Puzzle – Teka – Teki

Hidup ini sebenarnya perkara memahami. Memahami hal-hal yang janggal. Memahami hal-hal yang baru. Memahami hal-hal yang ada di luar, atau bahkan di dalam diri sendiri.

Cuman terkadang, kita lebih suka menjadi figure yang judgmental. Jadi orang yang sok tahu dalam segala perkara. Ilmu cuman sampe C, tapi berani ngomong sampe Z.

Zaman sekarang, entahlah, tapi jika dapat diringkas, dapat diringkas menjadi di dalam kalimat berikut.

“Mendengar apa yang hanya mau didengar, melihat apa yang hanya mau dilihat.”

Ini didukung dengan algoritma-algoritma media informasi yang membuat mereka menjadi suatu “gelembung” yang terbang secara terpisah-pisah, persis ketika kita mencoba membuat gelembung dari sabun. Dengan menekan tombol “like, share, react” otomatis mengubah informasi yang masuk ke dalam feeds kita, membuat kita semakin betah di dalam “gelembung” informasi yang secara tidak langsung, kita buat sendiri.

Itu mungkin yang menjadikan kita sekarang keras kepala, tidak mau melihat apa yang sebenarnya terjadi, tapi dipotong-potong, dinarasikan, agar kita melihat sesuai dengan apa yang kita ingin lihat. Yang kerapkali menghilangkan keseluruhan daripada apa yang sebenarnya terjadi.

Padahal, untuk memahami segala sesuatu, diperlukan berbagai macam sudut pandang.

Misal, untuk mengetahui suatu kejadian, katakanlah kecelakaan lalu lintas, perlu berbagai macam sudut pandang.

Dari pelaku, korban, saksi, bahkan jika aspal yang keangkat akibat kecelakaan bisa diajak bicara, perlulah kita bicarakan juga dengan aspal tersebut. Tidak dengan bahasa lisan, tetapi dengan alat-alat khusus yang bisa membuat mereka “bicara”.

Seringkali, yang seharusnya menjadi korban kecelakaan, malah jadi korban amuk massa. Hanya karena reaksi spontan daripada saksi-saksi yang ada di pinggiran, hanya karena (keseringan) sang korban terlihat lebih kaya daripada si pelaku. Atau bahkan kita tak berani melakukan sesuatu, hanya karena salah satu menggunakan atribut tertentu.

Anggaplah suatu kejadian itu seperti kita melihat puzzle. Kita harus mengumpulkan berbagai macam keping yang tercecer, untuk melihat suatu puzzle secara utuh. Tingkat kompleksitasnya pun beragam, ada yang terdiri dari beberapa, hingga puluhan, ratusan, bahkan ribuan keping.

Ah, tapi kalo begitu kan, jadi lama.”

Justru disitu.
Jangan dengan hanya melihat domba kita bisa simpulkan itu peternakan.
Jangan hanya ketika melihat pohon kita simpulkan itu gambar hutan.

Justru, dari situ kita bisa melihat betapa tidak tahunya kita atas segala sesuatu.
Justru dengan menyusun gambar secara utuh kita bisa bertindak tanpa ragu.

“Tapi gimana, gua juga gabisa diam kalo gua tahu ada sesuatu.”

Yah, sesuaikan tingkah laku dirimu.
Jika kau seorang murid, jangan bertingkah layaknya guru.
Jika kau seorang tuan, jangan bertindak seperti seorang babu.

Pahamilah porsi dirimu.

Berlakulah sesuai dengan kapasitasmu.
Jangan perkara gengsi lu nantinya malu.

Kalo nggak tahu, jangan belagu!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s