Dibohongin itu pedih, Jenderal!

Sore ini, gawai yang kuletakkan di atas paha dibawah pusarku  bergetara berapa kali. Ada notifikasi masuk, dari sekian grup yang aku masuk di dalamnya, masuk pesan ajakan (heh, bahkan beberapa terdengar seperti paksaan) untuk nonton bareng Film G30S/PKI di salah satu stasiun televisi swasta. Karena lagi nongkrong bareng kawan-kawan lama, aku memutuskan untuk mengindahkan saja ajakan tersebut.

Pernah dulu 2 kali menonton, yang saya tangkap dari film ini adalah : membosankan, durasi  filmnya terlalu panjang , dan juga terdapat banyak terdapat adegan kekerasan yang mungkin sang Iblis sendiri ketakutan. Dan gimana ya,  sejauh yang saya tahu, terutama dalam kasus subuh 1 Oktober, film ini terkesan “berat sebelah”. Pokoknya, nggak asik banget lah ini film. Bahkan film ini sempat menjadi tontonan “wajib” di zaman ketika Smiling General berkuasa, biasanya diputar di malam 30 September.

Film yang berjudul lengkap Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI ini dibuat pada tahun 1984 dengan Arifin C. Noer sebagai sutradara, dan disponsori oleh Soeharto dengan anggaran sebesar Rp. 800 juta, sebuah budget yang sangat fantastis pada masa itu.  Dari dana sponsor yang sangat buanyaak ini, dan siapa yang mensponsorinya, dan tidak ditayangkan untuk kepentingan komersil, mengingat pada waktu itu disiarkan secara gratis di stasiun teve, saya pikir film ini adalah bagian daripada propaganda Mbah Harto, yang berhasil “menyihir” rakyat.

Sebelum mengulas lebih dalam, ada baiknya kita definisikan apa itu propaganda.

Menurut KBBI, propaganda adalah penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu.

Sampe sini clear ya? Sudah satu frekuensi ya kita semua?

Menurut Michael Sturner “Di negeri yang tanpa sejarah, masa depan dikuasai oleh mereka yang menguasai isi ingatan, yang merumuskan konsep dan menafsirkan masa lalu.” Dan mereka itu adalah tak lain daripada orang-orang yang meneguhkan kekuasaan. Para pemegang kekuasaan dalam rangka mempertanggungjawabkan legitimasi dan manifestasi kekuasaan mereka tentu akan melakukan “penguasaan ingatan kolektif.” Tidaklah aneh bila dimana-mana, penguasaan terhadap gambaran masa lampau dijadikan sebagai pembenaran sistem yang dipakai sekarang.[1]

Agaknya, film ini adalah suatu upaya untuk mencekoki orang-orang, terutama mereka yang hidup di zaman Orde Baru untuk membenci PKI, karena kita semua tahu, bahwa Smiling General itu sangat benci dengan orang-orang Komunis. Dan Soeharto membutuhkan semacam legitimasi dan propaganda agar kebencian tersebut tetap terpelihara.

Faktanya, para Jenderal tidak disiksa dan disilet-silet hingga disunat sampe putus seperti yang digambarkan di dalam film. Ben Anderson di dalam artikel yang berjudul How Did The Generals Die?[2] Menuliskan tentang laporan forensik berikut ini :

  1. S. Parman suffered five gunshot wounds, including two fatal ones to the head; and, in addition, “lacerations and bone- fractures to the head, the jaw, and the lower left leg, each the result of a heavy dull trauma.” We have no way of knowing what caused these dull traumas–rifle butts or the walls and floor of the well–but they are clearly not “torture” wounds, nor could they have been inflicted by razors or penknives.
  2. Soeprapto died of eleven gunshot wounds in various parts of his body. Other wounds consisted of six lacerations and fractured bones caused by dull traumas around the head and face; one caused by a dull trauma on the right calf; wounds and fractured bones “resulting from a very severe, dull trauma in the lumbar region and on the upper right thigh”; and three cuts, which, to judge from their size and depth, may have been caused by bayonets. Again “dull trauma” indicates collision with large, irregularly shaped hard objects (rifle butts or well stones) rather than razors or knives.
  3. Sutojo suffered three gunshot wounds (including a fatal one to the head), while “the right hand and the cranium were crushed as a result of a heavy dull trauma.” Once again, the odd combination of right hand, cranium, and heavy dull trauma suggests rifle butts or well stones.
  4. Tendean died of four gunshot wounds. In addition, the experts found graze wound on the forehead and left hand, as well as “three gaping wounds resulting from dull traumas to the head.”

