Dari Revolusi ke Korupsi

Sumber gambar  : http://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=60631

Bung Karno dan Pak Harto dari Revolusi ke Korupsi
Haryo Sasongko
Pustaka Grafiksi
Jakarta
Oktober 2006
X + 150

 

 

 

 

Buku ini banyak menceritakan dosa-dosa Soeharto yang dilakukan kepada Soekarno, serta juga beberapa kezaliman-kezaliman yang Soeharto lakukan ketika dia melakukan “kudeta merangkak”, dan kezaliman yang Soeharto lakukan ketika menjabat sebagai presiden semasa Orde Baru. Dari judulnya saja sudah cukup menyedihkan untuk dibaca. Dalam penjabarannya penulis menghantarkan kita kepada kisah, suatu kisah revolusi yang sudah dibangun di masa pemerintahan Bung Karno dikorupsi oleh Soeharto Orde Baru.

Pembodohan, kebohongan, penggelapan, penipuan serta korupsi sejarah yang berlangsung terus menerus siang-malam terus dicekokkan kepada anak bangsa selama puluhan tahun oleh Rezim Orba. Ini sesuai dengan prinsip gaya Hitler yang pernah mengajarkan “Katakanlah kebohongan itu terus-menerus, lama kelamaan akan diterima sebagai kebenaran.”

Bagian awal buku menceritakan tentang latar belakang atau biografi singkat dari Soekarno dan Soeharto, dua tokoh yang pernah menjadi pemimpin Indonesia. Darimana mereka lahir, bagaimana latar belakang kehidupan keduanya.

Tapi bagian inti daripada buku ini, dari yang saya rasakan sebagai pembaca, adalah hubungan antara Soekarno dan Soeharto, terlebih pasca Gerakan 30 September. Buku ini memperlihatkan beban, beban yang sangat berat, yang harus ditanggung oleh Sang Proklamator karena harus dikucilkan dan diperlakukan begitu kejam oleh The Smiling General.

Yang dikorupsi oleh Soeharto tidak hanya uang, tidak hanya harta, tetapi sejarah. Sejarah dikorupsi olehnya.

Menurut KBBI online, Korupsi diartikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain; dalam hal ini, penyelewengan yang dilakukan oleh Soeharto, salah satunya adalah penyelewengan kekuasaan.

Melalui Supersemar, Soeharto pada 12 Maret 1966 tindakan pertama yang dilakukan atas nama Supersemar adalah pembubaran PKI. Suatu tindakan yang diluar kekuasaannya, karena Supersemar bukanlah transfer of authority dari Presiden Soekarno kepada Menpangad Letjen Soeharto melainkan hanya merupakan surat perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Juga perintah untuk menajalankan ajaran-ajarannya.

Karena itu Presiden Soekarno kemudian mengkoreksinya, dengan cara menegeluarkan Surat Perintah 13 Maret 1966 yang berisi :

  1. Mengingatkan bahwa Supersemar itu sifatnya teknis-administratif, bukan politis. Surat keamanan itu mengenai tugas-tugas bagi rakyat dan pemerintah.
  2. Bahwa Jendral Soeharto tidak diperkenankan untuk melampaui bidang dan tanggungjawabnya, sebab bidang politik adalah wewenang langsung Presiden. Pembubaran suatu partai politik adalah hak Presiden semata-mata.
  3. Jendral Soeharto diminta datang menghadap di istana untuk memberikan laporannya.

Ketika dibacakan oleh Chaerul Saleh yang menjabat sebagai Waperdam III, jawabannya adalah pengamanan terhadap 15 orang menteri Kabinet Dwikora yang diindikasikan sebagai “antek” PKI.

Melalui korupsi sejarah kekuasaan dapat terpegang di tangannya. Dan selanjutnya, dengan kekuasaan yang ada, dengan leluasa dapat dilakukan korupsi berikutnya, yakni korupsi harta milik rakyat, milik negara, lewat pembentukan jaringan kroni, sehingga kita mengenal apa yang disebut KKN : Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Ketiga-tiganya hanya mungkin dapat terjadi bila dipayungi oleh kekuasaan. Bila dibandingkan meskipun sama-sama berbentuk korupsi, namun korupsi sejarah sebenarnya jauh lebih jahat daripada sekedar korupsi harta. Dalam tindak korupsi harta, pelakukanya masih termasuk maling (tapi kelas kakap) dan ini menyangkut urusan perut serta keserakahan belaka. Korupsi harta milik negara dan milik rakyat dapat mengakibatkan banyak orang yang menjadi korban akibat pemiskinan massal dan kesenjangan serta ketidakadilan sosial.

