The Sims dan segelintir kegelisahan hidup.

Belakangan, hidup saya dipenuhi kecemasan.

Tiba-tiba saja, beban yang dirasakan menjadi tambah berat, padahal mah bebannya di situ-situ aja.

Masih perkara penyelesaian masa studi di jurusan ter/di/lupakan.

Masih perkara mencari uang, padahal nggak ada yang buang.

Masih perkara berjuang, padahal belum tentu ada timbal balik.

Masih perkara hidup, padahal belum tentu umurnya panjang.

Masih buanyaaak lagi perkara yang bahkan saya sendiri malas menyebutkannya.

Demi mengatasi sedikit kegelisahan dan perasaan gusar yang cukup menganggu, saya beralih untuk bermain videogames. Setelah sedikit-sedikit mencicil beban-beban yang harus diselaikan.

Saya memilih The Sims.

Well, mungkin sedikit ironis ketika saya memutuskan untuk bermain game yang mengatur-atur kehidupan, ketika kau mencoba untuk kabur mengistirahatkan diri dari kehidupan pribadi.

Saya pikir, game The Sims sudah cukup terkenal untuk tidak saya ceritakan seperti apa gameplaynya.

Di dalam The Sims, terdapat status bar berupa hunger, hygiene, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat juga relationship status, serta berbagai macam bar yang menjelaskan dan menceritakan karakter yang sedang kamu mainkan.

ts4statusbar
Status Bar

Dan semua itu terkuantifikasi, ada angka-angka serta meteran yang ada di dalamnya, lalu diterjemahkan oleh system melalui User Interface agar kita bisa melihat progress karakter yang sedang kita mainkan.

ts4relationship
Relationship Bar

Dan ini banyak, tidak hanya misal, perkara tampan atau tidaknya karater tersebut, tetapi juga bagaimana tingkat keahlian karakter seperti yang digambarkan di dalam skill status. Ada kuantifikasinya, mulai dari 1-10, meski beberapa skill hanya memiliki 5 level untuk mencapai status capped.

ts4skillbar
Skill Bar

Dan semakin saya bermain, semakin saya dibuat cemas.

Mengapa begitu?

Di dalam The Sims, kita sebagai pemain, dapat dengan mudah memenuhi keinginan atau kebutuhan, atau pun berbuat seenak jidat, memaksa karakter yang kita mainkan untuk melakukan hal yang tidak disukainya. Dan jika ingin karakter bermain secara otomatis, tinggal ceklis opsi Allow Autonomous Action di dalam setting. Dengan begitu, karakter kita akan bermain otomatis sesuai dengan perintah AI. Kita tinggal nonton saja.

Darimana asal kecemasan saya ?

Ya, dengan melihat status bar tadi, kita jadi mengetahui apa yang kurang dan belum terpenuhi di dalam diri karakter kita, dan kita bisa bertindak untuk memenuhinya.

Dan ini, yang membuat saya cemas.

Di dalam kehidupan nyata, berbeda dengan The Sims, pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan cara banyak sekali pertimbangan, dan acapkali, harus dihadapi dengan tantangan dan rintangan.

Agak lebay sih.

Bodo amat lah, namanya juga lagi dihadapi dengan kecemasan.

Tapi saya rasa begini, di dalam The Sims, jika karakter yang sudah kita buat kita andaikan sebagaimana diri kita sendiri, tentunya akan lebih mudah untuk memenuhi needs dan whims karakter. Mereka memiliki AI dan Status Bar agar lebih mudah untuk dipenuhi.

Barangkali, jika kita diberkati User Interface yang memudahkan kita untuk mengenali diri sendiri, hidup saya tidak akan secemas sekarang. Mungkin karena hidup ini tidak pernah jelas, manusia membuat berbagai macam system untuk sedikit memperjelas hidup yang tidak jelas. Sistem politik, ekonomi, pendidikan, atau apalah itu namanya, makin pusing saya kalau harus dipanjangin.

Belum lagi, feedback systemnya, dan ini bagi saya pribadi, adalah hal yang membuat videogames, atau permainan secara umumnya, begitu memikat hati dan otak.

Semuanya serba instan. Tuts-tuts keyboard, tombol mouse serta kontroler yang kamu tekan, semuanya memberikan respon instan di dalam game. Baik itu karakter yang bergerak, atau apapun progress, pasti ditampilkan. Dan itu terjadi secara real-time.

Kecuali komputer kamu spek kentang, dan masih lemot walau semua setting rata kiri.

Sedangkan dalam hidup, kita belum tahu apa yang kita sedang baca, lakukan, tonton, atau perkerjaan apapun itu, kita tidak langsung merasakan impactnya, ukurannya secara kuantitatif itu tidak ada. Mentok-mentok hanya bisa dirasakan, secara lahiriah atau batiniah.

Kita tidak mendapati pesan pop-up yang muncul di depan mata kita selesai membaca buku, dengan pesan, katakanlah “Reading Skill +1”, atau misal, selesai menyelesaikan ketikan skripsi, “Writing Skill +1,” atau “Your Thesis has been accepted by the professor,” sebelum kita memberikannya kepada dosen pembimbing, baik untuk dicoret-coret atau ditandatangani, atau contoh lagi “Your relationship with Fulan has become lovers.” Ketika sedang mencoba untuk menjalin hubungan dengan seseorang.

Tidak semua hal di dunia ini secara gamblang ada di depan mata kita.

Ah mungkin, karena sedang cemas, saya jadi mengeluh.

Bodo ah, namanya juga sedang feeling anxious.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s