September – Noorca M. Massardi

Aku menemukan novel ini di suatu pusat perbelanjaan di selatan Jakarta, setelah mengudak-ngudak tumpukan buku satu persatu dengan telaten. Aku melihat novel ini, cukup tebal, dengan judul September.

“Sebuah bangsa telah terluka. Luka itu tidak akan pernah terlupakan dan tidak akan bisa terhapuskan untuk selama-lamanya…”

Itu yang tertulis di cover depan novelnya. Lantas, membaca kalimat itu, pikiran langsung mengkaitkan dengan sejarah kelam bangsa ini, yang terjadi pada 53 tahun silam.

Novel ini bercerita tentang tragedi tersebut. Mengambil latar belakang dari tragedi tersebut. Tapi nampaknya ia terjadi di suatu alternate universe, dan dengan ending yang berbeda. Barangkali, suatu pengandaian sejarah.

Novel September menceritakan tentang Darius, seorang pria paruh baya yang baru saja kena PHK akibat krisis yang terjadi di negaranya, di Republik. Perusahaan tempat dia berkerja divonis pailit. Darius pun memutuskan untuk mengadu nasib, meninggalkan keluarganya dirumah. Namun, seiring berjalannya cerita, yang Darius pertaruhkan  bukan hanya nasib dirinya dan keluarganya, tetapi juga masa depan negaranya.

Jujur, ketika awal membaca novel ini, saya sedikit kesulitan mengikuti jalan ceritanya, tokohnya lompat dari satu ke tokoh lainnya. Saya bahkan sempat men-drop untuk membaca novel ini, tapi pada akhirnya saya putuskan untuk lanjut membacanya, toh, sayang juga, sudah dibeli tapi tidak dibaca.

Penamaan tokoh serta badan-badan yang terlibat di dalam tragedy berdarah itu dirubah-rubah atau dibuat anagram oleh Noorca. Karena dia nyatakan sendiri novel ini, seratus persen fiksi.

Tapi jika tidak, maka akan terjadi banyak anakronisme di dalamnya, tapi anakronisme ini menjadi penting di dalam pembawaan narasi. Adanya telepon, internet, computer, dan media-media yang memang out of place, terutama jika mengambil latar belakang tahun ’65, itu menjadi penting di dalam pembawaan cerita. Untuk melawan propaganda yang dibuat oleh Angkatan Perang di bawah Pangkoscad Theo Rosa, Presiden Soekresno merekrut empat orang pemuda, yang berkerja di sebagai awak media, untuk men-counter propaganda Theo Rosa. Empat pemuda yang ditunjuk oleh Presiden Soekresno untuk membantunya melawan perang informasi Jendral Theo Rosa dan receh-recehnya.

Berdiskusi, melakukan berbagai macam spekulasi, bahkan sampai harus mempertahankan nyawa, mereka tahu, tugas yang diberikan oleh Presiden Soekresno bukan tugas main-main. Nasib sebuah bangsa sedang dipertaruhkan pada waktu itu. Beragam peristiwa yang terjadi, yang banyak berhubungan dengan fisik, serta pembantaian, disumbat dengan kuat oleh pihak Theo Rosa agar informasi jangan keluar sama sekali. Pokoknya, segala informasi, dipelintir sedemikian rupa oleh Angkatan Perang.

Saya pikir, cara Noorca membangun narasi cerita yang seakan-akan terpisah-pisah karena kemampuan khusus Darius selaku tokoh utama, untuk mengajak pembaca berpikir, bahwa sesuatu kejadian tidak bisa dilihat dalam satu perspektif saja. Ketika Darius merasuki jiwa Presiden Soekresno, ia bertindak layaknya seorang presiden, begitu pula ketika ia merasuki tokoh-tokoh lain yang ada di dalam novel ini. Karena tragedi September, untuk melihat gambaran utuhnya, masih susah, banyak serpihan-serpihan kejadian yang hilang di dalam salah satu puzzle besar sejarah Indonesia.

Dan, ketika membaca salah satu bagian hampir ending novel ini, perasaan sungguh lega sekali. Yang sangat patut untuk diberi applause! Ending yang ingin membuat saya berteriak “mampus lu anjing!” ketika saya membacanya.

Barangkali, apa yang terjadi di dalam Novel ini adalah suatu pengandaian jika G30/S yang diplesetkan menjadi Gestapul (Gerakan September Sepuluh) di dalam novel ini serta berbagai benang kusut yang menyusun dirinya diluruskan, dan apa yang sekiranya terjadi jika para aktor yang terlibat di dalamnya mengambil langkah-langkah lain daripada yang sudah terjadi di dalam sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s