Zen Flesh, Zen Bones

3422754
Zen Flesh, Zen Bones.

Zen Flesh, Zen Bones : A collection of Zen and pre-Zen Writing.
Paul Reps & Nyogen Senzaki (ed.)
Tuttle Publishing, 1998

Zen berasal dari China, dibawa oleh Bodhidharma, yang berasal dari India pada abad ke-6, dan dibawa ke timur menuju Jepang pada abad ke-12. Zen disebut sebagai “sebuah ajaran spesial tanpa kitab, lebih daripada kata-kata dan aksara, menunjuk pada esensi-pikiran manusia, meneropong ke dalam diri, menuju pencerahan.” (p.17)

Zen dikenal di China sebagai Ch’an. Para guru Ch’an, atau Zen, tidak memposisikan diri sebagai pengikut Buddha, ketimbang itu, mereka mencoba untuk menjadi temannya dan juga memposisikan diri di dalam semesta sama seperti Buddha dan Yesus. Zen bukanlah suatu sekte, Zen adalah pengalaman. (p.18)

Zen memiliki banyak arti, yang mana seluruhnya tidak dapat menjadi definisi yang jelas. Jika mereka didefinisikan, mereka bukanlah Zen.

Zen Flesh, Zen Bones membawa diri ini ke dalam perjalanan batiniah-spiritual, melalui kisah-kisah para guru Zen, diri ini dibawa untuk melihat ke dalam, meskipun dalam beberapa kisah Zen terdengar begitu paradoks, bahkan tercampur-campur, setidaknya, kisah-kisah tersebut bisa menjadi hiburan. Zen Flesh, Zen Bones terdiri dari cerita dan koan tentang Zen.

Koan adalah semacam suatu anekdot yang bersifat paradoks, yang biasa digunakan di dalam Zen Buddhisme (atau Buddhisme Zen ?) untuk menujukkan kemiskinan logika dan nalar kita; serta untuk memancing pencerahan dalam diri seseorang secara transenden.

Dan memang, jika dilihat, dan beberapa kisah yang ada dalam buku ini terdengar sama sekali nonsense, bullcrap, omong kosong, dan sejenisnya.

Misal :

The True Path : “Sebelum Ninakawa meninggal, seorang master Zen Ikkyu menjenguknya, “Bolehkah aku yang memimpin?” Ikkyu bertanya.

Ninakawa lantas menjawab : “Aku datang kesini sendiri dan pergi sendiri. Bisa membantu apa dirimu ?”

Ikkyu menjawab : “Jika kau benar-benar berpikir bahwa kau datang dan pergi, itu adalah delusimu. Biarkan diriku menunjukkan jalan dimana tidak ada yang datang dan tidak ada yang pergi.”

Dengan kata-katanya, Ikkyu telah menunjukkan jalan dengan sangat gamblang, membuat Ninakawa tersenyum, lalu meninggal.

Jalan apa yang telah ditunjukkan oleh Ikkyu, sehingga Ninakawa bisa dengan mudah meninggalkan dunia ini ?

Tetapi selain itu, ada juga yang cukup jelas,

If You Love, Love Openly (Jika Kau Mencintai, Cintailah Secara Terbuka) : Dua puluh biksu dan satu biarawati, yang bernama Enshun, sedang bermeditasi dengan seorang guru Zen. Enshun adalah seorang yang berparas cantik meski botak dan berpakaian sederhana. Beberapa biksu diam-diam jatuh cinta kepadanya. Salah satu diantara mereka menulis surat cinta, meminta untuk bertemu berdua saja.

Enshin tidak membalas. Hari berikutnya, selesai Guru berceramah, Eshun berdiri. Menunjuk kepada biksu yang sudah menulis surat kepadanya, dia berkata : “Jika memang kau mencintaiku, datanglah dan peluk diriku.”

Memang barangkali, ketika kamu mecintai seseorang, lebih baik diekspresikan secara langsung.

