang, ketika engkau mengetahui bahwa begitu besar impact yang dapat diberikan oleh suatu videogame, yang sebagian orang hanya akan men-dismiss sebagai “mainan anak kecil”.

NieR : Automata adalah suatu game yang mencoba men-tackle salah satu pertanyaan fundamental dalam hidup ?

Apa sebenarnya, tujuan hidup kita ?

Di dalam game tersebut, kita bermain sebagai seorang prajurit android, yang hanya tahu membunuh musuh, dan memenangkan perang para tuannya. Robot dibawahi oleh Alien, Android bertempur untuk manusia. Robot-Android ini dibuat hanya untuk tujuan tersebut. Tidak ada tujuan lain.

Hingga akhirnya terungkap, bahwa player (yang diwakili oleh 3 karakter yang dapat dimainkan di gamenya), ternyata ditipu. Perang yang telah dilakukan selama ratusan tahun, ternyata semua hanya fabrikasi, hanya tipuan, semua itu dibuat hanya untuk membuat para Android memiliki tujuan untuk mereka hidup. Di dalam game ini, banyak beberapa “makhluk ciptaan ini” menjadi deserse, meninggalkan apa yang menjadi tugas mereka. Mereka mencari tujuan hidup yang lain. Untuk mereka sendiri.

Beberapa mencari cinta.
Beberapa mencoba memilki keluarga.
Beberapa memutuskan untuk membuat suatu komunitas pasifis, gumoh dengan perang, mereka memutuskan jaringan mereka dengan mesin yang masih terlibat peperangan.
Beberapa melatih diri menjadi kuat, untuk dirinya sendiri.
Salah satu dari mereka bahkan hanya ingin menjadi pelari tercepat.

Pencarian hidup mereka ini, yang seakan-akan menyentil kepala saya. Yah, cerita fiksi memang betul dapat memberikan inspirasi.

Jadi begini, tentu, beberapa dari kita, sewaktu kecil, mestilah memiliki cita-cita, setinggi apapun, atau bahkan sekonyol apapun.

Presiden. Tentara. Polisi. Pemain Bola. Seniman. Musisi.
You name it.

(Saya ingat dulu punya teman sewaktu kecil memiliki cita-cita untuk menjadi pedagang mainan, karena menurut beliau, mainan itu menyenangkan, entah dimana sekarang dia berada, semoga dia benar-benar menjadi pedagang mainan yang berbahagia)

Barangkali, ketika kita masih kecil, pengetahuan kita masih terbatas, masih buta. Persis seperti para prajurit robot-android yang ada di NieR:Automata.

Barangkali, kita semua dibutakan oleh cita-cita tersebut, apalagi tentu, seringkali beberapa dari kita mungkin, dituntut untuk menjadi “perfect children” oleh orangtua masing-masing.

Menjadi seorang yang berbakti, cemerlang dalam akademis, serta memiliki kemampuan atletis.

Hingga semakin kemari, semakin kesini, kita mulai berpikir.

“Kok aku, harus terus-terusan nurutin kata mereka sih?”

“Mereka” disini itu bisa siapa saja, baik itu orangtua, guru di sekolah, walimu, atau mungkin, lingkungan dimana kita tinggal ?

Oleh mereka, kita diberikan tujuan, bagaimana harus berlaku sebagai anak, dan mungkin, beberapa ada yang kita ikuti, beberapa ada yang kita indahkan, dan seterusnya dan seterusnya.

Hingga kita jengah, lelah dengan segala tuntutan itu. Beberapa mencari untuk mereka sendiri, beberapa tetap mengikuti, karena memang hanya itu yang dia tau.

Saya termasuk yang pembangkang. Bosan sekali rasanya mendengarkan ceramah yang “itu-itu aja”.

Jadi ini lah, jadi itu lah.
Jadi anak soleh lah.
Jadi anak pinter lah.
Jadi anak (masukkan sendiri) lah.

Tetapi saya jarang diperkenankan untuk mempertanyakan hal itu, jarang diberi kesempatan untuk berkata, “Kenapa?”. Seringkali, ini hanya berakhir di dalam kepala, dan barangkali, tersimpan di seuatu safebox di pojok memori, dan belum lama terbuka, salah satunya, karena NieR:Automata.

Saya berpikir, berpikir dan berpikir. Tidak ketemu.
Halah ribet, jalanin aja.
Eh, kosong.
Semuanya kosong.

Seingat saya, saya memainkan ulang NieR:Automata sampai 4 atau 5 kali.
Tersadar, dan membuat saya mengumpat

Wah, bajingan!

Para karakter itu, mereka setelah lelah diperintah, mereka berbuat sendiri, mereka bukan mencari.

Mereka membentuk.
Membentuk tujuan mereka sendiri.
Merancang dan membuat “makna hidup” mereka sendiri.

If you can’t find it, you create it.
Create meaning, from nothing.

Aku melihat ke dalam diriku,
Aku melihat ke sekeliling.

Bajingan. Ternyata semua sudah ada di depan mata. Hanya tinggal diolah saja.

Aku mengambil serpihan-serpihan yang terhampar di depan mata, mulai menyusun mereka, layaknya mainan lego. Perlahan, perlahan, hingga akhirnya terbentuk.

(Bangsat, entah kenapa kalimat terakhir terasa begitu klise)

Dalam membentuk makna, aku banyak menemukan :

Aku menemukan orang yang patut kuperjuangkan.
Aku menemukan kehidupan, yang harus dipertahankan.
Aku menemukan lingkungan, yang begitu menyenangkan.
Aku menemukan diriku, yang akan menuju otentisitas.

Hidup ternyata nggak sia-sia.
Ada secercah harapan yang timbul setelah menyadari ini.
Aku tidak lagi hidup secara auto-pilot.

Aku menyadari, bahwa segala sesuatu, jika dia diberikan makna, maka akan bermaknalah sesuatu tersebut. Jika tidak, ya sudah loss saja, tidak perlu dipusingkan. Tidak usah miliyaran objek dan subjek memenuhi isi kepalamu.

Memfokuskan apa yang penting.
Melatih diri untuk menjadi pribadi yang otentik.
Tidak melulu ngekor orang tanpa pertimbangan.
Memahami bahwa di tiap aksi ada konsekuensi, yang terkadang tidak bisa diprediksi.

Lebih lagi, ini semua tidak saklek.
One man junk is another man treasure.

Tidak semua orang melihat hal yang sama.
Tidak semua orang memiliki tujuan yang sama.

Bebas, perasaan ini terasa begitu membebaskan.

Jikalau aku dulu bisa berkata, hidup tiada artinya.

Kini aku bisa berteriak, HIDUP TIDAK ADA ARTINYA!

Karena tentu, kita sendiri yang menentukan artinya.

Dari orang yang mencari otentisitas hidup
Tebet, 2 Januari 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “Keadaan yang Suram

  1. Waw, menarik sekali tulisannya, apa lagi mengangkut game yang menyoalkan eksistensial.

    In my opinion, makna itu sendiri tidak ada yang otentik, ia diproduksi dari, oleh, untuk kebutuhan masyarakat.

    Tapi, bagiamana tubuh manusia berdialog dengan kesadaran telah menciptakan personalitas yang khas.

    Kekhasan personalitas inilah yang membedakan seseorang dalam menjiwai dan menciptakan makna

    Just my opinion hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s