Semua Guru, Semua Murid.

Semua Murid, Semua Guru.

25 Nopember. Tanggal dimana kita memperingati Hari Guru Nasional. Hari khusus yang dipersembahkan untuk para guru.

Guru nggak melulu mengajar di sekolah, guru nggak melulu mereka yang berada di ruang kelas, dari pagi hingga petang, guru nggak melulu mereka yang ikut upacara saban Senin. Guru adalah siapa saja yang mampu mengajar, yang mampu mendidik.

IMG-20191125-WA0008.jpg

Guru mengemban tanggung jawab yang berat. Digugu dan ditiru. Berat. Bahkan saya yakin Dilan pun tidak akan kuat. Tidak berhenti di sekolah, guru pun juga diharapkan harus bisa menjadi role model di dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak jarang saya bertemu pernyataan, ketika saya melakukan sesuatu yang terkesan seenak udel, diberikan tanggapan :

“Loh, Guru kok begitu?”
“Ah elu gimane jadi guru”

Dan sekelumit sindiran lainnya. Itu mengapa sebabnya, saya pribadi emoh dipanggil dengan sebutan guru. Saya kebetulan cuman seseorang yang diberi kesempatan untuk ngoceh saban hari di depan kelas tentang masa lalu. Diberikan panggilan sebagai “guru”, saya pikir, untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu, pundak saya terlalu kecil. Iya, saya guru sebatas di sekolah saja, sebatas di ruang kelas saja. Di luar, saya cuman orang biasa.

Semua Guru, Semua Murid

Itu baru tanggung jawabnya, atau barangkali, memang saya yang berlebihan melihat pekerjaan yang saya jalani sehari-hari. Belum lagi hal-hal yang sifatnya administratif yang membikin puyeng.

Bercerita sedikit, kemarin sekolah saya mengadakan Akreditasi. Begitu pusingnya saya dengan urusan-urusan yang sifatnya administratif dalam pekerjaan ini. Entah berapa ribu kertas yang terbuang karena harus urus RPP, Prota, Prosem, indikator ini, itu, beh mumet.

Dulu saya pikir, ketika saya masih jadi pelajar, guru hanya datang mengajarkan apa yang ada di dalam buku paket sekolah. Karena memang, selama saya bersekolah dulu, itulah yang saya lihat. Tetapi setelah menempuh kuliah pendidikan selama 10 semester, banyak sekali pekerjaan “belakang layar” yang harus dilakoni oleh seorang guru. Apalagi ketika masa Akreditasi, saya dan rekan-rekan guru lain pun sampe harus begadang, pulang malam, bahkan ada yang sampai menginap di sekolah. Beban moral tidak cukup, ditambah lagi beban administrasi. Huft.

Satu lagi yang saya ingat, terselip kata-kata,

Sebenarnya menjadi guru itu bukan pilihan kita, tetapi kita dipilih oleh Tuhan untuk menjadi guru

Jika benar ucapan itu, aku minta kepada Tuhan untuk dilebarkan pundakku, cukupkan agar dia mampu untuk menanggung tanggung jawab yang sangat berat ini.

Tetapi dengar-dengar, Mentri Pendidikan baru akan merubah sistem administrasi, agar guru bisa lebih fokus mengajar dan berkreasi, semoga benar begitu. Juga, masalah guru honorer, yang dari dulu, kesejahteraan mereka memprihatinkan. Beban mereka tidak sesuai dengan pembiayaan. Memang menjadi guru itu pilihan, tetapi apa salahnya mereka menuntut kesejahteraan. Mendengar Menteri Pendidikan kemarin, honorer gaji kecil masuk surga, ngenes rasanya. Apalagi setelah itu dia bicara peran guru yang sangat, sangat banyak, dan berat.

Mendengar julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, rasanya membuat diri ingin ketawa.

Mengingat dosa saya dulu sebagai murid yang cukup merepotkan, saya merasa nista, saya merasa durhaka. Jikalau dari dulu aku tahu menjadi guru sangat berat, setidaknya aku tidak akan berbuat yang merepotkan.

Barangkali ini karma, hidup kadang begitu lucu~

Tetapi saya pikir, guru nggak mulu ada di sekolah, atau institusi pendidikan lainnya. Entah itu pesantren, bimbel, tempat kursus, dan lain sebagainya. Bagi saya pribadi, tiap dari kita bisa belajar dari orang lain. Hal besar, hal kecil, kita semua belajar dari orang lain. Baik dari guru, ataupun dari buruh.

Banyak hal yang tidak kita dapatkan di sekolah, namun bisa kita pelajari dari orang lain. Justru, guru terbaik adalah kehidupan. Keseharian, kesemingguan, kesebulanan, dan kesetahunan. Jika kita mau berpikir sedikit, dan mau menyimak, dari orang lain, siapapun itu, dari tanda-tanda alam, apapun itu, dan dari waktu, kapanpun itu. Kita bisa mendapati, bahwa…

“Semua Guru, Semua Murid”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s