Singkatnya, penyebab kematian para Jenderal adalah luka yang diakibatkan oleh tembakan dan/atau trauma akibat benda tumpul seperti popor senapan atau ketika mereka dilempar ke dalam sumur. Artikel ini sempat membuat Mbah Harto marah-marah. Om Ben pun sempat dilarang masuk ke Indonesia.[3]

Menurut sejarahwan Asvi Warman Adam,  terdapat beberapa kelemahan historis, Peta Indonesia yang ada di dalam ruangan KOSTRAD memuat wilayah Timor-Timur, padahal waktu itu Timor-Timur belum terintegrasi ke dalam Indonesia. D.N. Aidit digambarkan di dalam film ini sebagai seorang perokok berat, tangannya tidak pernah lepas dari gulungan tembakau, padahal tidak. Mungkin dari sini, guyon “Ngerokok mulu lu, kayak Aidit” bermula~

Memang untuk mengadaptasikan suatu peristiwa ke dalam film tidaklah mudah. Apalagi suatu peristiwa sejarah, sebuah subjek yang sangat penuh dengan subjektivitas. Tapi rasanya kok tidak adil saja, ketika beberapa fakta sejarah yang ada dan saya sebutkan di atas tidak dihadirkan. Bahkan pembawaan film terkesan sangat melebih-lebihkan. Saya rasa, karena dibuat di zaman Orde Baru, yah film ini dibuat sesuai dengan kebutuhan dan semangat di zaman tersebut. Karena Orde Baru sangat takut dengan hantu-hantu komunis, makanya di dalam film ini para Komunis dibuat sangat biadab dan menakutkan.

Untuk kasus Indonesia pada masa Orde Baru, peran militer, terutama Angkatan Darat, sangat menonjol, mereka menjadi “pencetak” sejarah resmi yang kemudian menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah. Soeharto tentunya menyadari pentingnya pengendalian sejarah.

Menurut Gus Dur, “Komunisme itu sudah habis di Negara asalnya, bahkan sudah tidak laku. Kita boleh saja berjaga-jaga, tetapi jangan ketakutan berlebihan. Orang yang penakut itu pasti jiwanya kurang sempurna.”[4]

Tapi film, sebagai suatu bentuk propaganda, lebih diuntungkan ketimbang tulisan atau buku, karena bersifat audio-visual, film lebih mampu untuk “menanamkan” gambar-gambar dan suara bergerak ke dalam memori. Serta, film lebih mudah untuk disimak ketimbang buku, apalagi untuk mereka yang malas membaca.

Tentu, tulisan ini tidak mengurangi rasa berkabung saya kepada seluruh korban G30S dan kejadian-kejadian yang mengikuti setelahnya. Sejarah memiliki kemampuan untuk menumbuhkan rasa. Dewan Jendral atau PKI sekalipun, saya pikir tidak ada seorang pun yang pantas dibunuh, apalagi atas nama keamanan dan ketertiban.

Dibohongin itu pedih, Jenderal!

[1] Asvi Warman Adam, Pelurusan Sejarah Indonesia, Ombak, 2007, hal. 137

[2] http://wvi.antenna.nl/eng/ic/pki/anderson.html

[3] https://tirto.id/dicekal-masuk-indonesia-karena-cornell-paper-cE6A

[4]Jawa Pos, 22 April 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s