(Jangan) Malu-malu Kucing

Biasanya, ada seekor kucing yang selalu mampir ke rumah kalau waktu jam makan malam. Kalau di jam-jam lain, dia biasa nongkrong di mushola, untuk alasan kemudahan penulisan kita beri dia nama Kumus.

Brother, may i have some LOOPS? Pake foto lain karena nggak ada foto si Kumus, ehehehe.

Nah, si Kumus ini, seringkali dateng ke rumah semenjak gua giat meletakkan dryfood di teras rumah, itung-itung berbagi rejeki dengan para kucing liar (yang bangsatnya, wadah tempat naro dryfood sama air selalu ilang, mungkin diambil orang iseng). Karena untuk melihara kucing, gua nggak bisa. Masih numpang sama orangtua, lagipula kedua saudara di rumah punya alergi. Di rumah, cuman gua dan ibu yang alhamdulillahnya gapunya alergi aneh-aneh, hanya adek-adek dan bokap punya kulit yang cukup sensitif.

Oke cukup mbacot tentang keluarga.

Balik lagi ke si Kumus ini, dia meski seorang jantan, kelakuannya nggak jantan-jantan amat, beraninya sama kucing yang lebih kecil dari dia, perangainya manis, seneng gusel-gusel ke kaki atau tangan, dan masang muka melas nan lucu. Kadang ngeselin.

Beberapa waktu lalu, lepas melaksanakan ibadah berjamaah di mushola, kucing ini udah nunggu di teras mushola, ngikutin gua pulang. Oh iya, kucing ini diberi nama Kumus karena sering nongkrong di mushola, Kumus adalah akronim dari KUcing MUShola. Memang beliau adalah kucing yang sholeh dan berakhlak mulia. Perangainya baik, dan tidak pernah berak sembarangan.

Tapi sayang, udah hampir seminggu dia tidak pernah mampir lagi. Gatau kemana, mungkin lagi cari pasangan, mungkin sudah mendekati musim kawin.

Tapi yang jelas, dari kucing itu, gua belajar satu hal.

Tentang ibadah.

Ya, ibadah.

Ibadah kepada Tuhan.

Mungkin, gua bukan seorang ustadz atau ahli agama yang tepat untuk membicarakan soal masalah ibadah dan peribadatan. Gua cuman seorang freelancer (baca:penggangguran dengan kerjaan sampingan) yang kadang suka overthinking terhadap sesuatu.

Dari overthinking inilah, gua mendapatkan semacam hidayah tentang ibadah, yang diberikan oleh Tuhan, melalui Kumus.

Begini, gua tersadar satu hal, bahwa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, untuk mencapai tujuan, kita harus menghampiri Tuhan, meminta bantuan-Nya, melalui ritus-ritus ibadah yang telah diajarkan di dalam agama masing-masing. Doa-doa yang kita panjatkan, ibadah yang kita jalankan, tentunya dengan usaha-usaha yang diperlukan untuk mencapai tujuan, semua untuk mengharapkan ridho-Nya, bantuan-Nya.

Lantas, apa hubungannya dengan si Kumus?

Ketika gua perhatiin gelagat si Kumus, kalau lagi minta makan, dia selalu mengeong, gusel-gusel di kaki, dan memasang muka manis. Kadang, meski sudah dikasih makan, Kumus tetap bertingkah kolokan. Kalau sudah begitu, dia biasanya mengajak main atau hanya sekedar pengen dielus-elus doang. Lepas keinginannya terpenuhi, dia pergi.

Brengsek kamu, Kumus!

Terus-terus, apa hubungannya ?

Ibarat gini bung, anggaplah kita seorang kucing yang sedang meminta kepada manusia. Sebagai seekor kucing, tentu kita harus merayu “Tuhan”, dengan cara-cara yang dilakukan si Kumus tadi.

Cuman bedanya,

Manusia melakukan sholat (bagi yang memeluk agama Islam), tidak gusel-gusel ke kaki.
Manusia memanjatkan doa, bukan mengeong.
Manusia melakukan seperangkat ibadah lainnya, bukan leyeh-leyeh nunjukkin perut setelah diberikan makan.
Manusia berbuat baik kepada sesamanya, tidak hanya nampang dengan wajah manis.
Dan seterusnya.

Dan berbeda dengan kebutuhan Kumus yang sifatnya sementara, keinginan dan kebutuhan manusia pasti tidak pernah ada habisnya.

Dapet A, pengen juga B, setelah dapet keduanya, mau nambah lagi.

Dan ini, gua pikir, sah-sah aja. Selama keinginan tersebut tidak bersifat destruktif dan merugikan. Berbeda dengan si Kumus yang sepertinya hanya ingin makan-main-dan punya tempat tinggal.

Manusia tidak boleh putus beribadah kepada Tuhan. Jangan seperti si Kumus, datang ketika hanya ada maunya saja. Teruslah beribadah, sesuai dengan koridor-koridor yang telah disediakan di dalam keyakinan yang kau percayai. Teruslah berbuat baik dengan sesama, sesama manusia, sesama makhluk hidup. Teruslah “merayu” Tuhan, jangan malu-malu, jangan ragu, sehingga tiap nafasmu, tiap langkahmu, adalah proses yang diridhoi oleh-Nya!

“Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s