Aoi Torii Film Review

Link Asian Wiki

Aoi Torii adalah kisah tentang perundungan, tetapi dari sudut pandang pelaku, dan yang melihat aksi perundungan, namun memilih untuk membiarkannya. Sebuah film yang menyajikan “bullying” dari sudut pandang pelaku dan teman korban.

Sebagai seorang yang pernah menjadi korban dan pelaku bullying, film ini cukup “ngena” untuk ditonton. Apalagi, saya sekarang menjalani profesi yang sama dengan tokoh utamanya, sebagai seorang guru.

“Mencoba Melupakan, itu sifat pengecut.”

WARNING : CONTAINS  SPOILERS!

Plot
Aoi Torii menceritakan tentang seorang guru di SMP Higashigaoka, yang sedang diguncang maslah tentang perundungan (bully). Salah satu muridnya, Noguchi mencoba untuk membunuh dirinya sendiri lantaran seringkali dirundung oleh teman-teman sekelasnya. Dalam semester baru, terdapat guru baru yang akan mengajar di Highashigaoka, menggantikan wali kelas yang sedang mengambil cuti karena terkena dampak dari perundungan. Guru tersebut bernama Murauchi.

Ketika pertama kali masuk, semua murid kelas dua tersebut terkejut karena Murauchi-sensei ternyata seorang yang cara bicaranya gagap, seringkali terpatah-terpatah. Tetapi dia menekankan tentang pentingnya untuk mendengarkan “kata-kata yang tulus,”

Screenshot_20190907-114005

Sebagai wali kelas pengganti, instruksi pertama Murauchi adalah mengambil kembali meja milik Noguchi yang sudah disimpan di gudang, karena orangtuanya memutuskan untuk Noguchi agar pindah sekolah, menaruh mejanya kembali ke tempatnya semula. Setiap pagi, Murauchi akan memulai kelas dengan menatap ke meja Noguchi, dan menyapanya, “Selamat pagi, Noguchi.” Bahkan, ketika bangku tersebut dikeluarkan, Murauchi akan mengambilnya kembali dan menaruhnya kembali ke dalam kelas.

Kegiatan yang dilakukan setiap hari ini menimbulkan rasa tidak nyaman kepada jajaran staf guru, orangtua murid, dan terutama, murid-murid yang ada di dalam kelas tersebut. Tetapi itu tidak membuat Murauchi menghentikan hal tersebut. Walaupun berkali-kali sudah ditegur, baik oleh pihak sekolah dan diprotes oleh para murid, Murauchi tetap melakukannya. Karena baginya,

Mencoba melupakan, itu adalah sifat pengecut.

Dia terus melakukannya, sampai pada akhirnya, Murauchi harus pergi.

Screenshot_20190908-015809

Review
Saya tak sengaja menemukan film ini ketika sedang fesbukan, kalau tidak salah, dalam postingan yang saya lihat tersebut, ini adalah yang menceritakan tentang pembullyan, dan dampak yang dirasakan oleh para pelaku, bukan oleh korban. Jadi, lewat film ini, kita diajak untuk melihat bagaimana, rasa yang muncul dan dirasakan oleh pelaku ketika mereka telah melakukan perundungan yang “kelewatan batas,”

Ketika Murauchi mengucap, bahwa “mencoba melupakan, adalah sifat pengecut,” nampaknya dimaksudkan untuk menyindir para jajaran sekolah, murid-murid yang tidak mau menyelesaikan kasus bullying ini secara penuh. Para pelaku perundungan hanya disuruh untuk menulis di kertas, yang disebut sebagai “kertas renungan” dan hanya sebanyak 5 lembar. Tanpa ada pinalti yang benar-benar pantas untuk para pelaku.

Sedang tindaklanjut dari sekolah, untuk kasus perundungan yang menimpa Noguchi, hanya kotak keluhan yang dinamai Burung Biru (Aoi Torii) yang disebar di beberapa titik di sekolah. Yang dimaksudkan sebagai kotak untuk menceritakan keluhan para siswa untuk dibaca dan ditindaklanjuti oleh OSIS dan pihak guru-guru di sekolah. Tetapi para siswa nampaknya tidak berkenan, karena yang ada di dalam kotak tersebut ketika beberapa kali dibuka hanya berisi sampah dan kertas sisa makanan. Sampai pada suatu ketika ada pertanyaan di dalam kotak Aoi Torii.

vlcsnap-2019-09-08-16h43m19s163

Apakah membenci, sama dengan perisakan?
Ataukah itu, hak setiap orang ?