Sementara itu korupsi sejarah bukan hanya dapat menimbulkan banyak orang terlantar karena kehilangan pekerjaan, kehilangan hak-hak perdatanya, yang tidak bersalah dituduh bersalah dan dikucilkan di tengah masyarakat, bahkan harus masuk penjara tanpa pernah mengalami proses pemeriksaan atau pengadilan. Korupsi sejarah yang dilakukan Soeharto, adalah penyelewengan, pemelintiran atas fakta-fakta sejarah, yang dilakukan untuk meluluh-lantakkan pengaruh Soekarno, dan tentu saja, memperkuat cengkraman kekuasannya.

Soekarno dikerdilkan, terutama perannya dalam membangun negara. Foto otentik Soekarno berdiri tegak menghormati Bendera Sang Merah Putih di samping Hatta pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 pun oleh Nugroho Notosusanto telah dimanipulasi sehingga foto itu tidak terlihat. Desoekarnoisasi juga terus terjadi terhadap pidato-pidato Soekarno yang dilarang untuk dipublikasikan. Meunrut hasil penelitian Dr. Asvi Warman Adam, sejak 30 September 1965 sampai dengan Februari 1967, dia masih sempat berpidato lebih dari 100 kali namun tidak boleh diliput pers, apalagi dipublikasikan ke media massa. Bahkan pada Juni 1970 Kapkomkamtib melarang peringatan Hari Lahir Pancasila, Nugroho Notosusanto menegaskan, bukan Soekarno yang pertama kali mengungkapkan Pancasila.

Bung Karno diadili secara sepihak, melalui pencitraan-pencitraan buruk, melalui penghilangan jasa-jasanya sebagai seorang proklamator, Rakyat bahkan dilarang memasang gambarnya, karena bisa dicuragai sebagai pemeberontak. Sebagai ilustrasi, pada 1989 ketika Nelson Mandela berkunjung ke Museum Asia-Afrika, Mandela kesulitan untuk menemukan foto Soekarno pada waktu itu. Yang dia temukan gambar-gambar Soenario, Ali Sastroamidjojo dan Ruslan Abdulgani. Mereka memang orang-orang yang terlibat atas penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika, tetapi kenapa Soekarno sendiri, si pemilik gagasan persatuan bangsa Asia dan Afrika lewat konferensi tersebut malah tidak ada ?

Mandela kemudian bertanya : Where is the picture of Soekarno. Every leaders from Asia-Africa came to Bandung because of Soekarno. Where is his picture?”

Ini mungkin sepele karena masalah foto, tetapi maknanya lebih dari itu, dengan tidak ada foto Soekarno, maka Soekarno dianggap tidak memiliki kontribusi di dalam penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika. Suatu penipuan dan penggelapan sejarah yang sangat brutal yang dilakukan rezim Orde Baru dalam rangka desoekarnoisasi.

Ini baru yang dilakukan kepada Soekarno, belum lagi perlakuan yang diterima oleh mereka yang pro-Soekarno dan yang dituduh simpatisan/anggota PKI. Mereka dibantai, atau istilah halusnya, “diamankan”. Jutaan rakyat yang dituduh sebagai bagian dari Gerakan 30 September, yang padahal mereka sama sekali tidak mengetahui soal gerakan itu, mereka dibuang, mendapatkan predikat tapol ke dalam penjara lokal, penjara khusus wanita di Bukitduri dan Plantungan, pengasingan di Nusakambangan, dan belum lagi mereka yang dibuang ke Pulau Buru. Mereka yang berada di luar negeri ini pun banyak yang tidak bisa pulang dan jadi orang klayaban. Banyak yang ditangkap, tidak sedikit pula yang dibunuh, tanpa pengadilan, hanya penghakiman.

Dan dari korupsi sejarah inilah, Orde Baru melanggengkan kekuasannya.

Buku ini adalah buku yang cukup menarik untuk dibaca, terutama jika anda ingin mengetahui soal apa yang terjadi antara Soekarno dan Soehartot, ada penekanan khusus pada tahun-tahun 1965-1967, ketika terjadi awal desoekarnoisasi, dan upaya-upaya untuk melemahkan Soekarno, hingga akhirnya dia harus “diasingkan” oleh bangsanya sendiri, oleh Soeharto.

It was a fun book to read, tetapi saya pikir buku ini cukup luwes, dan enak dibaca sebagai pengantar tentang bagaimana treatment yang diberikan oleh Smiling General kepada Bung Karno. Untuk bacaan lanjutan terdapat di bagian akhir buku, sehingga pembaca yang ingin mengetahui soal perkara ini lebih lanjut, dapat mencari tau lebih jauh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s