Menyambut Hari Raya dan Tahun Baru.

Barangkali, sebentar lagi akan santer terdengar larangan untuk mengucapkan Selamat Natal bagi ummat Muslim. Dan akan muncul juga tanggapan yang bilang, “Ah, itu kan cuman ucapan, mau diucapkan atau tidak, itu urusanku dengan Tuhan”.  Biasanya sih bakalan rame di dunia maya, di sosial-sosial media.Dan biasanya ini jadi ladang pertengkaran ibujari netijen.  Saya paling demen kalau hal-hal seperti ini terjadi, bisa panen meme di kolom komentar. Ehehe.

Sebenarnya, terserah kalian lah mau mengucapkan hal tersebut atau tidak. Urusan kalian masing-masing itu. Siapa saya mengatur-ngatur kalian, pemuka agama bukan, orang yang dipandang juga bukan. Barangkali yang baca tulisan saya ini pun bukan siapa-siapa saya. Kenal juga enggak.

Saya cuman butir-butir debu pasir, yang dengan mudah tersapu ombak di lautan.

Saya tidak bisa berkomentar banyak tentang hal ini, saya tidak mengerti hukum-hukum yang mengatur partisipasi kita dalam merayakan hari raya ummat beragama lain. Baik secara ucapan, tindakan, maupun di dalam pikiran. Takut-takut salah, nanti malah jadi target kafir-kafiran massal dan (amit-amit) dipersekusi.

Tapi, izinkan saya menuangkan pandangan saya kali ini.

Hari raya biasanya identik dengan hari libur, setidaknya di Indonesia.

Daripada mengucapkan selamat hari raya yang spesifik untuk suatu kaum, gimana kalau kita ambil yang lebih universal, yang pasti terjadi, yaitu liburan.

Di kalender-kalender, biasanya hari raya agama yang diakui secara administrasi di Indonesia, selalu dimerahkan. Yang artinya libur. Apalagi, biasanya liburan-liburan hari raya selalu dibarengi dengan diskon yang jor-joran dimana-mana.

Lagipula, bukankah agama seharusnya membahagiakan ? Bukankah agama salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan dengan jalan spiritual ?

Dan hari libur, tentunya membahagiakan, bukan?

Hari libur adalah suatu momentum untuk kita mengistirahatkan diri kita sejenak secara fisik, dan membeli barang diskonan adalah salah satu jalan untuk mencapai kebahagiaan materiil.

Nah, akhiratnya dapet, dunianya dapet.

Secara spiritual damai, secara material tercapai.

Insya Allah.

Nah, daripada ribut-ribut soal mengucapkan hari raya agama yang spesifik, kenapa nggak kita ucapkan, misal

“Selamat Hari Libur!”

atau

“Happy Holiday!”

dan sejenisnya, yang kira-kira tidak menyinggung suatu golongan tertentu.

Karena, apapun agamamu, apapun perkerjaanmu, apapun golonganmu,

Kita semua butuh liburan

Kecuali kamu budak korporat akut, yang masih disuruh masuk meskipun liburan.

Hidup hari raya! Hidup diskonan!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s