Aku Gabisa Hidup Tanpa Kamu.

Judul di atas terdengar klise. Bahkan samasekali bullshit. Jijik. Cringe. Illfeel. Dan lain sebagainya. Seringkali kalimat diatas terdengar ketika seseorang sedang merayu kekasihnya, atau bahkan mantan kekasihnya. Umumnya loh ya, bukan berarti tidak ada kemungkinan seseorang dapat mengucapkan kalimat ini kepada orangtuanya, hewan peliharaannya, atau bahkan mainannya sekaligus.

“Oh, [masukkan nama disini], kekasihku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Dan seminggu kemudian mereka putus. Lantaran beda keyakinan. Yang satu sudah yakin, yang satu masih ragu. Terus kandas. Mampus.

Atau tiba-tiba diambil, entah diambil orang atau diambil Maut.

Kandas lagi. Mampuslah.

Begini, saudara-saudaraku sekalian. Ini bukan perkara aku gabisa hidup tanpa kamu secara harfiah. Tentu, kalau aku tak bisa hidup tanpa kamu, ketika lepas tali udel ku, aku mesti udah keburu mampus duluan. Karena mungkin, kekasihmu bahkan sama sekali belum lahir ketika kamu keluar dari rahim ibumu. Bahkan bisa jadi, sperma bapaknya belum lari ke rahim ibunya.

(Oh, untuk meredakan rasa jijik penulis kepada diri penulis sendiri, akan kuganti “kamu” dalam kalimat “aku gabisa hidup tanpa kamu,” dengan “kekasih”, lebih enak dibaca, setidaknya menurutku)

Anywayyyy….

Balik lagi, aku gabisa hidup tanpa kekasih bukan seringkali diartikan sebagai gombalan-gombalan manis yang berakhir asem, pahit, atau ya, apapun lah rasa yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan ketika dengar kabar bahwa orang yang kau sebut kekasih tiba-tiba meninggal, misalnya -atau yang lebih ekstrem, menikah. Dengan orang lain.

Loh, kenapa menikah lebih ekstrem daripada meninggal ?

Seenggaknya, ketika kekasihmu meninggal, maka akan cukup disitu. Sudah. Dia terbaring di ranjang terakhirnya, beralaskan dan beratap tanah. Cukup disitu. Kalau pun engkau rindu, dia tak akan kemana-mana. Kalaupun kau rindu, kau bisa mengunjunginya, menabur bunga, serta mengirim doa, kapan saja. Tengah malam jika kau nekat pun, kau bisa, sebab cuman kuburan yang buka 24 jam sehari 7 hari seminggu, 12 bulan setahun.

Coba kau bayangkan dia menikah, menikmati hidupnya bersama orang lain yang bukan dirimu, melihat dia jepret sana-sini dengan orang lain. Sedang kamu cuman bisa meringis sambil nyanyi Harusnya Aku dari Armada. Belum lagi kalau dia sudah beranak, bisa-bisa feed sosial media miliknya akan penuh dengan bayinya.

Bayi yang bukan hasil dari hubunganmu dengan dia.

Bayi yang lahir dari dia dan ikatannya dengan orang lain.

Mampus kau dikoyak-koyak kebahagiaan dia dan orang lain!

HAHA.

Eh bung, hidup ini perkara rasa, tahu. Apapun itulah. Sedih. Nyesek. Seneng. Bahagia. Gondok. Benci. Dendam. Dan emosi-emosi yang lainnya. Serta emosi-emosi yang hanya bisa dirasa, tanpa sempat punya nama.

(Maafkanlah bahasa yang tidak bisa akurat menjelaskanmu, oh perasaan.)

Balik lagi, ketika seorang berkata “Aku tidak bisa hidup tanpa kekasih,” nggak dimaknain sebagai sesuatu yang harfiah, tapi lebih kepada makna, kepada perasaan.

Ayolah, kuyakin kita semua pernah, -setidaknya- merasakan kehilangan.

Ketika kamu kehilangan, ketika menjalani hari-hari tanpa kekasih, kita seakan-akan merasakan sedikit, apa ya, depresi mungkin ?

Yah pokoknya, kayak kehilangan semangat hiduplah.

Ya memang, secara badaniah, secara jasmani, kita masih hidup. 5 indra yang kita gunakan masih berfungsi sebagaimana mestinya.

Lidah masih mengecap. Pun kulit masih bisa merasakan sentuhan. Mata masih melihat. Kuping masih mendengar. Hidung masih bisa ngendusin.

Tapi perasaan, rasanya sangat hampa, kosong, null, void. Dalam kasus ekstrem, kekosongan ini bahkan bisa membuat orang mengakhiri hidupnya. Menghampiri ketiadaan dalam rasa hampa.

Perasaan inilah yang disebut “hidup”. Kita seringkali mendengar, atau menyimpulkan bahwa “hidup” atau “kehidupan” adalah sesuatu yang berisikan hal-hal yang menyenangkan, penuh cinta, petualangan, perjuangan, penuh dengan nilai-nilai romantisme, penuh gairah, pokoknya asyik-asyik deh.

Dalam hubungannya dengan kamu, kekasih, kutemukan banyak hal – jika bukan semuanya, di dalam dirimu. Semua waktu yang kita habiskan bersama, ketika bertatap langsung, ketika bersua lewat videocall, bertukar surat, tulis maupun elektrik, atau bahkan hanya sesimpel melihat dirimu dari jauh.

Ah, life was good, and it was full of bliss, with you.

Tapi kadang itu semua langsung sirna, ketika menyadari, kekasih tidak bisa lagi kita jumpai. Tidak bisa lagi kita menyetuhnya.

Dan dari situlah.

Perasaan “Aku tidak bisa hidup tanpa kekasih.”

Mulai meringsek masuk ke dalam kalbu.

Dan dari situlah,

Aku sadar,

Hidup nggak cuman sekadar makan, minum, bernafas, tidur, dan ngising.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s