Ada juga yang cukup mengharukan,

The Stingy Artist : Gesen adalah seorang biksu seniman. Sebelum dia memulai menggambar atau melukis, dia selalu minta pembayaran di awal, dan dia mematok tarif yang tinggi. Dia dikenal sebagai “seniman yang pelit” (stingy artist)

Seorang geisha membayar dia untuk meulis dirinya. “Seberapa banyak kau dapat membayar?” tanya Gessen.

“Berapapun yang kau minta,” jawab geisha tersebut, “tetapi aku ingin kau melakukannya di hadapanku.”

Jadi pada suatu hari Gessen dipanggil geisha tersebut. Geisha tersebut sedang mengadakan pesta untuk para pelindung / tuannya.

Gessen mulai menggambar dengan baik. Ketika sudah selesai, Gessen meminta bayaran yang sangat tinggi.

Gessen menerima bayarannya. Lalu geisha menghadap tuannya dan berkata, “yang diinginkan seniman ini hanyalah uang. Lukisannya indah tetapi pikirannya kotor; uang telah menjadikannya demikian. Dengan pikiran seperti itu, karyanya tidak pantas untuk dipamerkan. Lukisannya hanya cocok untuk rok yang aku pakai.

Geisha lantas membuka roknya, dia pun meminta Gessan untuk melukis lagi di belakang roknya.

“Kau akan membayarku berapa?” Gessan bertanya.

“Berapapun yang kau minta,” dijawab.

Gessen menyebut harga yang mahal, melukis, dan lalu pergi.

Barulah ketahuan bahwa Gessen memiliki beberapa alasan untuk dia mematok harga yang sangat mahal :

Tempat tinggalnya sering dilanda kelaparan. Orang-orang kaya tidak mau membantu yang miskin. Gessen memiliki gudang rahasia, yang disana dia simpan beras, yang disiapkan untuk keadaan darurat.

Dari desanya menuju Kuil Nasional (National Shrine) kondisi jalannya sangatlah buruk, banyak pengelana menderita ketika melewati jalan itu. Gessen ingin membangun jalan yang lebih baik.

Gurunya meninggal tanpa sempat mewujudkan impiannya untuk membangun kuil, dan Gessen ingin membangun kuil, untuk gurunya.

Setelah Gessen telah menunaikan ketiga keinginannya ini, dia membuang seluruh peralatannya dan, pergi ke gunung, tidak pernah lagi melukis.

Dan ada juga, yang cukup menggelitik,

Soldiers of Humanity (Prajurit Kemanusiaan) : Suatu waktu sebuah divisi dari tentara Jepang terlibat dalam pertempuran, dan beberapa perwira merasa perlu untuk membangun markas di dalam kuil milik Gasan.

Gasan lalu mengatakan pada juru masaknya : “Biarkan para prajurit memakan apa yang biasa kita makan”

Ini membuat para prajurit marah, mereka terbiasa dilakukan berbeda. Ada seorang yang datang ke Gasan dan berkata “Kau pikir kami ini siapa? Kami adalah prajurit, mengorbankan nyawa kita untuk negara ini, kenapa kau memperlakukan kami dengan tidak pantas ?”

Gasan menjawab dengan tegas “Kau pikir kita ini siapa? Kita adalah prajurit kemanusiaan, bertujuan untuk menyelamatkan semua makhluk hidup.”

Lihat, jangan hanya memandang jabatan, lantas engkau merasa perlu diperlakukan beda.

Pencerahan, dalam Zen, hanya bisa didapat melalui pengalaman. Terkadang, bahkan untuk mencapai pencerahan terdengar sangat konyol. Dalam salah satu kisah di buku ini, seorang murid mendapatkan pencerahan ketika dia menjatuhkan gayung milik gurunya.

Ayolah, siapa yang kira bahwa seorang yang menjatuhkan gayung dapat secara tiba-tiba menjadi tercerahkan ?

(Jujur, sebelum menyelesaikan paragraf ini, tiba-tiba kuping saya pengang, pikiran saya tetiba skip, dan sekujur tubuh merinding, mungkinkah ini, pencerahan ?)

