Il Principe – Niccolo Machiavelli

Ketika berkeliling di sebuah toko buku, aku melihat satu eksemplar buku ini. Kuambil, lalu kulihat-lihat dengan seksama. Di cover depannya, bagian kiri bawah, terdapat tulisan.

“Buku Pedoman Para Diktator…”

Lalu saya lihat cover belakangnya. Dan saya pikir, ini bisa jadi benar adanya.

Setelah pulang, lekas kubaca buku ini.

Bukan main isinya, Machiavelli menuliskan tentang berbagai macam kekuasaan, dan cara-cara mempertahankannya, serta merebutnya. Meskipun kau harus mengotori tanganmu sendiri.

Machiavelli di dalam buku ini menuliskan berbagai macam ihwal kekuasaan. Terutama dalam hal mempertahankan meraih dan mempertahankan kekuasaan. Gaya penulisannya sangat jujur dan tegas.  Sebagai contoh :

“…Membunuh sahabat seperjuangan, mengkhianati teman-teman sendiri, tidak memiliki iman, tidak memiliki rasa kasihan, dan tidak memiliki agama; kesemua hal ini tidak dapat digolongkan sebagai tindakan yang bermoral, namun dapat memberikan kekuatan…”

Di dalam beberapa bab, Machiavelli juga menekankan bagaimana pentingnya memelihara keadaan tentara yang dimiliki oleh Sang Pangeran agar bagaimana caranya mereka tidak memberontak, serta mampu untuk mengambil simpati para rakyatnya, jika tidak dapat mengambil simpati, ia harus bisa ditakuti.

“…apakah lebih baik sang pangeran dicintai ataukah ditakuti, ataukah dia harus ditakuti lebih daripada dicintai. Jawabannya adalah ini, bahwa dia harus dicintai dan juga ditakuti, namun karena kedua hal ini sulit berjalan berdampingan, maka lebih aman apabila sang raja lebih ditakuti daripada dicintai..”

“… Manusa tidak segan-segan membela dia yang mereka takuti daripada mereka cintai karena rasa cinta diikat dengan rantai kewajiban, maka pada saat mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, rantai tersebut akan putus; namun rasa takut dipertahankan oleh hukuman-hukuman yang menakutkan yang tidak pernah gagal…”

Lepas membaca kalimat ini, saya mengingat sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh seorang sahabat saya.

 “Bung, apakah kau akan lebih giat jika kau berkerja di depan bedil yang menodong punggungmu, ataukah ketika kau mengingat orang terkasih yang kau simpan di dalam dompetmu ?”

Pertanyaan tersebut mengaktifkan memori yang terekam di otak saya, ketika bermain game Stronghold Crusader, jadi ketika meletakkan bangunan yang dapat menambah fear factor, para pekerja dan prajurit bawahanmu di dalam game tersebut akan lebih giat dan produktif. Mungkin benar juga, ketakutan dapat menjadi hal yang baik untuk mempertahankan kekuasaan.

Kenapa saya mengambil contoh dari videogame? Karena Alhamdulillah, saya tidak pernah berkerja dengan ketakutan.

Kalimat ini juga, saya jadi berpikir, mungkin yang menjadikan buku ini sebagai buku pedoman para diktator.

Cara apa saja, kalau untuk memuaskan hasrat dan ambisi, terutama untuk berkuasa, halal untuk ditempuh. Tipu muslihat dan kekejaman, kelicikan dan kepalsuan, mereka yang menggunakan cara-cara ini dapat dikatakan machiavellis. Bennito Mussolini, seorang diktator yang tersohor, dipengaruhi oleh buku ini.

Meski begitu, menurut Machiavelli, Sang Pangeran tidak boleh menjadi seorang yang lemah, ia harus kuat dan bijak. Dalam artian, seorang pangeran harus mampu menggunakan apapun alat-alat yang ada di dalam lingkup kekuasaannya untuk menjadikan dia seorang yang kuat dan dipandang kuat oleh yang lainnya, baik itu rakyat, tentara, ataupun Negara-negara tentangganya.

Overall, saya pikir buku ini menarik untuk dibaca untuk memahami bagaimana cara seorang diktator berkerja. Pembawaan bahasa yang begitu jujur dan lugas, meski Machiavelli mengambil banyak contoh daripada kondisi moral para penguasa  dengan apa adanya.

Jujur, saya tidak begitu familiar dengan mereka.

Eh, atau mungkin, buku ini bisa saja melahirkan diktator-diktator baru.

Amit-amit jabang bayi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s