Halah, Pancasila

“Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju, maju, ayo maju, maju
Ayo maju, maju!”

Siapa yang ingat penggalan bait di atas ? Yang mungkin sewaktu kita sekolah (atau mungkin sekarang sudah jadi PNS) seringkali dinyanyikan saban Senin, menjadi pengiring lagu Indonesia Raya yang biasanya dinyanyikan setelah pidato atau ceramah Pembina upacara.

(Tolong kalau urutan upacara salah, mohon maafkan saya, sudah lama sekali saya tidak ikut proses upacara, apalagi hari-hari khusus)

Garuda Pancasila, lagu wajib nasional yang dibuat oleh Sudharnoto, seorang seniman dari LEKRA, organisasi underbouw PKI. Cukup aneh juga ya, dimana lagu wajib nasional digubah oleh seorang yang berasal dari organisasi terlarang.

Tapi toh saya sedang tidak ingin membahas hal itu hari ini.

Hari ini, saya mau ngedumel saja.

Pancasila.

Panca berarti lima.

Sila berarti asas, atau prinsip.

Untuk penyegaran ingatan, mari kita baca dengan seksama.

Pancasila

  1. Ketuhanan yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

 

Pancasila adalah dasar, fondasi yang telah disepakati oleh para founding fathers untuk bangsa ini. Pancasila adalah pijakan untuk kita bertindak selama kita tinggal di bumi Indonesia, atau bahkan, dimanapun diri kita berada. Namun, dia juga adalah cita-cita. Lima azas atau prinsip di atas bukanlah prinsip sembarangan. Terjadi perdebatan panjang tentang bagaimana berdirinya negara ini, yang pada akhirnya, lahirlah Pancasila sebagai konsesi, lahirlah lima prinsip yang akan menjadi landasan terbang negara ini.

Hari ini, biarkanlah saya ingin ngedumel soal Pancasila dengan khidmat.

Pancasila ada, dia diucapkan, dipajang dimana-mana, ruang kantor, sekolah, tapi, apakah selama ini kita amalkan ?

Apakah kelima azas, kelima prinsip ini sudah tercermin, dalam keseharian?

Tidak melulu terbatas diucap cuap, dirapalkan bagai mantra saban Senin, nilai tersebut mesti dipelihara, dan diamalkan.

Satu, Ketuhanan yang Maha Esa, saya pikir ini ranahnya pribadi masing-masing, tidak perlu diumbar lah ya, saya tidak ingin berkomentar banyak soal ini.

Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Humanity. Kemanusiaan. Adil. Beradab.

Apakah poin tersebut sudah diamalkan – setidaknya, sejak dalam pikiran ? Saya sendiri sih pesimis dapat berlaku adil, sesempurna yang ada di dalam kepala. Tapi toh setidaknya, mari kita mencoba berlaku adil, jika tidak bisa sesempurna isi kepala, setidaknya ada nilai-nilai keadilan yang tinggal di dalam masyarakat, ikutilah itu. Serta adab, ini yang cukup susah, terutama di era digital, orang pun bisa seenaknya menjadi judgmental dan menghina, cukup dengan jempol yang menari-nari di kolom komentar. Sudah menghina, menghinanya lewat medsos, sungguh sangat tidak beradab.

Terus… yah itu, yang jadi penglihatan mata saya tiap hari, nggak tahu deh kalo yang nggak keliatan.

Tiga, Persatuan Indonesia.

Ini, ini yang seling digembar-gemborkan pasca pemilu kemarin. Persatuan Indonesia. Perdebatan demi perdebatan, yang seringkali tidak sehat, tidak berakal, tidak ada ujungnya seringkali saya lihat dalam berbagai kesempatan, nyata maupun maya. Perkara beda pilihan, ribut. Sama pilihan beda pandangan, ribut. Berantem. Gamau kenal lagi. Ahelah ampas. Bukan, bukan perkara menyederahanakan dan menyeragamkan pikiran yang aku mau tawarkan, tetapi, kedewasaan dalam menerima pandangan, terserah mau beda pandangan, hell, bahkan berdebat, tetapi setidaknya, sehabis itu marilah berangkulan. Tapi ini tidak. Ehehe.

Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. Entah, untuk poin ini, saya lebih melihat ini adalah pikulan tanggung jawab yang lebih diberatkan kepada para pemangku jabatan, para pemangku kekuasaan. Mereka harus bijaksana dalam memimpin negara, bukan hanya mengeluarkan kebijakan, tanpa dilandasi kebijaksanaan. Rakyat mengamanahkan padamu untuk menjadi wakilnya, dimohon kebijaksanaannya agar dapat melihat dan merasakan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh rakyat. Jangan malah kau menggunakan instrument kekuasaan untuk membebankan dan menindas rakyat. Tolong. Tapi tentu, sebagai rakyat, kita juga punya tanggungjawab.

Lima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lagi-lagi keadilan. Kata “keadilan” dicantumkan hingga dua kali di dalam Pancasila. Begitu pentingnya keadilan hingga harus dicantumkan di dalam dasar negara ini. Betapa pentingnya keadilan, yang seringkali overlooked, apalagi ketika kita bersebrangan.

Dimana letak keadilan ketika masih memandang golongan ? Seringkali kita menghakimi orang hanya karena, orang tersebut berbeda, apapun bentuk perbedaannya, fisik, kelamin, golongan, partai, tongkrongan, bubur diaduk dan tidak diaduk. Apa ? Apa bentuk keadilan yang kita bangun agar bisa adil, secara sosial, untuk seluruh rakyat Indonesia ? Untuk tetangga kanan-kirimu, untuk orang-orang di sekelilingmu, dan untuk makhluk hidup yang ada di sekitarmu? Karena, dunia tidak hanya ditinggali manusia saja.

Tapi, selain itu semua, saya melihat bahwa di dalam semua prinsip, di dalam semua butir pancasila terdapat kesinambungan yang mesra antara satu sama lain, baik dari 1-2-3-4-5, atau dari 5-4-3-2-1, sekalipun diacak, juga masih mashook.

Ketuhanan Yang Maha Esa, kita ambil contoh gampang, kita dapat mengenal Tuhan dengan cara beragama, beragama pun punya nilai, ketika kita, manusia mengamalkan nilai-nilai yang ada di dalam agama, kita akan menjadi manusia. Agama mengajarkan kebajikan, mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan adab. Dengan begitu, dengan mengamalkan ajaran-ajaran agama, kita bisa menjadi manusia, yang adil dan beradab. (Bahkan, se- atheis-atheisnya seseorang, kuyakin mereka memiliki sesuatu yang dipercayai, nilai-nilai kebajikan yang mereka per-“tuhan”-kan.)

Tentu beragama saja tidak cukup, karena betapa banyak orang yang beragama tapi tidak mengamalkan ajaran-ajarannya. Wabil khusus adil dan beradab. Tanpa ada itu, tidak akan ada persatuan, tanpa rasa keadilan, masing-masing hanya akan mengerahkan egonya masing-masing. Tidak akan ada rasa sense of unity tanpa adanya keadilan.

Ketika ada persatuan, tentu diperlukan semacam garis koordinasi agar tidak terjadi chaos, disinilah peran sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam pemusyawaratan/perwakilan. Melalui kepemimpinan, atau setidak-tidaknya, melalui proses demokrasi, melalui proses musyawarah, kita dapat membentuk kepemimpinan, baik yang diambil dari rakyat, atau menggunakan proses musyawarah di dalam lingkungan kita.

Dan terakhir, melalui proses musyawarah, melalui demokrasi, kita dapat membangun suatu negara yang memberikan rasa keadilan kepada seluruh anggotanya, kepada seluruh rakyatnya. Tanpa ada proses-proses di atas, rasanya mustahil akan terbentuk suatu tatanan sosial yang adil. Tanpa prasyarat dan nilai-nilai tersebut, rasanya keadilan hanya omong kosong.

Selain sebagai prinsip, kupikir Pancasila juga merupakan cita-cita bangsa.

Tentu, tulisan ini mungkin terkesan terlalu menyederhanakan ide besar Pancasila. Karena saya sendiri, pun belum tentu seorang yang Pancasilais.

Mengamalkan nilai Pancasila untuk menjadi seorang Pancasilais.
Untuk dapat mengendarai sepeda, kau tentu harus mengendarai sepeda tersebut dulu bukan ?

Selamat hari lahir, Pancasila.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s