Kepala, Mata, Hati

“Dari mata turun ke hati…”

Kata-kata tersebut sudah tidak asing di mata dan telinga orang-orang, acapkali mereka yang sedang merasakan jatuh cinta pasti pernah mengucap – atau paling tidak, mendengar hal tersebut.

Tapi buatku, kupikir lebih kompleks.

Sebelum kita dapat melihat seseorang menarik atau tidak, tentu kita memiliki standar-standar yang ada di dalam kepala.

Seseorang dapat dikatakan cantik atau menarik belum tentu sama menurutku atau menurutmu.

Tapi begini menurutku, aku pikir kita semua memiliki suatu standar yang ada di dalam suatu kepala ketika melihat seseorang sebelum dapat menyimpulkan mereka menarik di mata kita. Dan “standar” ini dibangun, beda dengan perasaan lapar dan haus yang sudah ada secara default di dalam diri kita, “standar” ini dibentuk, dibangun atas dasar pengalaman-pengalaman seseorang.

Pengalaman ini, lantas membentuk cara pandang individu ketika mereka tertarik kepada individu lainnya. Dan ini dapat dibentuk dari berbagai hal-hal yang pernah lewat di dalam kehidupan kita. Obrolan orang, media yang kita konsumsi, atau pengalaman pahit pribadi. Terutama di media, baik itu digital, elektronik, cetak, dan lain sebagainya. Iklan-iklan kosmetik yang selalu menampilkan model-model rupawan, acara-acara fashion yang menampilkan laki atau perempuan dengan tubuh yang menawan, meskipun tetap, meski dicekoki berbagai macam “standarisasi”, orang-orang memiliki pilihan mereka sendiri, cara pandang mereka sendiri.

Lalu, apa hubungannya dengan kutipan yang saya tulis di atas?

Begini, saya pikir, konstruksi tentang menarik atau tidaknya individu tersimpan di dalam kepala seseorang, lalu mereka melihat orang tersebut dengan mata, yang akhirnya menjadikan mereka jatuh hati kepadanya.

Jadi, dari kepala, mata, lalu hati.

Lantas, kenapa bisa seseorang jatuh hati, meski tak belum pernah melihat orang tersebut sama sekali?

Ini saya belum kepikiran, mungkin itulah cinta. Beda dengan ketertarikan yang memiliki sebab dan bisa dibentuk sedemikian rupa, kalau cinta bisa saja terjadi begitu saja. Nggak ada angin, gak ada hujan.

Cinta tidak perlu hal muluk-muluk, ini – itu, jika seorang sedang jatuh cinta, tidak ada lagi tawar-menawar.

Karena cinta harga mati.

08/09/2018
Di atas kasur, ga bisa tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s