Tetapi dalam bagian ketiga buku ini, Bulls, yang ditulis oleh Kakuan dari China pada abad ke-12, digambarkan seorang yang berhasil menjinakkan banteng, diceritakan secara simbolis, penjinakkan tersebut, dalam 10 tahap, adalah jalan menuju pencerahan (satori).

Tentulah manusia adalah inspirators, diketahui dan tidak diketahui di dunia, mereka memiliki suatu pengalaman yang umum, tetapi khusus, biasa, tetapi tidak biasa, (common uncommon discovery), Tao melalui Laozi, Nirvana melalui Buddha, Yahweh melalui Musa, Bapa melalui Yesus, Allah dari Muhammad – semua berasal dari suatu pengalaman. Pengalaman yang transendental. (p.122)

Jadi, apa itu Zen ?

Coba saja jika kamu mau. Tapi Zen datang dari dirinya sendiri. Zen Sejati (true Zen) terlihat di dalam keseharian, kesadaran dalam bertindak. Lebih dari batas kesadaran apapun, Zen mengetuk pintu kedalam menuju tidak terbatas.

Seketika, pikiran menjadi bebas. Sungguh, Zen membebaskan ! Zen palsu merusak otak layaknya sebuah fiksi yang dibuat oleh pendeta dan para pedagang untuk menjajakan dagangan mereka.

Lihatlah (Zen) dengan cara begini, dari dalam keluar dan dari luar kedalam : KESADARAN dimana-mana, inklusif, melalui dirimu. Setelah itu kau bisa dengan sederhana hidup, tanpa kehilangan rasa takjub. (p. 211)

Salah satu jawaban, soal apa itu Zen :

Inayat Khan menceritakan sebuah kisah Hindu tentang seekor ikan yang bertana kepada ratu ikan : “Aku selalu dengar tentang lautan, tapi apa lautan itu ? Dimana lautan itu ?”

Sang ratu ikan pun menjawab : “Kau hidup, bergerak, dan tubuhmu berada di laut. Laut ada di dalam dirimu, dan tanpa dirimu. Kau berasal dari laut, dan kau akan berakhir dilautan. Laut mengelilingimu seperti dirimu sendiri.”

Jawaban lain :

Cari sendiri di dalam dirimu, Zen tidak dapat didefinisikan secara pasti. Zen adalah suatu pengalaman, bukan sekte, bukan pula aliran.

(Ini serius, di dalam halaman terakhir buku, nampaknya pengarang sengaja membiarkannya dalam keadaan kosong, agar pembaca bisa bebas menginterpretasikannya sendiri)

Untuk mencapai Zen, pengalaman adalah guru terbaik.


Tentu, buku ini sangat sulit dipahami jika memang pembaca ingin mengetahui apa itu Zen Buddhisme secara jelas, serta konteks historisnya. Jika memang itu yang dicari pembaca, buku ini bukanlah tempatnya, fokus buku ini adalah anekdot dan kisah-kisah dari para guru Zen terdahulu.

Kisah-kisah klasik Zen akan sulit dipahami pembaca, mungkin pembaca bisa mencari buku lain yang bisa memberikan keterangan atau kisah yang diambil intinya dari cerita Zen klasik, dan di kontekstualisasikan dengan zaman sekarang. Mungkin karena alasan inilah, sangat sulit untuk mencernanya, bahkan banyak dari ceritanya, terdengar seperti omong kosong. Itu mengapa di bagian awal tulisan ini mereka disebut koan.

Meski begitu, buku ini tetap suatu bacaan yang cukup menarik untuk disimak. Menurutku, Buku ini dapat dibaca dari bagian mana saja, tetapi khusus untuk bagian ketiga, Bulls, ada baiknya jika dibaca secara utuh, dari awal hingga akhir.

Tetapi jika kamu bertanya apa yang aku dapatkan ketika selesai membaca buku ini, jawabannya, tidak ada.

Karena barangkali, apa yang kupikir kuketahui, ternyata tidak benar-benar aku ketahui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s