Ulang Tahun dan Traktiran

Pagi ini baru bangun tidur. Kebetulan dua saudara sedang menginap di rumahku. Kebetulan pula hari ini adalah hari ulang tahunku. Tanpa basa-basi, bahkan tanpa mengucap selamat, dua bajingan itu sudah meminta untuk dibelikan makanan. Singkatnya, ditraktir.

Ya, ditraktir.

Belum selesai membuka kelopak mata pun sudah dipalak begituan. Siapa yang tidak kesal?

Apalagi belakangan ini memang kondisi keuangan lagi sulit akibat dollar turun.

Budaya “Traktiran” ngehe ketika seorang ulang tahun adalah absurd.

Ya saudara, absurd saya katakan. Bagaimana bisa, seseorang yang waktu hidupnya semakin sedikit karena bertambah usianya namun berkurang umurnya sempat-sempatnya dimintai traktiran. Dan itu tidak sedikit, bayangkan, jika kamu memiliki teman yang banyak, berapa uang yang harus kamu keluarkan meskipun cuman sekali dalam setahun.

Apalagi dulu, biasanya dikerjain, dilemparin tepung atau telor busuk, diiket di tiang, abis itu yang ngerjain kamu minta traktiran.

Naudzubillahimindzalik.

Bagaimana bisa, seseorang yang waktu hidupnya semakin sedikit karena bertambah usianya namun berkurang umurnya sempat-sempatnya dimintai traktiran.

Maaf, bukannya pelit, atau nggak mau bermodal dikit.

Karena emang ga ada modal.

Dulu, sempat saya tanyakan beberapa faction member waktu saya masih aktif bermain game online, ketika mereka berulang tahun. Seorang yang dari Singapura berkata kurang lebih seperti ini, “Kok seperti itu? Di tempatku, yang ulang tahun malah yang ditraktir / diberikan hadiah.”

Yang dari Malaysia, “Lho, harusnya kan kamu yang diberikan sesuatu, bukan diminta traktiran.”

Yang dari Philipina “Yah harusnya diucapkan saja, ga usah minta ditraktir. Putang ina mo gago.”

Padahal sama-sama dari Asia Tenggara, tapi kenapa budaya kami begitu berbeda?

Bahkan, yang dari Romania pun berkata, “Kalau memang mereka bersyukur atas umurmu yang semakin panjang, setidaknya memberikan hadiah berupa doa saja sudah cukup, kalau tak sempat untuk merayakannya.”

Sayang, jejak screenshotnya sudah tidak ada, Hard driveku rusak beberapa waktu lalu.

Tapi kurang lebih begitu, kira-kira bisa dilihat lah ya perbandingannya.

Lantas, aku merenung, apakah tradisi “Traktiran-ketika-ulang-tahun” ini sama dengan budaya Syukuran?

Ah tapi, rasa-rasanya, kalau dibandingkan soal syukuran, rasanya beda. Skalanya pun beda, meski waktu syukuran, tuan rumah yang menyediakan segalanya. Lagipula, tidak adil juga, kalau dibandingkan dengan syukuran apa, pindahan rumah misalnya, atau ketika pesta perkawinan, atau yang lain-lain lah.

Yah kalau bisa, saya harap kalian tidak lagi minta-minta traktiran ketika teman atau saudara atau kerabat sedang berulang tahun, seharusnya kalianlah yang membahagiakan mereka di hari kelahiran mereka, minimal ucapkanlah selamat, panjatkanlah doa buat dirinya, jika kamu memang belum bisa berbuat lebih untuknya.

Mungkin saja mereka bisa saja cengegesan, haha hihi ketika waktu mentraktir kalian, tapi selepas itu, menangisi nasib inventory dompetnya ketika hari ulang tahunnya berakhir.

Happy Birthday to me, yeay!

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s