Sonobe, menanyakan kepada forum hal tersebut. Sonobe, adalah teman sekelas Noguchi, Sonobe memang tidak melakukan bullying, tetapi Sonobe diam saja ketika Noguchi mengalami perisakan. Memang Noguchi nampak seperti tidak mengeluh dengan perisakan yang menimpa dirinya, karena dia lebih tertawa ketika sedang dirisak oleh teman-temannya. Guru-guru yang melihat pun mengira bahwa Noguchi adalah anak yang populer dan disenangi oleh teman-temannya, karena dia selalu nampak tertawa dan dikelilingi oleh teman-temannya.

Dijawab oleh Murauchi,

“Membenci, bukan bagian dari perisakan(bully). Jumlah orang juga bukan penyebabnya. Saat kau menindas orang, atau menyakitinya, tapi kau tidak menyadari perbuatanmu, dan berpura-pura tidak tahu, itu namanya perisakan.”

Bagi Murauchi, apapun itu bentuknya, ketika terjadi penindasan di sekitar kita, tetapi kita tidak berbuat apa-apa, sungguhlah kita telah menjadi bagian daripada penindas itu.

Karena hanya mengambil dari sudut pandang seorang guru dan jajaran sekolah, dan jarang sekali melibatkan (bahkan hanya sedikit saja) sudut pandang korban, film ini terasa kurang powerfull. Pesan yang diberikan dirasa sangat tanggung.

Di dalam film, juga dapat dilihat bahwa, meskipun terlibat, tidak semua orang mau untuk mengakui bahwa mereka sudah melakukan perundungan, hanya beberapa dari teman-teman sekelas Noguchi yang mau “merivisi” surat penyesalannya ketika di akhir cerita, setelah diberikan pemahaman bahwa, apa yang telah mereka lakukan kepada Noguchi, selama ini salah, dan itu telah memberikan dampak yang sangat besar kepada korbannya. Mungkin benar, ketika mereka melakukan perisakan, tidak semua, baik pelaku atau korban, sadar apa yang sedang mereka rasakan atau lakukan itu termasuk di dalam kategori bullying.

Terkait adegan film, banyak yang saya rasa tidak perlu dimasukkan ke dalam film. Sayang sekali, dari beberapa adegan yang dirasa dengan perlu, bisa diganti dengan adegan Noguchi ketika dia menjadi korban perisakan, dengan begitu, pesan yang ada di dalam film dapat dibawakan secara lebih kuat, dan dapat memperkaya. Alur cerita yang ada di film ini juga dirasa sangaaat lambat, bahkan terasa membosankan ketika menontonnya, tetapi tidak cukup membosankan untuk membuat anda tertidur ketika menontonnya. Karena saya rasa, banyak adegan-adegan yang dirasa seeperti jeda film, barangkali untuk memberikan waktu kepada audience untuk berpikir.

Bagi saya yang pernah menjadi korban dan pelaku bullying, film ini memang bisa sangat “ngena”. Terlebih lagi saya sekarang sedang menjalani profesi yang sama dengan Murauchi, seorang guru.

Bagi saya, film ini memberikan semacam warning untuk senantiasa memperhatikan para murid, atau siapapun yang ada di sekitar kita. Terutama di sekolah, banyak sekali kasus perundungan/perisakan yang ditutup-tutupi, baik oleh sekolah, korban, atau pelaku. Seperti yang digambarkan di dalam film ini. Pihak sekolah yang tidak mau lagi membahas dengan alasan harus fokus dengan ujian anak kelas 9, dan bahkan di dalam salah satu adegan film, kepala sekolah mengatakan bahwa,

“Higashigaoka adalah kapal yang akan membawa murid-murid menuju pelabuhan. Pelabuhan itu disebut dengan kelulusan. Noguchi nampaknya tidak mau bergabung dengan kapal ini dan memilih untuk keluar saja.”

Kasus perisakan yang ada di dalam sekolah, nampaknya enggan untuk diselesaikan secara serius oleh pihak sekolah. Para pelakunya pun begitu, mereka memilih untuk menunjuk hidung satu sama lain ketimbang memperbaiki perilaku mereka. Di adegan akhir film, hanya sedikit dari para pelaku yang mau untuk merivisi “surat dosa” mereka.

Apa yang terlihat seperti baik-baik saja, bukan berarti memang mereka baik-baik saja. dan saya pikir, Aoi Torii mampu menjelaskan pesan tersebut, meskipun sama seperti Murauchi, dengan cara gagap dan terbata-bata.

Saya beri film ini rating 3.5 dari 5

 

2 thoughts on “Aoi Torii Film Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s